Rabu, 01 Maret 2017

Latepost: Tentang Pengobatan Gigi Keroposku

Yang ini juga cerita lama, aku buat tanggal 6 Desember 2015.

*****

Sebulan lebih yang lalu aku sempat merasa agak aneh dengan gigiku. Aku yang biasanya lebih enak mengunyah pake gigi sebelah kiri, tiba-tiba aja jadi kurang enak. Tapi ya sudah lah.
            
Tapi setelah itu terjadi hal yang lebih tidak enak. Ada gigi sebelah kiri yang tiba-tiba jadi sensitif. Kalau kena yang dingin atau panas gitu langsung ngilu. Ya sudah, aku pikir mungkin kapan-kapan aku bisa ganti pasta gigi untuk gigi sensitif.
            
Tapi kemudian jadi lebih parah lagi. Walau lagi nggak makan minum pun, rasanya jadi ngilu. Aku jadi curiga jangan-jangan aku lagi sakit gigi. Tapi masa, sih? Perasaan aku rajin gosok gigi deh, minimal dua kali sehari, termasuk sebelum tidur. Tapi kemudian aku iseng-iseng melongok si gigi. Setelah kulihat di cermin, ini mananya ya yang sakit? Ternyata, setelah pakai senter dari hape, ketahuan kalau gigi geraham kiri yang paling belakang ternyata bolong. Oh, God! Pantesan sakit. Gigiku bolong... berarti keropos, dong! Aku kira itu cuma mitos dokter gigi (nggak akan terjadi padaku maksudnya), ternyata... hmm... aku pikir itu cuma buat anak kecil yang suka makan manis-manis saja.
            
Bingung juga ini. Selain bingung giginya bakal diapain aja sama dokter gigi, juga bingung mikirin biayanya. Tapi setelah curhat sama mbak kos, dia nyaranin ke puskesmas aja, biar lebih murah. Waduh, kenapa aku nggak kepikiran begitu, ya? Dulu waktu tangan gatal mikirnya langsung ke dokter kulit, sekarang waktu sakit gigi langsung mikir dokter gigi non puskesmas. Sebelum memutuskan untuk ke puskesmas (persiapan mental dulu), aku minum pana*** buat meringankan rasa sakit yang banget itu.


Kunjungan Pertama
            
Akhirnya saat ke puskesmas tiba. Tentu saja aku dirujuk ke poli gigi. Udah daftarnya langsung dilayanin, masuk poli giginya juga langsung, nggak pake antri.
            
Begitu masuk poli gigi... semwriwing. Baunya... sangat khas poli gigi, nggak berubah dari aku kecil sampai sekarang. Juga, menakutkan. Dengan kasur operasi (sebut saja begitu) sekalian dengan alat-alatnya yang memang mirip alat operasi. Menakutkan. Ada bor atau apa lagi itu (begitu di mataku).
            
Duluuuu banget sempet denger kalau gigi bolong itu giginya bakalan dibor. Entah kata siapa, aku juga nggak ingat. Nah, waktu itu tiba-tiba saja aku merasa dag dig dug ser. Masa gigi udah bolong mau dibor? Habis, dong?
            
Dokter yang menangani perempuan. Bagiku perempuan atau laki-laki sama saja, kesannya menakutkan walau dokternya ramah. Disuruh rebahan, kumur-kumur, lalu dokternya menanyakan keluhan.
            
“Giginya berlubang,” kataku.
            
Mulutku dibuka dan si dokter mulai memeriksa. “Giginya masih bisa dipertahankan.” 

Agak senang juga sih, sebab kalau sudah terlambat, pikirku mungkin akan dicabut paksa kayak aku dulu waktu kecil. Waktu itu ada gigi liar tumbuh dan harus dicabut paksa. Lebih sakit  dari cabut gigi yang sudah goyang.
            
Aku memilih diam saja, sebab aku nggak mau dianggap pasien yang cerewet. Kalau sakit ya resiko, siapa suruh giginya bolong?
            
Tapi aku nggak tahan juga untuk bilang, “Ini diapain ya, Dok?” waktu si dokter udah mulai bersiap beraksi dengan alat-alatnya yang menakutkan.
            
“Cuma dibersihkan.”
            
Bohong. Pasti nggak cuma dibersihkan aja. pasti akan terjadi sesuatu yang lain.
            
Si dokter mengambil salah satu alat yang mirip bor mini dengan ujung tumpul. Nah, mungkin ini yang katanya dulu disebut bor. Apa ‘bor’ ini untuk membersihkan gigiku?
            
Aku bersiap-siap merasa sakit ketika alat si dokter mau menyentuh gigiku. Ternyata begitu mendarat, aku nggak merasa sakit. Tapi merasakan rasa yang tidak enak di mulutku. Ya, semacam bau bor begitulah (padahal aku nggak tau persis bau bor itu bagaimana).
            
“Kumur,” begitu perintah si dokter setelah selesai ‘mengebor’ gigiku. Begitu kumur, rasanya agak pahit gimana gitu. Ternyata proses pembersihan gigi nggak cuma sekali aja, namun diulang-ulang.
            
Pada akhirnya, si dokter memasukkan sesuatu di gigiku yang berlubang. Semacam serabut halus berwarna cokelat begitu. Si dokter menekan-nekan serabut itu di lubang gigi, kemudian ditutup dengan serabut putih yang lebih halus teksturnya, namun lebih kasar dari kapas.
            
Seingatku prosesnya cuma segitu. Terus kata dokter, itu tadi berfungsi untuk mematikan saraf gigi. Kenapa begitu? Aku nggak tahu. Aku bahkan sempat berpikir kalau suatu saat gigi berlubangku itu akan dicabut paksa. Tapi pikirku, gigi yang dicabut dulu cuma gigi seri dan gigi taring, tidak pernah gigi geraham.

Dokternya bilang, mungkin selama seminggu itu gigiku akan sakit, namun ada juga orang yang tidak merasakan apa-apa. Aku harap aku orang yang tipe kedua. Dokternya juga bilang kalau aku harus kontrol tiap minggu.

Oh ya, para serabut itu, khususnya yang cokelat, rasanya kayak cengkeh dan cukup kuat. Yakin, deh, soalnya dulu waktu kecil sempat penasaran. Aku pikir cengkeh itu bisa dimakan kayak kue nastar. Ternyata...
            
Selesai prosesnya,tiba-tiba gigiku rasanya sakit banget, lebih sakit dari hari sebelumnya sebelum dibawa ke puskesmas. Kepalaku sampai terasa berat saking nahan sakitnya. Sama dokter disuruh bayar 15.000 kemudian diberi resep obat. Obatnya berupa pil enam butir, yang segera habis dalam dua hari.
            
Sakitnya masih bertahan sampai kos. Aku jadi bingung, ini aku nanti bisa makan nggak, ya? Gawatnya lagi, siang aku harus kuliah. mana harus ngomong, lagi.
            
Ternyata sakitnya nggak bertahan lama banget. Sebelum kuliah aku bahkan sudah bisa makan nasi.
            
Pengeluaran kunjungan pertama: administrasi 5.000 + dokter dan obat 15.000 + parkir 2.000 = 22.000


Kunjungan Kedua
            
Masih di hari Kamis pada minggu berikutnya. Poli gigi masih sama menakutkannya. Kali ini aku dibaringkan di kasur yang lain (di poli gigi itu kasurnya ada dua). Kali ini yang menangani dokter laki-laki.
            
Dokter yang satu ini terkesan lebih ‘kasar’ karena beberapa kali aku sempat kesakitan waktu gigiku dibersihkan. Bahkan aku sempat melihat gumpalan darah setelah aku berkumur. Hi, ngeri juga.
            
Yang kedua ini tambalan minggu sebelumnya diambil kemudian ditambal lagi dengan serabut putih yang entah sama atau tidak dengan yang kemarin. Setelah itu, ditambal lagi dengan cairan ketal putih mirip pep****nt. Rasa dan baunya pun mirip itu.
            
Seiring berjalannya waktu rasa dan baunya tidak hanya mirip odol itu, tapi juga mirip bau poli gigi. Parahnya, waktu makan terkadang rasa makanannya tercampur rasa odol dan poli gigi itu. Walaupun bukan rasa yang nggak enak banget, tapi kan gimana gitu. Belum lagi sensasi rasa 'crack' waktu pasta yang sudah mengeras itu tergigit. Geli gimana gitu
            
Untuk kali ini sudah tidak dikasih obat lagi, walau dikenakan biaya yang sama. Kata dokternya, aku masih harus kontrol lagi sekitar dua kali. Aku membatin, kalau gini lama-lama biayanya sama dengan biaya dokter gigi non puskesmas, dong?


Kunjungan Ketiga

Kali ini aku datang lebih pagi dari kunjungan sebelumnya. Sengaja aku nggak parkir motor di tempat parkir, tapi di dekat warung. Habis, males banget kalau harus bayar parkir dua ribu, soalnya aku sentimen sama yang namanya tukang parkir. Tahu atau tidak, mereka itu banyak yang seenaknya sendiri korupsi. Udah selangkah mirip sama para pejabat.
            
Namun ternyata keputusanku berangkat lebih pagi dari biasanya itu kurang tepat. Dua pertemuan sebelumnya sepi dan bisa langsung dilayani, tapi kali ini malah rame banget. Akhirnya, karena was-was, udah deh pasrah menyerahkan motor ke tangan tukang parkir.
            
Kasur operasinya balik lagi ke yang pertanya. Dokternya juga balik lagi perempuan, tapi dengan dokter yang berbeda. Seperti sebelumnya, tambalan minggu lalu diambil kemudian aku memberanikan melirik si dokter yang ‘meracik’ sesuatu seperti cairan odol. Mungkin sama dengan yang minggu lalu.
            
Setelah dibersihkan dengan ‘alat bor’ dengan rasa dan bau yang khas itu, disuruh kumur, kemudian menggigit gumpalan kasa atau apalah itu, yang biasanya dipake dokter gigi. Setelah itu, diberi sesuatu yang lebih padat dari serabut tapi bukan serabut, warnanya cokelat. Lalu ditutup dengan cairan mirip odol tapi lebih encer tadi.
            
Oh ya, untuk mengeringkan dan memadatkan tambalan itu dokter gigi memakai alat yang menyemprotkan udara, mungkin mirip dengan alat untuk ‘memadatkan’ makanan mahal itu (Kok ngomongnya begini, ya? Maklum, nggak tahu istilahnya).
            
Kata si dokter, ini sudah kunjungan terakhir dan nggak perlu kontrol lagi. Seneng dong. Katanya lagi, harus rutin memeriksakan gigi paling tidak setahun sekali. Bukan yang enam bulan sekali, dong? Tapi biarlah, yang penting aku nggak usah kontrol begini lagi.
            
Bayarnya kali ini lebih mahal, 25.000 + registrasi 5.000 + parkir 2.000.


Penyebab dan Pesan
            
Sebenarnya aku sempat bingung kenapa gigiku bisa berlubang, karena setiap hari rutin gosok gigi. Apa mungkin gosok giginya kurang bersih, ya?
            
Namun setelah dipikir-pikir, faktor nutrisi pasti berperan. Aku ingat-ingat kebiasaanku, kira-kira apa yang bisa bikin gigi keropos?
            
Asumsiku adalah sering minum kopi dan tidak  minum susu. Aku memang suka minum kopi, apalagi kalau pagi. Walau setelah itu gosok gigi, tapi sesering apapun minum kopi pasti tidak baik. Apalagi terakhir aku minum susu itu waktu SMA. Waktu itu memang rasanya aku jadi nggak gampang sakit. Pokoknya rasanya beda minum susu sama nggak minum susu. Mungkin budget anak kos jadi alasan, ya. Hehehe.
            
Yang bikin jadi teringat sama susu adalah ketika aku sakit beberapa hari sebelum aku tahu kalau gigiku berlubang. Rasa-rasanya aku sudah lama banget nggak sakit panas, terakhir sekitar setahun sebelumnya, itupun pagi sakit sore sudah sembuh. Memang sih aku sering pulang malam karena waktu itu ada kelas bahasa Mandarin dan ngasih les privat. Tambahan lagi, dengan pedenya aku nggak pakai jaket karena beralasan nggak dingin. Malam sebelum aku sakit juga pulang malam dan terpapar asap rokok selama kurang lebih tiga jam -____- Aku jadi kapok kalau ke kafe lagi.
            
Mulai saat itu aku jadi mengonsumsi susu dan madu bergantian. Berhubung susu lebih cepat habis dan mahal, akhirnya sekarang aku minum madu saja. Minum susu sudah habis tiga kotak dan aku sayang sama uangnya (tetep alesannya uang :D).
            
Dan mungkin berkat dua minuman ini, keluhan menahunku hilang. Aku ingat sejak lulus SMA, bibir gampang banget kering dan pecah-pecah. Aku sempat heran juga kok bisa begini dan nggak sembuh-sembuh. Sejak saat itu, aku bergantung pada lip balm, utamanya sebelum tidur.
            
Nah, sejak lip balmku hampir habis dan mulai minum susu dan madu, sekarang udah nggak pecah-pecah lagi. Walaupun kadang kering dikit-dikit, tapi kadang juga bisa halus banget, padahal nggak aku apa-apain. Dan yang paling penting, udah nggak pecah-pecah lagi.

            
Jadi kesimpulannya, keluhan-keluhan yang aku alami diatas adalah karena KURANGNYA NUTRISI. Sudah. Cukup sekian dan terima kasih.


******

UPDATE:
Seharusnya sudah setengah tahun yang lalu aku periksa gigi lagi, tapi belum terjadi sampai sekarang :D Dan ternyata, minum kopi dan teh sering-serng itu bukan penyebab gigi berlubang. Aku tanya dokter gigi kenalanku, katanya itu akibat makanan dan minuman manis berlebih yang dimakan dan diminum waktu kecil. Semuanya terakumulasi dan kelihatan dampaknya setelah dewasa. Waktu aku bilang kopi dan teh penyebabnya dan aku dapat info itu dari internet, dia bilang jangan suka percaya sama info di internet :D Memang benar sih, aku dulu waktu kecil memang suka manis. Baru berhenti suka waktu udah lebih gede.


Latepost: Kebaikan Kecil untuk Sesama

Sebenarnya ini sudah lama aku tulis sih. Iseng coba posting di blog lagi. Waktu lihat file di laptop, ada cerita ini yang belum sempat aku posting. Kejadian ini terjadi pada 7 Oktober 2015 (lama banget ya, aku aja heran).

*****

Baru saja aku selesai kelas Bahasa Mandarin di Rumah Bahasa, aku langsung meluncur ke bagian lain dari kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kebetulan sedang ada book fair disitu. Sebenarnya dua hari lalu sudah kesitu sih, tapi akhirnya kepingin kesitu lagi karena masih ada buku yang masih dibeli. Mumpung murah, hehe. Buku-buku yang kubeli rata-rata harganya 15.000, ada yang 12.000, malah ada yang 10.000. Kalau begitu yang ada rasanya kalap pengen ngeborong seluruh isi pameran.

Biasanya kalau sudah kalap belanja, rasanya rada khilaf begitu. Akupun demikian. Yah, namanya juga cewek. Kalau belanja kan seneng, tapi kalau sudah kebanyakan belanja jadinya khilaf deh. Tapi berusaha biasa saja dan menghibur diri. Buku kan bisa jadi investasi sampai nanti tua.

Nah, inti ceritanya dimulai ketika aku keluar dari pintu exit ke tempat parkiran. Begitu turun meniti tangga, ada laki-laki yang menawarkan koran. Kelihatannya sih masih bisa dibilang mas-mas gitu lah ya. Yah, kalau baca koran sih mendingan pinjem aja daripada beli. Lagian, sudah lewat maghrib juga. Pastinya itu koran sisa pagi tadi. Aku menolak mas-mas itu dengan halus.

Ketika sudah duduk di atas motor, aku inget kalau belum menukarkan struk belanja dengan kupon undian. Aku balik lagi ke pintu masuk book fair. Setelah mengurus ini itu, aku balik lagi ke parkiran, duduk di atas motor sambil main hape. Setelah cukup, aku pasang masker, siap untuk pulang.

Nah, waktu itu si mas-mas datang lagi, nawarin koran. Sama seperti sebelumnya, aku menolak halus, namun aku masih disitu, belum bersiap untuk menegakkan motor. Mas-mas itu, tanpa berusaha untuk kelihatan pantas untuk dikasihani, berkata kalau koran yang dibawanya masih banyak. Benar juga, ya, padahal sudah semalam itu. Beberapa jam lagi sudah ganti hari dan pastinya korannya tidak laku.

Dibilang begitu, sontak hatiku terusik (heah, bahasanya bahasa novel amat). Aku bertanya, “Jawa Pos berapa Mas?”

“Empat ribu Mbak.”

Harga normalnya sih lima ribu, tapi karena sudah malam ya jadi dimurahin. Refleks aku ngulurin uang lima ribu sekalian.

“Sekalian lima ribu aja ya, Mas.”

“Alhamdulillah, barakallah, semoga berkah, Mbak.” Si Mas menerima uang dengan perasaan syukur yang kentara sekali.

Nyessss.... rasanya hati ini campur aduk, antara terharu, tersanjung, bahagia, dan entah apalagi. Dari tadi memang si mas perkataannya baik dan sopan. Kurang bisa merinci, namun diantaranya yaitu si Mas masih sempet-sempetnya ngingetin aku yang mungkin sedikit teledor di matanya. Mulai dari meletakkan hape sembarangan di pangkuan sampai dompet juga.

“Hapenya dibenerin dulu, Mbak, jangan ditaruh begitu, nanti jatuh.”

Sekitar dua kali beliau mengingatkan begitu. Aku yang sudah biasa begitu hanya cengengesan. Yah, mungkin menurutnya aku agak serampangan, menaruh hape dengan posisi yang rentan membuat hapenya jatuh.

Yang membuatku teringat pada beliau yaitu ekspresi bersyukurnya ketika menerima uang dariku. Aku nggak bisa lupa itu. Aku bisa merasakan kalau beliau orang yang tulus dari perkataannya yang sopan, tidak memaksa, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Aku yang belum tentu membeli korannya, dengan baik hatinya diperingatkan agar hati-hati memerlakukan hapeku, yang mungkin di matanya merupakan suatu benda yang mewah. Padahal hapeku itu, walaupun android, termasuk agak jadul jika dibandingkan dengan punya teman-temanku. Yang lain punya hape keluaran terbaru, contoh saja samsul sampai apel, sementara hapeku sudah berumur dua tahun dan mulai penyakitan. Untuk dipakai selfie pun ga bagus, karena kamera depannya kurang bagus, tidak seperti punya teman-teman.

Sepeninggal si mas koran, refleks aku langsung nangis. Perasaanku campur aduk, sampai aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk ditulis disini. Beneran. Sampai di jalan raya pun aku masih nangis. Aku baru berpikir kenapa aku nggak kasih beliau uang sepuluh ribu saja, namun aku punya pertimbangan. Aku takut kalau beliau merasa tersinggung atau apa, namun setelah kupikir, tampaknya beliau bukan orang seperti itu. Uang seribu rupiah saja sangat disyukuri, apalagi enam ribu rupiah. Rasanya ingin ngajak ngomong si Mas sebenarnya, tapi takut mengganggu pekerjaannya. Beliau dikejar waktu untuk menghabiskan dagangannya yang terancam tak laku.

Aku masih ingat ketika aku bertanya, “Jualan dari pagi?”

“Iya, Mbak. Ya begini ini, kalau jualan kadang laku kadang nggak.”

“Jualan dimana aja, Mas?”

“Dimana-mana Mbak, ini dari tadi muter-muter.”

Ya Allah, speechless...
           
Aku mau sharing ini bukan karena berniat riya’ atau bagaimana, namun hanya ingin sharing pengalaman dan pelajaran hidup. Silahkan disimpulkan sendiri pelajaran dari peristiwa ini, karena aku terlalu speechless untuk merangkai kata inspirasi yang datang dari si mas penjual koran.
            
Right now, I am sitting here with the newspaper I bought from him. May Allah always light his way and give much of His blessings every day.
           
Uang yang kukeluarkan hanya lima ribu rupiah, namun pelajaran yang didapatkan tak bisa diukur dengan uang. Kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, pernyataan itu tidak sebenuhnya benar. Buktinya, dengan mengeluarkan uang segitu, aku bisa bahagia, lebih dari bahagia karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Jadi dengan kata lain, aku telah membeli kebahagiaan itu, dengan uang pastinya.

Review: Mie Nelongso (Mojokerto)

Minggu, 19 Februari 2017, aku coba makan di Mie Nelongso yang ada di Kota Mojokerto. Awalnya kurang yakin sih, tapi karena adek 'maksa', jadinya mau-mau aja.

Tempatnya strategis, di daerah tengah kota. Banyak yang datang... yah serupa dengan kedai-kedai mie sejenis yang laris manis. Tempatnya juga luas, interiornya bagus, cuma.... tempatnya nggak no smoking

Memang sih, yang makan disitu nggak ada yang merokok, Cuma aku sempet nangkap satu orang yang merokok dekat pintu keluar. Bukan pintu keluar juga sih, karena sebenarnya tempatnya nggak punya pintu. Itu seperti toko di ruko biasa. Pintunya pakai rolling, jadi langsung terekspos ke udara luar tanpa ada pintu yang melindungi dari dunia luar.

Aku dari awal sudah merasa kurang yakin bukan tanpa sebab. Sebelum makan Mie Nelongso ini, aku sudah pernah nyobain dua merk mi pedas lain yang berbeda... dan rasanya seragam. Hal yang sama terulang lagi.
Seperti biasa, mi-mi jenis ini pedasnya punya level. Rasanya sih... ya begitulah. Rasanya sama dengan mi-mi pedas lain merk. Kalau saja nggak ada pedesnya, entah bagaimana rasa aslinya...

Maafkan nggak kefoto semuanya. Seharusnya ada dua buah pangsit yang nggak kefoto.

Sama kaya mie lainnya sih. Ada daun bawang, bawang goreng, ayam bubuk...



Dan yang bikin saya agak kecewa adalah makanan pendampingnya (atau lauk kali ya?). Kalau mie lain dikasih telur, daging ala-ala ham atau lauk lainnya, yang ini cuma dikasih empat buah pangsit yang terdiri dari dua macam bentuk. Pikir saya, ini mie kan sudah berminyak, ya... coba kalau dikasih lauk yang lain, jadi nggak berasa banget keringnya. Untung saja (untung!) ternyata dua diantara pangsit itu bukan benar-benar pangsit. Ternyata mereka itu semacam nugget ayam yang bentuknya kaya pangsit. Coba kalau bentuknya benar-benar seperti nugget ya, biar visualnya berasa lebih rame gitu...



Dari semua elemen, jujur hanya nugget ini yang kusuka
Untuk info, level empat itu udah puedes loh. Aku aja yang pecinta pedas lama banget habisnya. Anggep aja tiga puluh menit (hanya perkiraan) baru habis. Aku level empat ikut adekku aja, dia kan sudah pernah kesitu. Waktu aku tanya sebelumnya dia makan level berapa, katanya no level alias nggak pedes. Dzieng! Aku merasa surprised. Ternyata... Tadinya aku mau level dua aja. Aku kira waktu itu dia pesen level empat juga.

Untuk minumannya, saya sengaja nggak beli karena sudah bawa minum sendiri. Sudah kebiasaan dan untuk menghemat juga :P

Satu hal yang pasti disukai orang adalah adanya wi-fi. Memang sekarang hampir di tiap tempat makan ada wi-finya. Warung kopi saja ada kok...