Kamis, 14 April 2016

Bukan Sulap Bukan Sihir: Efek Samping Whitening Cream

Gara-gara wajah bernoda hitam bekas jerawat yang nggak hilang-hilang, akhirnya aku beli krim ke 'dokter' online di Instagram. Setelah konsultasi singkat dengan mengirimkan foto wajah, ditarik kesimpulan kalau aku bisa pakai krim whitening. Dalam hati sih mbatin, kok whitening, ya? Bukannya itu untuk memutihkan? Aku kan maunya nodanya hilang gitu aja. Tapi katanya sih iya pakai whitening.

Setelah pemakaian beberapa lama, memang sih belum banyak perubahan signifikan, tapi ya tetep ada perubahan. Memang lebih putih, tapi putihnya itu natural kok. Sebenarnya bukan putih sih, tapi terang. Natural jadi nggak keliatan ekstrim seperti cewek-cewek yang wajahnya doang putih banget tapi badannya tetap warna kulit asli (asli ngakak sama orang-orang kaya gini).

Dannnn 'hebatnya' lagi, krim ini bawa efek samping. Efek yang seperti apa? Ini dia!

BEFORE and AFTER
Kentara banget kalau alisku jadi lebih tebal. Aku yang biasanya 'dihina' karena nggak punya alis ini, ternyata sekarang punya alis! Dan itu nggak sengaja!

Aku baru nyadar ada perubahan sehabis ambil foto yang berkerudung biru itu. Aku lihat-lihat hasil foto, kok rasanya ada yang beda, ya? Setelah dipikir-pikir, ternyata perbedaan itu ada pada alisku! Terang lah surprise, karena nggak nyangka aja alisku bisa bertambah tebal tanpa kehendakku.

Selama ini kalau pakai krim itu memang aku ratakan ke seluruh wajah, termasuk bawah mata yang hitam, kelopak mata, dan alis.

Memang sih kepingin punya alis yang lebih tebel, karena menurutku orang yang beralis tebal itu punya kecantikan dan kegantengan tersendiri. Sudah berencana action buat bikin alisku tambah tebel. Mulai dari yang pakai cengkeh (belum pernah dilakukan, beli cengkehnya doang) sampai diolesin minyak zaitun (cuma beberapa kali aja, karena nggak sabar). Nah, ini ketika nggak ada rencana, malah alisnya jadi tebal otomatis. Memang rencana Allah seringkali nggak ketebak, ya!

Seneng juga sih, alis jadi tebel, tapi di sisi lain sedih juga. Sebab, trademark-ku hilang. Menurutku aku identik dengan nggak punya alis, dan aku pernah mensugesti diriku kalau alis tipis itu khasnya diriku, jadi nggak perlu dirubah. Entah harus sedih atau senang...

Dulu, saking pengennya bisa liat diriku beralis tebal, aku beli pensil alis dan pakai. Cuma beberapa kali pemakaian sih. Sekarang setelah nggak pakai lagi, malah pensil alisku sudah nambah jadi dua, warna coklat ketambahan warna hitam :hammer:

Ini waktu pakai pensil alis warna coklat

Syudah, nanti lama-lama terpesona sama mataku gara-gara bahas tentang alis....

Rabu, 06 April 2016

How to be Nge-Hits (Indo: Gimana Biar Nge-Hits)

Ide tulisan ini terpikirkan begitu saja ketika aku sahur tadi pagi. Makannya nasi putih, telur dadar, dan kecap (menu khas anak kos)

Apa yang terlintas di pikiranmu kalau dengar kata ngehits? keren? atau gaul?

Let me guess: anak-anak muda dengan penampilan yang dianggap lagi ngetrend atau keren, hape canggih, tunggangan yang waow, dompet makmur, tongkrongan gahol, komunitas kece punya yang makhluk-makhluknya kece pula.

Kalau itu yang kamu pikirkan, berarti kita kurang sependapat. Kurang lho ya, bukan tidak seratus persen.


WARNING: Sampai sini jika tidak setuju dengan pemikiran saya, boleh langsung tinggalkan artikel ini. Kalau masih kepo, boleh lah ya dilanjutin.

Tulisan saya ini (mungkin) anti menstrim dibanding tulisan lain dengan topik senada. Tulisan ini dibuat bukan untuk riya, menyombongkan diri atau apalah, tapi pure untuk berbagi inspirasi.

Jadi, maksud saya dengan ngehits disini adalah how to be kind-hearted people (benar nggak sih Inggris saya?), atau bahasa yang menurut saya agak kerenan, philanthropists. Memang sih jadi orang baik nggak harus selalu dengan memberi uang seperti philanthropists, tapi khusus disini saya cuma akan bahas soal philanthropists aja.

Philanthropists, atau bahasa Indonesianya orang dermawan, yaitu orang yang menolong orang lain (terutama yang kekurangan) dengan memberi uang. Namun, jadi orang dermawan seperti itu tidak harus jadi orang kaya dan punya uang banyak dulu.

Karena bercita-cita jadi orang kaya, maka sedari muda sekali saya sudah biasakan untuk memberi uang ke orang lain (biar tau rasanya jadi orang kaya :P). Ternyata benar kata orang bahwa memberi orang lain bisa buat ketagihan. Artinya, bakalan mau lagi dan lagi bantuin orang, bahkan dengan jumlah uang yang lebih besar dan jumlah donor yang lebih banyak.

Salah satu cara jadi philanthropist yaitu dengan jadi donatur tetap sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud banyak, salah duanya akan 'dipromosikan' di sini.

Yang pertama, mungkin ini sudah cukup banyak yang tahu, yaitu Yayasan Nurul Hayat. Yayasan ini sudah punya banyak cabang, dari kota-kota besar sampai kota-kota kecil. Sekarang NH bukan hanya sekedar yayasan sosial, tapi sudah jadi Laznas lhooo... apa itu? Laznas itu Lembaga Amil Zakat Nasional.

Untuk bergabung jadi donatur di sini, cukup dengan donasi tiap bulan seikhlasnya. Walau seikhlasnya, tapi usahain yang pantas ya :D Rp 20.000 aja udah pantes kok... Para donatur akan dikirimi majalah Nurul Hayat sebagai tanda terima kasih. Majalahnya keren banget lho... Jujur, perkenalan pertamaku dengan NH waktu masih SD/SMP kalo nggak salah, dan langsung suka baca isinya.

Sejak saat itu aku ada rencana, suatu hari nanti aku akan jadi donatur NH, mungkin kalo udah kerja. Namun ternyata jalan dimudahkan oleh Allah dan bisa jadi donatur lebih cepat. Waktu SMA sebenarnya sudah ada keinginan cukup, namun namanya juga masih remaja kebanyakan, merasa kurang uang dan takut kekurangan uang kalau aku donasikan.

Akhirnya, aku jadi donatur waktu udah kuliah, umur sembilan belas. Waktu itu daftarnya di Gresik, dan janji ketemuan sama pegawainya. Perasaanku nggak enak deh, pasti dipanggil "Bu" di SMS. Dan emang bener, tapi aku biarin aja.

Hari H daftar, si ibu pegawainya agak kaget melihat diriku. Katanya, "Oh, saya kirain sudah ibu-ibu" lol. Ini menandakan bahwa urusan donasi seperti ini memang jadi monopoli orang dewasa. Makanya, jadi orang muda yang anti menstrim dikit lah :cool:

Untuk gabung di NH, bisa search di Google. Gampangnya sih buka websitenya, trus isi form pendaftaran donatur. Setelah itu akan dihubungi pegawainya. Atau kalau sudah tau kantor cabang di tiap-tiap kota, bisa langsung datang ke kantornya untuk daftar. Sekedar info, donasi di NH tidak hanya sebatas donasi bulanan saja. Bisa juga daftar jadi orang tua asuh adik-adik SD dan SMP, wakaf Alquran Braille (opening now!), pembangunan pesantren, dsb.

Untuk yang uangnya melimpah, sekali waktu bisa donasi untuk beberapa program sekaligus yang lagi dibuka dan biasanya akan diberi hadiah menarik lho :D

Yang pertama sudah tentang NH, sekarang tentang yayasan yang kedua. Yayasan Amal Ashabul Qur'an dari Pusat Al Qur'an Indonesia berlokasi di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Jauh banget dari sini.

Awalnya memang murni ingin jadi donatur tetap, tapi nggak nyangka kalau dikasih reward seperti di NH, namun ini rewardnya adalah majalah Ummi. Tau majalah Ummi, nggak? Itu majalah nasional muslimah yang aku belum pernah tau sebelumnya walau bentuknya sekalipun. Walau Ummi lebih 'bergengsi', namun baik majalah NH maupun Ummi sama bagusnya, dan yang terpenting, bisa menuntun pribadi pembacanya jadi lebih islami.

Dana donasi yang terkumpul digunakan untuk pembiayaan para santri penghafal Alquran. Oh ya, khusus untuk program ini, donasi minimal Rp 100.000 per bulan. Info lengkapnya, klik www.pusatalquran.com . Aku dulu sebelum dikirim majalah Ummi, dikasih DVD Murottal, dan baru transfer uang setelah DVD diterima. Uang yang dibayarkan 100% untuk pembiayaan pendidikan para santri. Dengan kata lain, DVD-nya sendiri dan ongkirnya gratis! Baik banget, kan?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, postingan ini bukan bermaksud pamer, riya, atau menggurui. Hanya ingin berbagi, karena saya yakin masih banyak anak muda yang pinter ngabisin uang untuk dirinya sendiri. Beli baju, gonta-ganti sepatu, tas, nongkrong di kafe atau tempat makan yang ngehits sampai kurang peka dengan akan orang yang membutuhkan. Change the world sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil, termasuk bersedekah.

Saya bukan orang kaya kok, beneran. Bahkan cuma mahasiswi penerima beasiswa. Dengan uang yang nggak banyak sebisa mungkin menyisihkan uang untuk orang lain. Dulu pengeeeen banget rajin bersedekah, tapi pikirku, aku kan bukan orang kaya? Tapi semakin dewasa, jadi tau kalau sedekah uang nggak harus menunggu kaya. Justru lebih cepat dan lebih banyak bersedekah (ikhlas juga pastinya), maka rezeki tak akan seret, entah dalam hal uang, keluarga, pribadi, kuliah, dan lain-lain. Bahkan secara otomatis melatih diri untuk tidak konsumtif dan pandai bersyukur tentunya.

Sebenarnya masih banyak lagi lembaga yang menerima donasi tiap bulan dari para donatur, mulai dari tingkat lokal sampai nasional, contohnya YDSF dan UNICEF Indonesia.

Begitulah tips dari saya biar gimana jadi anak muda yang ngehits. Perlu diingat, tips seperti ini applicable sekali untuk semua masa, dari zaman para nabi sebelum masehi sampai kiamat nanti. Tidak seperti teknologi, makanan, model pakaian yang bisa berubah-ubah seiring waktu, amalan langsung dari Allah tak akan lekang oleh waktu untuk diaplikasikan.


Begitulah :)


Curhatan Tengah Malam (atau Dini Hari)

Sekarang pukul 2:06 a.m. dan aku lagi panas banget, maksudnya panas lahir dan panas batin. Gimana nggak, aku hampir nggak tidur semalaman ini! Know what? Kipas di kamar sudah cukup lama rusak, hujan sudah jarang turun, tapi nyamuknya Ya Allahhhh.... bikin emosi!!!

Tadi sempet tidur bentar, sebelum kebangun lagi gara-gara nyamuk yang naudzubillah, banyaknya yang entah datang dari mana. Padahal sebelum tidur aku yakin populasi nyamuk di kamar tinggal sedikit karena sebelumnya sudah aku basmi satu-satu. Tapi Ya Allah... :( antara jengkel, marah, sedih, campur-campur jadi satu. Gado-gado kalah deh :(

Sebisa mungkin aku nggak pakai lotion anti nyamuk, karena lotion anti nyamuk itu sebenarnya juga bahaya bagi manusia sendiri kalau dipakai berlebihan. Jujur kalau ada dalam kondisi seperti ini aku bahkan bisa nangis, dan mulai 'menyalahkan' kodratku.

Kodrat apa? Setelah dilakukan beberapa kali penelitian, memang aku udah dari sononya jadi mangsa favorit nyamuk. Katanya sih, orang yang bergolongan darah O itu 'dicintai' nyamuk sebab darahnya enak dan manis (hmmmm....). Parahnya, diantara orang bergolongan darah O lainnya, kok tampaknya hanya aku yang benar-benar disukai nyamuk? :(  Aku tau aku memang manis tapiiiiii.... *plak*

Aku sempat mempertanyakan takdirku ini, Ya Allah, kenapa ya aku begini, sementara orang lain tidak? Lebay biarin deh, emang kenyataannya aku merasa, kenapa ya aku diciptakan begini? Memang apa gunanya buat kehidupanku?

Di tengah kesumukan (baca: kegerahan) tengah malam itu aku akhirnya memutuskan untuk pakai lotion. What happened then? Nggak terlalu mempan saudara-saudara! Padahal selama ini mempan-mempan aja, tuh! Bahkan ketika dosisnya aku tambah, sama sekali nggak ada perubahan. Karena sudah lama sedih, aku udah nggak sanggup lagi buat nangis (bahasanya....). Akhirnya aku putuskan buat bangun dan mulai membuka laptop. Nggak tidur biarin, dah. Percuma dipaksain tidur, nggak bakalan bisa. Percaya, deh.

Sebenarnya aku nggak keberatan kalau kegerahan, asal nggak ada nyamuk, sebab aku masih bisa kipas-kipas pake kardus susu coklatku. Aku benciiiii banget nyamuk, karena sepewe apapun kondisi tempat tidur, tapi kalo ada nyamuk, hancurlah semuanya.

Setidaknya musibah ini membawa berkah. Sekarang udah 2:18 a.m., setidaknya waktu bisa untuk salat tahajud dan lanjut sahur buat puasa qadha. Kalo aku tidur nyenyak belum tentu aku bisa salat dan sahur. Ayo yang lain, biasakan pupuk amalan sunnahnya ya! Dan, apakah hutang puasa Ramadan kalian sudah lunas?


Surabaya, kos-kosan pada dini hari