Sabtu, 23 Mei 2015

Diet

Terakhir kali bener-bener diet (yang bener-bener ya) waktu SMP kalau nggak salah. Setahuku bisa turun sampai 5 kg. Bagaimana rahasianya?

Simpel. Kurangi porsi makan.

Itu aja?

Seingatku sih, iya. Ya mungkin dibarengi dengan banyak minum air putih (sejak saat itu sampai sekarang minumku banyak, sampai kemana-mana bawa minum sendiri), makan buah, makan sayuran. Tapi yang normal-normal aja kok. Nggak sampai ngoyo segitunya. Yang pokok ya itu tadi: kurangi porsi makan. Makan masih normal, tiga kali sehari. Hanya saja porsinya dikurangi. Kalau takaran normalnya satu piring, maka waktu diet jadi setengah atau paling banyak tiga per empatnya.

Aku juga sudah lupa berapa lama waktu yang aku butuhkan tepatnya buat turun sampai 5 kg, tapi seingatku nggak lama-lama amat. Ya dibuat enjoy saja, nggak usah dirasain, toh aku tetep makannya tiga kali sehari.

Kuliah ini aku pengen diet lagi, walaupun bisa dibilang berat badanku ideal. Tapi ada yang bilang kalau cewek itu rempong soal berat badan. Dikit-dikit bilang gendut lah. Tapi anehnya, dibilang gendut rada tersinggung, tapi dibilang nggak gendut juga menolak. "Ah, pokoknya aku ini gendut!" Titik.

Diet kali ini, yaitu dengan konsumsi oatmeal, tepatnya pake Quaker. Itu lho, yang biasanya ada di tv. Temanku bilang, adiknya yang gendut bisa turun 5 kg dalam tiga hari dengan makan Quaker. Tapi ya cuma makan itu doang, nggak boleh ngemil macam batagor, apalagi makanan berat kayak nasi. Dia sendiri bilang kalau ia ngerasa agak enteng setelah konsumsi Quaker. Yah pikirku, orang gendut aja bisa tahan cuma dengan makan Quaker doang, kenapa aku nggak?

Berbekal duit yang menipis, aku pergi ke salah satu convenient store buat beli itu Quaker. Pikirku, ini juga bisa sebagai langkah penghematan karena cuma makan Quaker tanpa ngemil apalagi makan nasi. Tiba disana, aku bingung pilih yang kemasan warna biru atau merah. Harga yang merah lebih mahal seratus rupiah ketimbang yang baru. Aku nggak tau bedanya mereka apa. Aku pikir yang merah itu rasa strawberry dan yang biru nggak ada rasanya, tapi ternyata di kemasan si merah nggak ada keterangan kalau rasanya strawberry.

Akhirnya aku pilih yang biru aja, toh sama-sama nggak ada rasanya dan bisa berhemat seratus rupiah pula, hehehe. Tapi ketika aku ambil si biru dari rak, di belakangnya ternyata ada si biru yang lain yang ada bonus tempat makanan kecilnya. Naluri manusia ya, apalagi perempuan, apalagi mahasiswa dengan budget pas-pasan, pasti seneng sama yang namanya gratisan. Si biru pertama aku letakkan, lalu aku ambil si biru kedua yang ada bonusannya.

Saking khawatirnya ketipu, aku sampai make sure ke salah satu pegawai, "Mas, ini beneran gratis, ya?". Untungnya itu benar-benar gratis, karena setelah dibayar di kasir harganya sama dengan si biru yang nggak ada bonusannya. Oh ya, aku juga beli susu kental manis coklat karena temanku sudah kasih warning kalau Quaker itu rasanya kaya kertas, alias nggak ada rasanya, hambar.

Awalnya aku bingung gimana cara makannya. Di kemasannya tertulis kalau nggak perlu dimasak. Di bagian instruksipun nggak disuruh tuang pake air panas seperti kalo mau masak super bubur. Yah, mungkin Quaker ini agak ajaib, jadi pakai air biasa pun bisa jadi kaya bubur (pikirku Quaker itu jadinya kaya bubur). Tapi ternyata tidak saudara, malahan jadinya *maaf* agak menjijikkan. Seperti produk sereal gagal.

Ternyata kalau mau sedikit lebih enak dan lunak memang harus pakai air panas (panas, bukan hangat). Walaupun sudah begitu, ditambah susu lagi, tetep aja rasanya gimanaaa gitu. Coba pakai buah ternyata mendingan lah, walau masih tetep agak gimanaaa gitu.

Katanya sih kalau kandungan serat tinggi bisa mencegah gampang lapar. Tapi aku nggak gitu booo.... Dikit-dikit lapar, sampai akhirnya aku nggak kuat, akhirnya aku makan nasi satu porsi, atau juga ngemil segala macem malam-malam. Rasanya hampa gitu kalau cuma makan itu-itu doang, apalagi yang rasanya nggak familiar gitu.

Makanan sehat, apalagi yang buat diet, emang biasanya kurang mengesankan :'D