Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
 
Tampilan desktop dengan desain website yang rapi, menggambarkan website bisnis yang sudah bebas dari lorem ipsum dummy text

Pernah nggak kamu buka website bisnis yang terlihat menarik... sampai matamu mendarat di bagian testimoni atau deskripsi layanan yang isinya malah: "Lorem ipsum dolor sit amet"?

Sejenak kamu mengernyit. "Ini website beneran? Kok kayak belum selesai?"

Kalau kamu merasa begitu, kamu nggak sendiri. Kenyataannya, masih banyak pemilik bisnis yang membiarkan dummy text tertinggal di websitenya—baik karena lupa, belum sempat, atau memang nggak tahu seberapa besar dampaknya.

Continue Reading...
 
Seorang blogger duduk dengan laptop dan tas kerja, menggambarkan aktivitas ngeblog dengan tema lorem ipsum

Pernah nggak sih, kamu lagi utak-atik template blog, atau mungkin download file desain, terus nemu teks aneh berbunyi, "Lorem ipsum dolor sit amet..."?

Awalnya kelihatan seperti mantra Latin kuno yang jatuh dari langit—dan jujur aja, kamu mungkin mikir, “Ini kalimat sakral atau jangan-jangan ada pesan rahasia?”

Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang—seperti Blogger pemula—pernah dibuat bingung sama teks ini. Padahal sebenarnya, arti lorem ipsum dolor sit amet itu... ya bukan mantra. Tapi teks dummy alias teks contoh yang udah dipakai ratusan tahun untuk satu alasan: biar desainnya kelihatan rapi tanpa harus mikirin isi.
Continue Reading...
 


Kalau kamu serius ingin memaksimalkan potensi Pinterest sebagai sumber free traffic untuk website, satu langkah wajib yang tidak boleh dilewatkan adalah klaim website.

Kamu mungkin sudah dengar istilah ini, tapi tahukah kamu mengapa klaim website di Pinterest itu penting dan bagaimana caranya yang benar?

Dalam artikel ini, kita akan bahas langkah demi langkah cara klaim website di Pinterest dengan metode verifikasi yang lengkap, termasuk dengan menambahkan rekaman TXT (TXT record). Plus, kita kupas juga keuntungan memiliki akun Pinterest bisnis yang wajib kamu tahu supaya klaim website berhasil dan memberikan dampak maksimal untuk traffic website kamu.

Continue Reading...
 


Pernah nggak sih, kamu merasa blog kamu sudah keren, tapi alamatnya masih panjang dan nggak enak dilihat? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak blogger pemula—bahkan yang udah cukup lama ngeblog—yang bingung gimana cara ganti domain blogspot ke .com biar lebih profesional. Nah, artikel ini bakal bantu kamu beresin itu dalam waktu kurang dari 5 menit. Serius.

Punya domain kustom seperti .com membuat blog kamu terlihat lebih profesional dan lebih mudah diingat pengunjung. Jika selama ini kamu masih ragu atau bingung bagaimana cara mengganti domain blogspot ke domain sendiri, panduan ini akan memberikan langkah praktis dan jelas supaya kamu bisa langsung melakukannya tanpa kebingungan.

Gambar pin Pinterest dengan tulisan Cara Mengganti Domain Blogspot Menjadi .com dalam 5 Menit dengan DomaiNesia, ditampilkan di atas latar meja kerja dengan laptop dan layar monitor
Klik gambar untuk menyimpan pin artikel ke Pinterest kamu


Daftar isi

Continue Reading...
 


Kalau kamu ingin blogmu terlihat lebih profesional, salah satu langkah penting yang bisa dilakukan adalah mengganti domain blogspot ke domain sendiri. Dengan cara mengganti domain blogspot ke domain sendiri, blogmu akan tampak lebih tepercaya dan punya kesan yang lebih serius.

Mengganti domain blogspot ke domain sendiri sebenarnya bukan hal yang sulit, apalagi kalau kamu sudah punya domain aktif dari penyedia tepercaya seperti Qwords. Dengan sedikit pengaturan, blog yang tadinya beralamat di blogspot.com bisa langsung berubah menjadi domain kustom yang lebih keren dan mudah diingat.

Di artikel ini, kamu bakal belajar cara ganti domain blogspot dengan langkah-langkah simpel yang bisa dilakukan bahkan tanpa pengalaman teknis. Nggak perlu takut pusing, karena prosesnya cukup singkat dan sudah banyak blogger lain yang berhasil melakukannya.

Gambar pin Pinterest dengan tulisan cara mengganti domain Blogspot dengan domain sendiri dari Qwords dalam 6 langkah simpel, ditampilkan di atas latar meja kerja dengan laptop dan layar monitor
Klik gambar untuk menyimpan pin artikel ke Pinterest kamu

Daftar isi

Continue Reading...
 



Jika kamu mendapat pertanyaan dari orang, “Jadi penulis blog itu rasanya gimana, sih?” atau "Jadi penulis blog itu ngapain aja?" 

Kamu akan jawab apa?

Tidak salah kalau kamu bilang nulis blog itu untuk menyampaikan pendapat dan memberikan informasi bagi pengunjung blog kamu.

Namun, menjadi penulis blog adalah lebih dari itu. Sebagai penulis blog, kamu pasti tahu itu. Coba dipikir-pikir lagi?

Continue Reading...
 
Yang punya kendaraan bermotor pasti paham kalau masa berlaku STNK adalah lima tahun. Setelah lima tahun, STNK harus ganti (sekaligus plat nomornya). Nah, ketika ganti STNK itulah bagi motor yang sudah berganti kepemilikan bisa sekaligus balik nama dari pemilik lama ke pemilik baru.

Mengurusnya bisa di Samsat Gresik, beralamat di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 680, Kembangan, Gresik, 61124. Di kantor Samsatnya ya, yang selalu rame itu, bukan di Samsat Drive Thru.

Panduan ini memang untuk motor, tapi untuk mobil sepengetahuanku hampir sama saja.

Syarat-syarat yang dibutuhkan untuk balik nama motor:
  1. KTP (asli dan fotokopi tiga kali). Biar nggak ribet, langsung fotokopi di tempat saja (ada koperasinya). Pegawainya sudah hapal kok apa syarat-syaratnya dan harus difotokopi berapa kali. Tinggal bilang saja mau balik nama.
  2. BPKB (asli dan fotokopi tiga kali).
  3. STNK (asli dan fotokopi tiga kali)
  4. Kuitansi bermaterai 

Langsung bawa motor ke parkiran bagian belakang

Nanti tukang parkirnya sendiri bakalan teriak-teriak langsung bawa ke belakang (saat itu ternyata lagi rame banget). Langsung parkir motornya di barisan "Cek Fisik Roda 2". Maaf lupa foto. Niatnya sih mau banyak foto tapi lupa (saking ribet dan lamanya proses).

Langsung menuju bagian koperasi. Bilang saja mau balik nama, nanti langsung diminta syarat-syaratnya untuk langsung difotokopi tiga kali.

Setelah itu diberi map kosongan warna biru kalau nggak salah. Sudah ada isinya kuitansi bermaterai.

Oh ya, jangan lupa bawa pulpen biar nggak usah beli. Untuk harga kesemuanya aku sudah lupa. Pokoknya nggak mahal lah. Jangan lupa isi identitas di bagian depan map, ya.

Setelah diisi, bawa map tersebut ke bagian loket "Cek Fisik"

Jangan lupa masukkan semua syarat-syarat asli dan fotokopi. Langsung taruh saja di depan loket untuk menunggu giliran dipanggil.
Loket 'Cek Fisik'
Continue Reading...
 

Sengaja menulis ini karena sudah gerah banget sama yang namanya tukang parkir, apalagi tukang parkir pinggir jalan. Sudah bukan rahasia lagi kalau parkir itu sering bawa masalah, terutama parkiran yang nggak pakai sistem loket.


Orang-orang teriak 'koruptor, koruptor'! pada wakil rakyat yang ketahuan korupsi. Bukannya masa bodoh ya, tapi kayaknya tindakan terhadap koruptor kelas teri kok kurang terdengar gaungnya, ya?

Jadi ceritanya, hari ini saya ngantar adik (laki-laki) ke Dispendukcapil Gresik untuk perekaman KTP-el (sengaja nyebut lokasi). Sebelum masuk gerbang, kami sudah diarahkan tukang parkir pinggir jalan untuk parkir disitu. Saya bilang ke adik, "Masuk aja. Ada kok parkiran di dalam", tapi ternyata lagi penuh dan kami diarahkan parkir di luar di pinggir jalan.

Ngemil manis dulu biar nggak esmosi

Continue Reading...
 

Sebenarnya ini sudah lama aku tulis sih. Iseng coba posting di blog lagi. Waktu lihat file di laptop, ada cerita ini yang belum sempat aku posting. Kejadian ini terjadi pada 7 Oktober 2015 (lama banget ya, aku aja heran).


*****


Baru saja aku selesai kelas Bahasa Mandarin di Rumah Bahasa, aku langsung meluncur ke bagian lain dari kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kebetulan sedang ada book fair disitu. 

Sebenarnya dua hari lalu sudah kesitu sih, tapi akhirnya kepingin kesitu lagi karena masih ada buku yang masih dibeli. Mumpung murah, hehe. Buku-buku yang kubeli rata-rata harganya 15.000, ada yang 12.000, malah ada yang 10.000. 

Kalau begitu yang ada rasanya kalap pengen ngeborong seluruh isi pameran. Biasanya kalau sudah kalap belanja, rasanya rada khilaf begitu. Akupun demikian. Yah, namanya juga cewek. Kalau belanja kan seneng, tapi kalau sudah kebanyakan belanja jadinya khilaf deh. Tapi berusaha biasa saja dan menghibur diri. Buku kan bisa jadi investasi sampai nanti tua.

Nah, inti ceritanya dimulai ketika aku keluar dari pintu exit ke tempat parkiran. Begitu turun meniti tangga, ada laki-laki yang menawarkan koran. Kelihatannya sih masih bisa dibilang mas-mas gitu lah ya. Yah, kalau baca koran sih mendingan pinjem aja daripada beli. Lagian, sudah lewat maghrib juga. Pastinya itu koran sisa pagi tadi. Aku menolak mas-mas itu dengan halus.

Ketika sudah duduk di atas motor, aku inget kalau belum menukarkan struk belanja dengan kupon undian. Aku balik lagi ke pintu masuk book fair. Setelah mengurus ini itu, aku balik lagi ke parkiran, duduk di atas motor sambil main hape. Setelah cukup, aku pasang masker, siap untuk pulang.

Nah, waktu itu si mas-mas datang lagi, nawarin koran. Sama seperti sebelumnya, aku menolak halus, namun aku masih disitu, belum bersiap untuk menegakkan motor. Mas-mas itu, tanpa berusaha untuk kelihatan pantas untuk dikasihani, berkata kalau koran yang dibawanya masih banyak. Benar juga, ya, padahal sudah semalam itu. Beberapa jam lagi sudah ganti hari dan pastinya korannya tidak laku.

Dibilang begitu, sontak hatiku terusik (heah, bahasanya bahasa novel amat). Aku bertanya, “Jawa Pos berapa Mas?”

“Empat ribu Mbak.”

Harga normalnya sih lima ribu, tapi karena sudah malam ya jadi dimurahin. Refleks aku ngulurin uang lima ribu sekalian.

“Sekalian lima ribu aja ya, Mas.”

“Alhamdulillah, barakallah, semoga berkah, Mbak.” Si Mas menerima uang dengan perasaan syukur yang kentara sekali.



Nyessss.... rasanya hati ini campur aduk, antara terharu, tersanjung, bahagia, dan entah apalagi. Dari tadi memang si mas perkataannya baik dan sopan. Kurang bisa merinci, namun diantaranya yaitu si Mas masih sempet-sempetnya ngingetin aku yang mungkin sedikit teledor di matanya. Mulai dari meletakkan hape sembarangan di pangkuan sampai dompet juga.

“Hapenya dibenerin dulu, Mbak, jangan ditaruh begitu, nanti jatuh.”

Sekitar dua kali beliau mengingatkan begitu. Aku yang sudah biasa begitu hanya cengengesan. Yah, mungkin menurutnya aku agak serampangan, menaruh hape dengan posisi yang rentan membuat hapenya jatuh.

Yang membuatku teringat pada beliau yaitu ekspresi bersyukurnya ketika menerima uang dariku. Aku nggak bisa lupa itu. Aku bisa merasakan kalau beliau orang yang tulus dari perkataannya yang sopan, tidak memaksa, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Aku yang belum tentu membeli korannya, dengan baik hatinya diperingatkan agar hati-hati memerlakukan hapeku, yang mungkin di matanya merupakan suatu benda yang mewah. 

Padahal hapeku itu, walaupun Android, termasuk agak jadul jika dibandingkan dengan punya teman-temanku. Yang lain punya hape keluaran terbaru, contoh saja samsul sampai apel, sementara hapeku sudah berumur dua tahun dan mulai penyakitan. Untuk dipakai selfie pun ga bagus, karena kamera depannya kurang bagus, tidak seperti punya teman-teman.

Sepeninggal si mas koran, refleks aku langsung nangis. Perasaanku campur aduk, sampai aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk ditulis disini. Beneran. 

Sampai di jalan raya pun aku masih nangis. Aku baru berpikir kenapa aku nggak kasih beliau uang sepuluh ribu saja, namun aku punya pertimbangan. Aku takut kalau beliau merasa tersinggung atau apa, namun setelah kupikir, tampaknya beliau bukan orang seperti itu. Uang seribu rupiah saja sangat disyukuri, apalagi enam ribu rupiah. 

Rasanya ingin ngajak ngomong si Mas sebenarnya, tapi takut mengganggu pekerjaannya. Beliau dikejar waktu untuk menghabiskan dagangannya yang terancam tak laku.

Aku masih ingat ketika aku bertanya, “Jualan dari pagi?”

“Iya, Mbak. Ya begini ini, kalau jualan kadang laku kadang nggak.”

“Jualan dimana aja, Mas?”

“Dimana-mana Mbak, ini dari tadi muter-muter.”

Ya Allah, speechless...
           
Aku mau sharing ini bukan karena berniat riya’ atau bagaimana, namun hanya ingin sharing pengalaman dan pelajaran hidup. Silahkan disimpulkan sendiri pelajaran dari peristiwa ini, karena aku terlalu speechless untuk merangkai kata inspirasi yang datang dari si mas penjual koran.
            
Right now, I am sitting here with the newspaper I bought from him. May Allah always lights his ways and gives a lot of His blessings every day.
           
Uang yang kukeluarkan hanya lima ribu rupiah, namun pelajaran yang didapatkan tak bisa diukur dengan uang. Kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, pernyataan itu tidak sebenuhnya benar. 

Buktinya, dengan mengeluarkan uang segitu, aku bisa bahagia, lebih dari bahagia karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Jadi dengan kata lain, aku telah membeli kebahagiaan itu, dengan uang pastinya.

Continue Reading...
Previous PostPostingan Lama Beranda