Rabu, 10 Juni 2015

Jauhi Udang Agar tak Sengsara

            Tadi itu malam kedua aku nggak bisa tidur nyenyak gara-gara udang, bahkan tadi itu lebih parah dari yang kemarin. Tidur sekitar jam setengah sebelas malam dan bangun jam setengah dua pagi, tanpa tidur lagi.

            Aku punya alergi makanan. Sebelumnya aku nggak punya alergi, dan aku pikir alergi makanan kaya gitu biasanya kan sejak dari kecil. Nah, sejak kecil aku nggak pernah rewel alergi kalau makan makanan tertentu.

            Kejadiannya bermula sudah setahun lalu, waktu aku gatal-gatal nggak sembuh di tangan (telapak tangan, jari, dan sela-sela jari). Gatel banget. Apalagi kalau kumat gatelnya, walah rasanya pengen nangis aja. Habis gitu, kulitnya mblenduk kecil-kecil, kaya ada isi cairannya. Aku yang dasarnya gampang ngeri (termasuk sama gangguan kulit) rasanya takut ngeliat begituan.

            Bodohnya, aku ngira kalau aku mungkin alergi nasi. Langsung deh aku ganti makan roti dimodel sandwich begitu. Enak sih, dan syukurnya nggak bosenan. Isinya aku kasih telur dan sebangsa goreng-gorengan macam nugget (tapi KW, maklum anak kos).

            Rasanya dunia agak hancur (kalau boleh hiperbola) kalau beneran aku alergi nasi. Terus, kalau aku nggak di kos, aku mau makan apa? Masa ya aku bilang kalau alergi nasi? Rasanya bakalan dianggap aneh sama orang-orang.

            Dan memang aku aneh, agak bodoh juga. Aku pikir karena aku nggak punya banyak uang untuk periksa ke dokter, aku membiarkan diriku berada pada masa trial and error. Aku jadi tukang hipotesa.

            “Jangan-jangan aku begini...”
            “Mungkin aku begitu...”
            “Aku bakalan coba buat begini ah....”

            Beberapa bulan aku begitu, sambil tetep menahan kesabaran dihadapkan pada gatal yang tak kunjung sembuh. Setiap hari aku harus bolak-balik pake bedak H****yn buat mengurangi gatal. Mengurangi ya, bukan menyembuhkan. Kalau efeknya udah habis, ya siap-siap gatal lagi.

            Ketika nyambangi adek, ternyata dia juga punya gatal-gatal yang selama ini aku kurang tahu. Dibilangnya aku mungkin kena scabies kaya dia, jadi aku disuruh pake krim scabicid.

            Manjur sih, tapi di awal-awal doang. Lama kelamaan aku mulai curiga jangan-jangan aku nggak kena scabies, karena diolesi sampe habis satu tube pun masih gatel-gatel.

            Dan ini yang buat aku nggak habis pikir karena aku bisa segitu bodohnya. Aku baru ingat, di dekat tempat kosku ada puskesmas yang of course ONGKOSNYA MURAH. Rasanya bener-bener jadi orang bodoh, membiarkan diriku beberapa bulan ada dalam masa penderitaan yang tidak perlu, seakan-akan bertanya, “Kemana aja kamuuuu??? Puskesmas sedekat ini kok malah nggak kepikiran?”

            Namun ini setidaknya membuktikan bahwa aku:
1) Berorientasi masa depan. Saking futuristisnya, puskesmas sedekat itu malah nggak mampir sedikitpun di pikiranku;
2) Imajinatif, karena aku berpikir “Jangan-jangan aku kena...”, “Jangan-jangan aku alergi....”;
3) atau malah LEMOT. Kalau aku pikir yang terakhir ini memang iya, walaupun mungkin orang-orang kurang bisa lihat karena sehari-hari aku nggak kelihatan segitu dungunya. Tapi kalau sudah ngobrolin sesuatu yang aku kurang suka (apalagi kalau sama orang yang lebih ‘ahli’), aku bisa kelihatan kayak orang kudet yang nggak tahu apa-apa. Contohnya saja ngomongin RPP. Aku yang sebenarnya salah prodi ini (pengakuan, hehe) merasa lemot dan bodoh kalau ngomongin RPP, terutama sama teman yang lebih bisa.

            Balik lagi ke puskesmas. Ternyata, penyakitku ini butuh tindakan yang teramat simple: ke puskesmas, registrasi, diperiksa, ambil obat. UDAH ITU AJA. Ketika tahu kebenarannya, disitu saya merasa sedih. Ternyata masalah sebenarnya bisa diselesaikan hanya dalam satu hari. Dari puskesmas aku diberi dua pil, satu kapsul, dan satu tube salep, yang dipakai 2-3 kali sehari. Besoknya sudah berkurang banyak rasa gatal dan kuantitas mblendukan-nya. Rasanya super bersyukur, akhirnya penderitaan selama beberapa bulan sudah berakhir. Dan tahu apa kata dokternya waktu di puskesmas?

“Ini alergi. Jangan makan telur, ayam, makanan laut.”

            Aku merasa bodoh dan lega secara bersamaan. Ternyata, owalah.... :getok kepala sendiri:

            Tapi dilarang dari yang enak-enak itu emang nggak enak. Aku jarang makan makanan laut, jadi gampang buat menghindari. Kalau telur, ya memang enak sih, tapi aku bisa menghindari makan telur. Nah, ayam ini yang nggak bisa. Sedikit-sedikit aku masih makan ayam, sampai akhirnya aku keseringan makan ayam dan nggak ada efek apa-apa padaku. Yuhuuu... berarti ada dua kemungkinan: diagnosis dokternya salah; atau, kebanyakan makan ayam jadi obat tersendiri bagiku :hipotesa ngarang sendiri:

            Balik lagi ke present time. Aku ngetik tulisan ini sambil garuk-garuk tangan ini (gatel bo’). Tadi malam sebelum tidur aku ke apotik (karena puskesmas nggak mungkin buka), beli krim yang dulu aku pake dari puskesmas, namanya Hydrocortisone. Disitu tertulis kalau harus dengan resep dokter. Aku sih masa bodoh aja, karena aku mikir itu nggak pengaruh dan yang penting aku nantinya bisa tidur nyenyak.

            Ternyata itu ada benarnya. Memang harus dengan resep dokter. Aku udah habis bagaimana banyaknya memang nggak sembuh. Mungkin memang harus ke puskesmas biar dikasih sekalian sama pil-pilnya. Waduh, harus nunggu esok hari nih, mana harus ke kampus lagi, sempat nggak ya?

             Gara-gara gatal ini, kedua tanganku (utamanya yang kanan—dari dulu selalu kanan yang paling parah) jadi bengkak dan kelihatan jelek banget.

          
Padahal aslinya nggak segendut ini

 
            Bahkan kaki juga gatal, walau nggak seberapa mengganggu.

            Di lengan bawah kedua tangan (bagian antara pergelangan tangan dan lengan atas) malah kena bercak-bercak, jadi merah-merah gitu, walaupun ga gatal sama sekali sih...

            Pesanku sih, kalau memang sudah didiagnosis sesuatu dan terbukti, baiknya dituruti saja nasihat dokter. Pengecualian tentang ayam, ternyata udang memang berbahaya buatku. Kerang juga. Yah, padahal aku suka sama makanan itu. Dulu aku nggak habis pikir, kok ada ya yang alergi udang? Padahal enak banget lho...

            Udahlah, aku kapok makan itu lagi, walapun enaknya gimana. Daripada aku harus menderita lagi, lebih baik aku menghindari makan telur dan makanan laut. Mmmm... mungkin boleh ya masih makan, tapi dengan dosis yang minim sekali :peraturan bikin sendiri: