Jumat, 23 September 2016

Jual Kaos 3D Wilayah Gresik, Jawa Timur

Ready

Lebar dada 52, tinggi 71, tidak melar, bahan lentur tidak berbulu, wangi buah, kemasan unik
Beli min. 3 kaos diskon @Rp 5000, boleh campur model dan ukuran

Ukuran XL

#kaos #kaos3d #tshirt #kaosmurah

Jual Kaos 3D Wilayah Gresik, Jawa Timur

Boleh ya blog pribadi dibuat lapak jualan.... :D

Dijamin nggak nipu soalnya saya pakai blog pribadi, bukan blog abal-abal

Ready

Lebar dada 44, tinggi 65, panjang lengan 18, lebar lengan 15, lebar kerah 13, tidak melar, bahan lentur tidak berbulu, wangi buah, kemasan unik

Beli min. 3 kaos diskon @Rp 5000, boleh campur model dan ukuran

Ukuran ML (all size), ukuran di antara M dan L

Untuk koleksi lebih lengkap bisa lihat di ig @kaos3d.murah :)

Info sms/wa 081553842790 atau komen di bawah


Happy shopping! 😉

Jumat, 03 Juni 2016

Ketika "Insya Allah / In Shaa Allah" Diragukan Manusia

Sumber

Kalau di Indonesia sih biasanya disebut Insya Allah, sedangkan Inggrisnya In Shaa Allah.

Tadi siang dapet telepon dari seseorang minta dikirim suatu barang. Aku bilang kalau barangnya bisa diterima mulai Senin besok. Orangnya meyakinkan lagi, "Senin, ya?"

"Iya... Insya Allah."

Aku nggak pernah dapat 'masalah' gara-gara bilang Insya Allah. Tapi tadi lain lagi.

"Lho, kok Insya Allah? Yang pasti dong..."

Gubrakk! Nih orang kenapa ya? Dia ngomong gitu sambil ketawa kecil agak ngeremehin gitu. Mungkin nggak habis pikir sama aku yang dikiranya tidak meyakinkan. Padahal...

Sumber

Insya Allah artinya "If Allah wills" atau bahasa Indonesianya "Jika Allah berkehendak."

Jika dikira-kira oleh pemikiranku (perhitungan manusia), Senin adalah waktu yang pasti untuk orang tersebut menerima barangnya. Tentu saja aku yakin, karena memang biasanya baru bisa diterima sekitar dua hari kerja setelah pendaftaran (Minggu tidak dihitung). Kalau daftarnya Jumat ya, diterimanya Senin.

Tapiiii.... yang namanya manusia kan pasti ada human error, tapi untuk Allah tidak. Allah sudah punya rencana. Entah Ia setuju dengan pendapatku atau tidak, wallahualam. Bisa aja ternyata besok ada masalah, hingga barangnya baru bisa diterima Selasa, dan banyak alasan yang mungkin saja tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Aku sih berusaha untuk positive thinking ya. Mungkin orang itu non muslim, jadi nggak tahu sebenarnya Insya Allah itu artinya apa, walau ada rasa 'tersinggung' juga sih. Tersinggung karena sudah jelas aku bawa nama Tuhan, tapi orangnya kok terkesan 'meremehkan' gitu. Yang namanya bawa-bawa nama Tuhan ya suci dan tinggi.

Dan lebih parah lagi kalau ternyata beliau muslim. Tapi dari namanya sih, sepertinya muslim (sepertinyaaa). Kalau gitu jelas lebih tidak bisa ditolerir. Harusnya seorang muslim tahu Insya Allah itu artinya apa. 

Secara garis besar, Insya Allah diucapkan ketika akan 'berjanji', istilahnya begitu. Pernah dengar kan kalimat "Manusia bisa merencanakan namun Tuhanlah yang berkehendak"? Ini diucapkan untuk jaga-jaga, barangkali apa yang kita rencanakan tidak bisa dilaksanakan di waktu yang sudah kita tentukan. "Insya Allah" juga berarti 99,9999 % akurat, anggap saja begitu (menurut perhitungan manusia lho ya, bukan rencana Tuhan).

Contoh sederhana:
A: Nanti jadi kan kerja kelompok di rumahku?
B: Insya Allah jadi.
Eh, nggak tahunya waktu B otw ke rumah A, B mengalami kecelakaan hingga masuk rumah sakit. Itulah, manusia memang hanya bisa merencanakan.

Memang sih aku dulu (sebelum tobat, wkwkw), kurang suka jika ada yang bilang "Insya Allah". Kesannya mengentengkan rencana yang kita buat gitu. Bisa jadi kan dia bilang begitu untuk alasan mangkir? Kalau alasannya seperti ini sih nggak terpuji ya, jangan dicontoh. Namun, karena sudah perintah agama, mau bagaimana lagi. Sekarang sih sudah terbiasa. Di Alquran pun sudah tertulis pemakaian "Insya Allah".

Aku menulis bukan untuk menjelek-jelekkan pihak tertentu... bisa jadi memang kurang tahu fungsi dan keutamaan "Insya Allah", jadi aku menulis justru untuk mengingatkan sesama. Bila ada yang tersinggung saya mohon maaf yang sebesar-besarnya :)

Berbagi itu indah, mengingatkan juga indah.

Senin, 23 Mei 2016

Salatnya Perempuan adalah di Rumah

Baru tergelitik untuk mengangkat tema ini. Dari kecil sudah dikasih tahu bahwa salat berjamaah/di masjid lebih utama dari salat sendirian karena pahalanya lebih banyak dua puluh tujuh derajat.

Nah, mumpung beberapa bulan lalu dapat kesempatan untuk sering berjamaah di masjid, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jadi ceritanya, karena suatu kegiatan, aku tinggal di luar kota selama sebulan. Ini kota yang masih dalam satu provinsi, tapi aku belum pernah kesana dan jaraknya jauh dari tempat aku tinggal. Ini pertama kalinya aku tinggal di kota yang sejauh itu.

Sebenarnya memang sengaja ngincar kos yang dekat masjid, dan alhamdulillah dapat. Masjidnya deket banget, istilahnya tinggal meloncat dari pegar kos udah sampai masjid. Tambah lagi, itu gang sempit yang memang suasana ketetanggaan (ada nggak ya kosakata ini?) memang terasa sekali.

Gara-gara ini, aku bangun pagi banget karena nggak mau ketinggalan salat subuh berjamaah. Sebisa mungkin kalau udah di kos aku selalu jamaah ke masjid.

Hingga, suatu hari, aku dengar berita tak mengenakkan tentang diriku. Tentang diriku.

Kontan saja aku merasa difitnah. Nggak usah lah ya diceritakan detailnya. Aku tidak merasa melakukan tapi dibilang begitu. Atau memang aku melakukan tapi orang menafsirkannya lain. Yang jelas aku tidak bermaksud melakukan apapun yang tidak menyenangkan orang lain. Atau mereka saja yang lebay dan kurang kerjaan, secara mereka ibu-ibu? Namun mereka ibu-ibu yang sudah setengah baya, kok ya sempet-sempetnya ngurusin hidup orang dan bikin kesimpulan yang nggak-nggak tentang orang lain?

Difitnah begitu jelas aku nangis. Aku dapat berita itu dari temanku yang kebetulan tau, jadi bukan dari orang-orang itu langsung. Sempet nggak pingin ke masjid lagi. Udah punya masalah, ditambahi masalah begini pula.

Tapi aku emosional cuma di waktu itu aja. Setelahnya, aku sudah merasa tidak pernah terjadi apa-apa. Tetap ke masjid. Hanya, lebih berhati-hati saja dalam bertindak. Orang-orang disitu juga kelihatan biasa-biasa saja. Pinter banget ya nutupin hati busuk?

Hingga beberapa bulan setelah itu, aku baru tahu kalau perempuan lebih baik salat di rumah saja. Itu karena perempuan rawan fitnah, jadi untuk menghindari fitnah. Aku sempat berpikir, fitnah disini adalah ketika laki-laki punya pikiran tertentu terhadap perempuan, jadi perempuan kalau ke masjid usahakan jangan mencolok seperti pakai parfum. Ternyata tidak hanya sekedar itu. Menilik ke belakang, fitnah yang dimaksud mungkin juga termasuk pengalamanku sendiri. Fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan ke perempuan lain. Mulai saat ini hati-hati saja. Sesekali boleh ke masjid, namun jika teratur seperti diriku dulu harus diwasapadai. Apalagi masjidnya ada di tengah-tengah pemukiman seperti yang sering aku singgahi dulu.

Kamis, 14 April 2016

Bukan Sulap Bukan Sihir: Efek Samping Whitening Cream

Gara-gara wajah bernoda hitam bekas jerawat yang nggak hilang-hilang, akhirnya aku beli krim ke 'dokter' online di Instagram. Setelah konsultasi singkat dengan mengirimkan foto wajah, ditarik kesimpulan kalau aku bisa pakai krim whitening. Dalam hati sih mbatin, kok whitening, ya? Bukannya itu untuk memutihkan? Aku kan maunya nodanya hilang gitu aja. Tapi katanya sih iya pakai whitening.

Setelah pemakaian beberapa lama, memang sih belum banyak perubahan signifikan, tapi ya tetep ada perubahan. Memang lebih putih, tapi putihnya itu natural kok. Sebenarnya bukan putih sih, tapi terang. Natural jadi nggak keliatan ekstrim seperti cewek-cewek yang wajahnya doang putih banget tapi badannya tetap warna kulit asli (asli ngakak sama orang-orang kaya gini).

Dannnn 'hebatnya' lagi, krim ini bawa efek samping. Efek yang seperti apa? Ini dia!

BEFORE and AFTER
Kentara banget kalau alisku jadi lebih tebal. Aku yang biasanya 'dihina' karena nggak punya alis ini, ternyata sekarang punya alis! Dan itu nggak sengaja!

Aku baru nyadar ada perubahan sehabis ambil foto yang berkerudung biru itu. Aku lihat-lihat hasil foto, kok rasanya ada yang beda, ya? Setelah dipikir-pikir, ternyata perbedaan itu ada pada alisku! Terang lah surprise, karena nggak nyangka aja alisku bisa bertambah tebal tanpa kehendakku.

Selama ini kalau pakai krim itu memang aku ratakan ke seluruh wajah, termasuk bawah mata yang hitam, kelopak mata, dan alis.

Memang sih kepingin punya alis yang lebih tebel, karena menurutku orang yang beralis tebal itu punya kecantikan dan kegantengan tersendiri. Sudah berencana action buat bikin alisku tambah tebel. Mulai dari yang pakai cengkeh (belum pernah dilakukan, beli cengkehnya doang) sampai diolesin minyak zaitun (cuma beberapa kali aja, karena nggak sabar). Nah, ini ketika nggak ada rencana, malah alisnya jadi tebal otomatis. Memang rencana Allah seringkali nggak ketebak, ya!

Seneng juga sih, alis jadi tebel, tapi di sisi lain sedih juga. Sebab, trademark-ku hilang. Menurutku aku identik dengan nggak punya alis, dan aku pernah mensugesti diriku kalau alis tipis itu khasnya diriku, jadi nggak perlu dirubah. Entah harus sedih atau senang...

Dulu, saking pengennya bisa liat diriku beralis tebal, aku beli pensil alis dan pakai. Cuma beberapa kali pemakaian sih. Sekarang setelah nggak pakai lagi, malah pensil alisku sudah nambah jadi dua, warna coklat ketambahan warna hitam :hammer:

Ini waktu pakai pensil alis warna coklat

Syudah, nanti lama-lama terpesona sama mataku gara-gara bahas tentang alis....

Rabu, 06 April 2016

How to be Nge-Hits (Indo: Gimana Biar Nge-Hits)

Ide tulisan ini terpikirkan begitu saja ketika aku sahur tadi pagi. Makannya nasi putih, telur dadar, dan kecap (menu khas anak kos)

Apa yang terlintas di pikiranmu kalau dengar kata ngehits? keren? atau gaul?

Let me guess: anak-anak muda dengan penampilan yang dianggap lagi ngetrend atau keren, hape canggih, tunggangan yang waow, dompet makmur, tongkrongan gahol, komunitas kece punya yang makhluk-makhluknya kece pula.

Kalau itu yang kamu pikirkan, berarti kita kurang sependapat. Kurang lho ya, bukan tidak seratus persen.


WARNING: Sampai sini jika tidak setuju dengan pemikiran saya, boleh langsung tinggalkan artikel ini. Kalau masih kepo, boleh lah ya dilanjutin.

Tulisan saya ini (mungkin) anti menstrim dibanding tulisan lain dengan topik senada. Tulisan ini dibuat bukan untuk riya, menyombongkan diri atau apalah, tapi pure untuk berbagi inspirasi.

Jadi, maksud saya dengan ngehits disini adalah how to be kind-hearted people (benar nggak sih Inggris saya?), atau bahasa yang menurut saya agak kerenan, philanthropists. Memang sih jadi orang baik nggak harus selalu dengan memberi uang seperti philanthropists, tapi khusus disini saya cuma akan bahas soal philanthropists aja.

Philanthropists, atau bahasa Indonesianya orang dermawan, yaitu orang yang menolong orang lain (terutama yang kekurangan) dengan memberi uang. Namun, jadi orang dermawan seperti itu tidak harus jadi orang kaya dan punya uang banyak dulu.

Karena bercita-cita jadi orang kaya, maka sedari muda sekali saya sudah biasakan untuk memberi uang ke orang lain (biar tau rasanya jadi orang kaya :P). Ternyata benar kata orang bahwa memberi orang lain bisa buat ketagihan. Artinya, bakalan mau lagi dan lagi bantuin orang, bahkan dengan jumlah uang yang lebih besar dan jumlah donor yang lebih banyak.

Salah satu cara jadi philanthropist yaitu dengan jadi donatur tetap sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud banyak, salah duanya akan 'dipromosikan' di sini.

Yang pertama, mungkin ini sudah cukup banyak yang tahu, yaitu Yayasan Nurul Hayat. Yayasan ini sudah punya banyak cabang, dari kota-kota besar sampai kota-kota kecil. Sekarang NH bukan hanya sekedar yayasan sosial, tapi sudah jadi Laznas lhooo... apa itu? Laznas itu Lembaga Amil Zakat Nasional.

Untuk bergabung jadi donatur di sini, cukup dengan donasi tiap bulan seikhlasnya. Walau seikhlasnya, tapi usahain yang pantas ya :D Rp 20.000 aja udah pantes kok... Para donatur akan dikirimi majalah Nurul Hayat sebagai tanda terima kasih. Majalahnya keren banget lho... Jujur, perkenalan pertamaku dengan NH waktu masih SD/SMP kalo nggak salah, dan langsung suka baca isinya.

Sejak saat itu aku ada rencana, suatu hari nanti aku akan jadi donatur NH, mungkin kalo udah kerja. Namun ternyata jalan dimudahkan oleh Allah dan bisa jadi donatur lebih cepat. Waktu SMA sebenarnya sudah ada keinginan cukup, namun namanya juga masih remaja kebanyakan, merasa kurang uang dan takut kekurangan uang kalau aku donasikan.

Akhirnya, aku jadi donatur waktu udah kuliah, umur sembilan belas. Waktu itu daftarnya di Gresik, dan janji ketemuan sama pegawainya. Perasaanku nggak enak deh, pasti dipanggil "Bu" di SMS. Dan emang bener, tapi aku biarin aja.

Hari H daftar, si ibu pegawainya agak kaget melihat diriku. Katanya, "Oh, saya kirain sudah ibu-ibu" lol. Ini menandakan bahwa urusan donasi seperti ini memang jadi monopoli orang dewasa. Makanya, jadi orang muda yang anti menstrim dikit lah :cool:

Untuk gabung di NH, bisa search di Google. Gampangnya sih buka websitenya, trus isi form pendaftaran donatur. Setelah itu akan dihubungi pegawainya. Atau kalau sudah tau kantor cabang di tiap-tiap kota, bisa langsung datang ke kantornya untuk daftar. Sekedar info, donasi di NH tidak hanya sebatas donasi bulanan saja. Bisa juga daftar jadi orang tua asuh adik-adik SD dan SMP, wakaf Alquran Braille (opening now!), pembangunan pesantren, dsb.

Untuk yang uangnya melimpah, sekali waktu bisa donasi untuk beberapa program sekaligus yang lagi dibuka dan biasanya akan diberi hadiah menarik lho :D

Yang pertama sudah tentang NH, sekarang tentang yayasan yang kedua. Yayasan Amal Ashabul Qur'an dari Pusat Al Qur'an Indonesia berlokasi di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Jauh banget dari sini.

Awalnya memang murni ingin jadi donatur tetap, tapi nggak nyangka kalau dikasih reward seperti di NH, namun ini rewardnya adalah majalah Ummi. Tau majalah Ummi, nggak? Itu majalah nasional muslimah yang aku belum pernah tau sebelumnya walau bentuknya sekalipun. Walau Ummi lebih 'bergengsi', namun baik majalah NH maupun Ummi sama bagusnya, dan yang terpenting, bisa menuntun pribadi pembacanya jadi lebih islami.

Dana donasi yang terkumpul digunakan untuk pembiayaan para santri penghafal Alquran. Oh ya, khusus untuk program ini, donasi minimal Rp 100.000 per bulan. Info lengkapnya, klik www.pusatalquran.com . Aku dulu sebelum dikirim majalah Ummi, dikasih DVD Murottal, dan baru transfer uang setelah DVD diterima. Uang yang dibayarkan 100% untuk pembiayaan pendidikan para santri. Dengan kata lain, DVD-nya sendiri dan ongkirnya gratis! Baik banget, kan?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, postingan ini bukan bermaksud pamer, riya, atau menggurui. Hanya ingin berbagi, karena saya yakin masih banyak anak muda yang pinter ngabisin uang untuk dirinya sendiri. Beli baju, gonta-ganti sepatu, tas, nongkrong di kafe atau tempat makan yang ngehits sampai kurang peka dengan akan orang yang membutuhkan. Change the world sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil, termasuk bersedekah.

Saya bukan orang kaya kok, beneran. Bahkan cuma mahasiswi penerima beasiswa. Dengan uang yang nggak banyak sebisa mungkin menyisihkan uang untuk orang lain. Dulu pengeeeen banget rajin bersedekah, tapi pikirku, aku kan bukan orang kaya? Tapi semakin dewasa, jadi tau kalau sedekah uang nggak harus menunggu kaya. Justru lebih cepat dan lebih banyak bersedekah (ikhlas juga pastinya), maka rezeki tak akan seret, entah dalam hal uang, keluarga, pribadi, kuliah, dan lain-lain. Bahkan secara otomatis melatih diri untuk tidak konsumtif dan pandai bersyukur tentunya.

Sebenarnya masih banyak lagi lembaga yang menerima donasi tiap bulan dari para donatur, mulai dari tingkat lokal sampai nasional, contohnya YDSF dan UNICEF Indonesia.

Begitulah tips dari saya biar gimana jadi anak muda yang ngehits. Perlu diingat, tips seperti ini applicable sekali untuk semua masa, dari zaman para nabi sebelum masehi sampai kiamat nanti. Tidak seperti teknologi, makanan, model pakaian yang bisa berubah-ubah seiring waktu, amalan langsung dari Allah tak akan lekang oleh waktu untuk diaplikasikan.


Begitulah :)


Curhatan Tengah Malam (atau Dini Hari)

Sekarang pukul 2:06 a.m. dan aku lagi panas banget, maksudnya panas lahir dan panas batin. Gimana nggak, aku hampir nggak tidur semalaman ini! Know what? Kipas di kamar sudah cukup lama rusak, hujan sudah jarang turun, tapi nyamuknya Ya Allahhhh.... bikin emosi!!!

Tadi sempet tidur bentar, sebelum kebangun lagi gara-gara nyamuk yang naudzubillah, banyaknya yang entah datang dari mana. Padahal sebelum tidur aku yakin populasi nyamuk di kamar tinggal sedikit karena sebelumnya sudah aku basmi satu-satu. Tapi Ya Allah... :( antara jengkel, marah, sedih, campur-campur jadi satu. Gado-gado kalah deh :(

Sebisa mungkin aku nggak pakai lotion anti nyamuk, karena lotion anti nyamuk itu sebenarnya juga bahaya bagi manusia sendiri kalau dipakai berlebihan. Jujur kalau ada dalam kondisi seperti ini aku bahkan bisa nangis, dan mulai 'menyalahkan' kodratku.

Kodrat apa? Setelah dilakukan beberapa kali penelitian, memang aku udah dari sononya jadi mangsa favorit nyamuk. Katanya sih, orang yang bergolongan darah O itu 'dicintai' nyamuk sebab darahnya enak dan manis (hmmmm....). Parahnya, diantara orang bergolongan darah O lainnya, kok tampaknya hanya aku yang benar-benar disukai nyamuk? :(  Aku tau aku memang manis tapiiiiii.... *plak*

Aku sempat mempertanyakan takdirku ini, Ya Allah, kenapa ya aku begini, sementara orang lain tidak? Lebay biarin deh, emang kenyataannya aku merasa, kenapa ya aku diciptakan begini? Memang apa gunanya buat kehidupanku?

Di tengah kesumukan (baca: kegerahan) tengah malam itu aku akhirnya memutuskan untuk pakai lotion. What happened then? Nggak terlalu mempan saudara-saudara! Padahal selama ini mempan-mempan aja, tuh! Bahkan ketika dosisnya aku tambah, sama sekali nggak ada perubahan. Karena sudah lama sedih, aku udah nggak sanggup lagi buat nangis (bahasanya....). Akhirnya aku putuskan buat bangun dan mulai membuka laptop. Nggak tidur biarin, dah. Percuma dipaksain tidur, nggak bakalan bisa. Percaya, deh.

Sebenarnya aku nggak keberatan kalau kegerahan, asal nggak ada nyamuk, sebab aku masih bisa kipas-kipas pake kardus susu coklatku. Aku benciiiii banget nyamuk, karena sepewe apapun kondisi tempat tidur, tapi kalo ada nyamuk, hancurlah semuanya.

Setidaknya musibah ini membawa berkah. Sekarang udah 2:18 a.m., setidaknya waktu bisa untuk salat tahajud dan lanjut sahur buat puasa qadha. Kalo aku tidur nyenyak belum tentu aku bisa salat dan sahur. Ayo yang lain, biasakan pupuk amalan sunnahnya ya! Dan, apakah hutang puasa Ramadan kalian sudah lunas?


Surabaya, kos-kosan pada dini hari

Rabu, 16 Maret 2016

Transportasi Online vs Transportasi Konvensional (dengan Banyak Penekanan pada yang Terakhir)

Berita di TV lagi rame soal transportasi online vs transportasi konvensional. Aku pribadi nggak bisa bilang lebih memihak salah satu, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

Transportasi online sudah terkenal kepraktisan dan kemudahannya. Orang tinggal download aplikasi buat pesen. Walau nggak pernah pakai jasa model begini, memang sudah terlihat kemudahannya. 

Sedang transportasi konvensional dinilai nggak praktis. Orang harus menunggu angkot atau bus di jalan yang dilalui atau 'menjemput' si tukang ojek di tempat mangkalnya, walau saat ini tukang ojek konvensional pun bisa 'dipanggil' lewat SMS.

As I stated earlier, aku nggak bisa memutuskan mana yang lebih aku pilih, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan transportasi online, selain karena tidak ada peraturannya di Undang-undang, juga berpotensi memperparah pemanasan global dan kemacetan. Ambil saja ojek. Ojek online bisa dipanggil ke rumah, itu sudah bisa menyumbang polusi lebih, apalagi ojek cuma muat buat satu penumpang dewasa. Sebenarnya ini juga berlaku untuk ojek biasa, sih.

Selain itu, maraknya transportasi online juga bisa melemahkan pengendara transportasi konvensional. Mereka yang sebelumnya ekonominya biasa-biasa aja, semakin merana dengan adanya transportasi online, yang konon penghasilannya lumayan itu. Sempat ikutan sedih juga waktu lihat berita tentang demo driver transportasi konvensional, apalagi saat ada supir taksi yang menangis waktu jumpa pers. Ia sedih dan tak terima penghasilan ia dan kawan-kawan menurun gara-gara transportasi online yang tidak dilindungi hukum itu.

Di sisi lain, kendaraan konvensional juga ada kekurangannya. Kurang praktis, walau sudah ada yang bisa dipesen seperti taksi yang bisa ditelepon dan ojek yang bisa di SMS untuk menjemput penumpang. Namun, kendaraan seperti angkot dan bus tentu saja tidak bisa. Selain itu, kekurangan angkutan seperti angkot dan bus yaitu dari segi jumlah armada, jangkauan wilayah, harga, dan kondisi kendaraan itu sendiri.

Kalau menurutku ya (CMIIW), jumlah kendaraan umum yang ada di Indonesia kurang dibandingkan yang ada di negara lain, utamanya di negara maju. Selama ini di film dan realita aku lihat orang-orangnya sering pakai transportasi umum. Pikirku, selain karena orang-orangnya sadar untuk menggunakan transportasi massal, mungkin karena jumlah kendaraan umum disana memadai, hingga orang tak perlu jalan jauh untuk menjangkau dan menunggu lama.

Kalau soal jangkauan wilayah, ya begitu ya... pasti ada angkutan umum seperti angkot dan bus yang hanya menjangkau daerah ramai. 

Nah, kalau soal harga ini, bagiku jadi masalah besar juga. Mungkin sekarang ongkos angkot Rp 5000 ya, mahal menurutku. Memang sih, BBM jadi lebih mahal dari beberapa tahun lalu, namun jika dibandingkan dengan pakai motor sendiri, masih lebih hemat naik motor sendiri (terlepas dari pembahasan utama mengenai kendaraan online vs konvensional). Kasihan juga sama orang yang kemana-mana tergantung sama angkot, utamanya orang kecil. Kalau menurutku, bagaimana kalau dibuat sistem kayak di luar negeri aja. Aku memang kurang tau transportasi umum disana terhitung murah atau bukan, tapi ada suatu sistem dimana orang-orang bisa beli paket naik bus selama sebulan, misalnya. Anggap saja harganya Rp 500.000 ya, jadi harga segitu bisa pakai bus sepuasnya selama sebulan (cmiiw). Dan pelajar (siswa dan mahasiswa) tentu saja dapat harga lebih murah dibanding non pelajar.

Terkahir, kondisi kendaraan, Siapapun setuju kalau transportasi konvensional di Indonesia banyak yang memprihatinkan. Ini juga yang mungkin memengaruhi orang yang malas naik kendaraan umum.

After all, menurutku pemerintah harus berani untuk berinvestasi dalam jumlah besar untuk memerbaiki kendaraan umum. Ini sudah ada di pikiranku sejak lama sekali, dan mungkin juga banyak orang yang berpikiran sama. Setelah itu, pemerintah bisa menekankan pentingnya menggunakan transportasi massal/umum. Sebenarnya aku juga pengen dan kengen kemana-mana naik kendaraan umum seperti dulu. Aku juga pengen kemana-mana bisa naik kendaraan umum yang bagus seperti di Barat sana. 


Senin, 29 Februari 2016

Aku Tertipu!! -___- "

Ada yang belum tahu cara cari uang dari internet, semacam pay per click begitu?

Pertama kali perkenalanku dengan cara cari duit begini sudah dari dulu SMP atau SMA, semacam Google Adsense atau Amazon. Nah, barusan hari ini aku 'kenalan' lagi sama salah satu turunannya.

Namun turunan satu ini sangat jauh berbeda dengan AdSense. Ceritanya begini:

Di grup WA ada yang menyebarkan info cari duit dari web youthtoearn.com. Karena penasaran dan lagi nganggur (butuh duit juga! hehe) maka aku buka web nya di laptop. Setelah baca-baca teknisnya, aku coba daftar. Ternyata cara kerjanya itu tinggal daftar, lalu menyebarkan link punya kita ke orang-orang. Tiap ada orang yang klik link kita itu akan dapat $ 5. Aku masih nggak ngeh kalau $5 itu jumlahnya besar untuk kerjaan macam gitu. Dulu aku pernah ikutan begitu cuma dibayar $0.001 kalau nggak salah.

Nah, namanya juga masih nyoba dan herannya aku nggak curiga apa-apa, kehipnotis kali ya :P begitu akun jadi, langsung dapat $20. Kita baru bisa narik uangnya kalau udah kekumpul $300. Nah, karena kepingin dapet uang segitu, akhirnya aku nyebarin lewat grup WA. Tak disangka datang 'kecaman'. Emang sih, aku juga rada nggak percaya juga dapat info kaya gitu. Kebetulan aja lagi nganggur dan butuh uang (makanya jangan suka nganggur dan jangan sampai butuh uang tingkat akut ya :P) makanya mau nyoba-nyoba. Ada beberapa yang sinis dan nggak percaya. Bukan aku yang punya website, jadi aku nggak terima 'dibodoh-bodohi' gitu. Ditantang kirim screenshot buktinya, sampe aku kasih juga! Dituruti begitu mereka nggak tambah lunak, malah tambah 'mengejek' gitu...

Sedih sih. Ada yang saranin cek aja di google apa itu scam atau nggak (walau masih dengan nada ngejek). Ketika aku cari di Google, emang ternyata terbukti web ini tidak dapat dipercaya, lokasinya dan pemiliknya kurang jelas, dan masih baru. Baru dua bulan, namun di web nya tertulis berdiri sudah sejak 2010. Ketika aku ngetik tulisan ini, 'uangku' disana sudah ada $50.

Ya sudahlah... lupakan cara dapat duit dengan cara instan. Seharusnya masyarakat nggak gampang dipengaruhi, apalagi mahasiswa macam gueh gini (hmmmm....). Kalau in summary, web itu jelas nggak bener karena:

1. Nggak pake http, apalagi https. Karena syaratnya agar bisa trusted yang harus punya salah satu dari dua itu. Dilihat dari 'fungsinya', paling nggak ini web punya https, karena mengandung data-data pribadi dari user.

2. Sejalan dengan poin nomor 1. Kalau diingat memang waktu register aku nggak dimintai yang macam-macam kaya masukkan kode captcha(biar nggak disangka robot gitu). Syaratnya mudah banget. Bahkan ketika aku cek di email, nggak ada notif apa-apa dari itu web, padahal normalnya pasti ada, entah cuma kirim link untuk konfirmasi email atau ucapan selamat datang.

3. Tampilan webnya minimalis.

Itu aja sih poin-poin yang meragukan. Kalau ada tambahan pasti ditambahin lagi.

In short, hati-hati aja dan bijak dalam menggunakan teknologi. Jangan mau jadi korban, apalagi jadi penipunya. Dosanya besar tau. Selain itu juga ngerugiin orang banyak, baik dari segi waktu, tenaga, dan lain-lain.

Jumat, 15 Januari 2016

Tradisi 'Pelicin' untuk Dosen Ketika Ujian Skripsi

Hampir dua tahun yang lalu saya melihat sesuatu yang baru dalam dunia perkuliahan. Saat itu teman kos saya (panggil saja Mbak kos) akan mengikuti ujian/sidang skripsi. Yang membuat saya terkejut adalah ketika ia bilang kalau ia harus menyiapkan ‘hadiah’ untuk tiga orang pengujinya, semacam makanan, tapi bukan sekedar kosumsi roti dalam kardus yang biasa buat konsumsi jika ada acara. Terdiri dari makanan ringan sampai berat beraneka rupa. 

Saya heran, kenapa harus begitu? Mbak kos berkata kalau itu adalah semacam ‘tradisi’, mahasiswa memberi konsumsi atau hadiah bagi dosen penguji dan pembimbing. Sebenarnya dia juga tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi, semua mahasiswa melakukan itu. Aku lebih tidak setuju lagi. Itu peraturan dari mana? Menurutku, menguji dan membimbing mahasiswa itu sudah menjadi kewajiban dosen. Mereka sudah dibayar.

Dan sekarang saya hampir berada di posisi Mbak kos waktu itu. Yang bikin saya badmood adalah beberapa hari lagi saya ujian seminar (proposal skripsi) dan teman-teman sudah ramai membicarakan tentang ‘konsumsi’. Ternyata parahnya, memberi konsumsi sudah ada bahkan sebelum mulai menyusun skripsi! 

Saya tak habis pikir. Alasan paling utama saya tidak setuju adalah bahwa hal ini tidak ada peraturannya. Ini kewajiban dosen dan mereka sudah digaji. Yang kedua, tidak semua mahasiswa punya uang lebih, saya contohnya (curcol). Saya mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, yang tanpa beasiswa ini saya kesulitan untuk bisa kuliah. Saya terbiasa menyeleksi mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak, dan hal ini termasuk ‘yang tidak’. Bukannya saya pelit, namun saya bukan orang yang menyenangi korupsi. Memang ada yang berpendapat bahwa ini sebagai tanda apresiasi kita karena dosen menguji mahasiswa dari pagi sampai sore, namun sekali lagi ini adalah kewajiban mereka. Logikanya begini. Ketika ikut kuliah reguler sehari-hari apa kita menyediakan konsumsi untuk dosen? Tidak, kan? Atau begini. Jika kita keluar rumah untuk suatu keperluan cukup lama, kita harus bertanggung jawab atas kebutuhan makan minum kita sendiri, entah bawa bekal dari rumah atau beli di tempat tujuan. Yang ketiga, mungkin juga ada mahasiswa yang cukup uang namun punya pendapat yang sama dengan saya. 

Terus terang saja hal ini membuat saya bertambah badmood, padahal jam dua belas saja masih belum saya lewati. 

Jika ada yang berkomentar pro dan kontra, silakan dengan alasan yang kuat. Saya terbuka dengan pendapat lain. Namun sejauh ini, saya tidak setuju karena alasan-alasan yang sudah saya utarakan di atas. Menurut saya, dilihat dari peristiwa ini pun bisa diketahui bahwa bangsa ini memang bermental korupsi. Saya yakin sekali bahwa tradisi ini muncul awalnya adalah karena ingin menyogok dosen biar jalannya ujian bisa dipermudah.


dimuat di Kompasiana saya