Rabu, 01 Maret 2017

Review: Mie Nelongso (Mojokerto)

Minggu, 19 Februari 2017, aku coba makan di Mie Nelongso yang ada di Kota Mojokerto. Awalnya kurang yakin sih, tapi karena adek 'maksa', jadinya mau-mau aja.

Tempatnya strategis, di daerah tengah kota. Banyak yang datang... yah serupa dengan kedai-kedai mie sejenis yang laris manis. Tempatnya juga luas, interiornya bagus, cuma.... tempatnya nggak no smoking

Memang sih, yang makan disitu nggak ada yang merokok, Cuma aku sempet nangkap satu orang yang merokok dekat pintu keluar. Bukan pintu keluar juga sih, karena sebenarnya tempatnya nggak punya pintu. Itu seperti toko di ruko biasa. Pintunya pakai rolling, jadi langsung terekspos ke udara luar tanpa ada pintu yang melindungi dari dunia luar.

Aku dari awal sudah merasa kurang yakin bukan tanpa sebab. Sebelum makan Mie Nelongso ini, aku sudah pernah nyobain dua merk mi pedas lain yang berbeda... dan rasanya seragam. Hal yang sama terulang lagi.
Seperti biasa, mi-mi jenis ini pedasnya punya level. Rasanya sih... ya begitulah. Rasanya sama dengan mi-mi pedas lain merk. Kalau saja nggak ada pedesnya, entah bagaimana rasa aslinya...

Maafkan nggak kefoto semuanya. Seharusnya ada dua buah pangsit yang nggak kefoto.

Sama kaya mie lainnya sih. Ada daun bawang, bawang goreng, ayam bubuk...



Dan yang bikin saya agak kecewa adalah makanan pendampingnya (atau lauk kali ya?). Kalau mie lain dikasih telur, daging ala-ala ham atau lauk lainnya, yang ini cuma dikasih empat buah pangsit yang terdiri dari dua macam bentuk. Pikir saya, ini mie kan sudah berminyak, ya... coba kalau dikasih lauk yang lain, jadi nggak berasa banget keringnya. Untung saja (untung!) ternyata dua diantara pangsit itu bukan benar-benar pangsit. Ternyata mereka itu semacam nugget ayam yang bentuknya kaya pangsit. Coba kalau bentuknya benar-benar seperti nugget ya, biar visualnya berasa lebih rame gitu...



Dari semua elemen, jujur hanya nugget ini yang kusuka
Untuk info, level empat itu udah puedes loh. Aku aja yang pecinta pedas lama banget habisnya. Anggep aja tiga puluh menit (hanya perkiraan) baru habis. Aku level empat ikut adekku aja, dia kan sudah pernah kesitu. Waktu aku tanya sebelumnya dia makan level berapa, katanya no level alias nggak pedes. Dzieng! Aku merasa surprised. Ternyata... Tadinya aku mau level dua aja. Aku kira waktu itu dia pesen level empat juga.

Untuk minumannya, saya sengaja nggak beli karena sudah bawa minum sendiri. Sudah kebiasaan dan untuk menghemat juga :P

Satu hal yang pasti disukai orang adalah adanya wi-fi. Memang sekarang hampir di tiap tempat makan ada wi-finya. Warung kopi saja ada kok...




Tidak ada komentar: