Senin, 23 Mei 2016

Salatnya Perempuan adalah di Rumah

Baru tergelitik untuk mengangkat tema ini. Dari kecil sudah dikasih tahu bahwa salat berjamaah/di masjid lebih utama dari salat sendirian karena pahalanya lebih banyak dua puluh tujuh derajat.

Nah, mumpung beberapa bulan lalu dapat kesempatan untuk sering berjamaah di masjid, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jadi ceritanya, karena suatu kegiatan, aku tinggal di luar kota selama sebulan. Ini kota yang masih dalam satu provinsi, tapi aku belum pernah kesana dan jaraknya jauh dari tempat aku tinggal. Ini pertama kalinya aku tinggal di kota yang sejauh itu.

Sebenarnya memang sengaja ngincar kos yang dekat masjid, dan alhamdulillah dapat. Masjidnya deket banget, istilahnya tinggal meloncat dari pegar kos udah sampai masjid. Tambah lagi, itu gang sempit yang memang suasana ketetanggaan (ada nggak ya kosakata ini?) memang terasa sekali.

Gara-gara ini, aku bangun pagi banget karena nggak mau ketinggalan salat subuh berjamaah. Sebisa mungkin kalau udah di kos aku selalu jamaah ke masjid.

Hingga, suatu hari, aku dengar berita tak mengenakkan tentang diriku. Tentang diriku.

Kontan saja aku merasa difitnah. Nggak usah lah ya diceritakan detailnya. Aku tidak merasa melakukan tapi dibilang begitu. Atau memang aku melakukan tapi orang menafsirkannya lain. Yang jelas aku tidak bermaksud melakukan apapun yang tidak menyenangkan orang lain. Atau mereka saja yang lebay dan kurang kerjaan, secara mereka ibu-ibu? Namun mereka ibu-ibu yang sudah setengah baya, kok ya sempet-sempetnya ngurusin hidup orang dan bikin kesimpulan yang nggak-nggak tentang orang lain?

Difitnah begitu jelas aku nangis. Aku dapat berita itu dari temanku yang kebetulan tau, jadi bukan dari orang-orang itu langsung. Sempet nggak pingin ke masjid lagi. Udah punya masalah, ditambahi masalah begini pula.

Tapi aku emosional cuma di waktu itu aja. Setelahnya, aku sudah merasa tidak pernah terjadi apa-apa. Tetap ke masjid. Hanya, lebih berhati-hati saja dalam bertindak. Orang-orang disitu juga kelihatan biasa-biasa saja. Pinter banget ya nutupin hati busuk?

Hingga beberapa bulan setelah itu, aku baru tahu kalau perempuan lebih baik salat di rumah saja. Itu karena perempuan rawan fitnah, jadi untuk menghindari fitnah. Aku sempat berpikir, fitnah disini adalah ketika laki-laki punya pikiran tertentu terhadap perempuan, jadi perempuan kalau ke masjid usahakan jangan mencolok seperti pakai parfum. Ternyata tidak hanya sekedar itu. Menilik ke belakang, fitnah yang dimaksud mungkin juga termasuk pengalamanku sendiri. Fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan ke perempuan lain. Mulai saat ini hati-hati saja. Sesekali boleh ke masjid, namun jika teratur seperti diriku dulu harus diwasapadai. Apalagi masjidnya ada di tengah-tengah pemukiman seperti yang sering aku singgahi dulu.