Rabu, 28 Januari 2015

'Disuruh' Jadi Pemain Sirkus (Sama Pak Polisi)!

Aku baru bisa nyetir motor belum lama, baru sekitar satu setengah tahun. Tapi, lihat umurku yang sudah segini menurutku agak terlambat buat dapat SIM. Selama ini aku motoran di jalan modal nekat aja, berharap nggak ketemu pak polisi, apalagi dirazia. Namun, sebagai warga negara yang baik, tentunya aku pasti kepikiran buat bikin SIM, tentunya dengan jalan yang halal.

Singkatnya, karena sekarang ini lagi liburan semester (walaupun nggak begitu lama), aku berniat bikin SIM C di polres kota asal. Aku pikir tesnya nggak segitu sulit (termasuk tes praktik), tapi nyatanya???

Aku masih terima waktu aku nggak lulus tes teori, toh bukan masalah yang begitu besar. Untungnya, hari Selasa kemarin aku tes teori lagi dan lulus.

Mulai saat itu, aku benar-benar mikirin yang namanya tes praktik. Seumur-umur, baru pertama kalinya aku datang ke polres sebelum daftar SIM, aku coba latihan di lintasan tes praktik dan alamak... susah abis! Berkali-kali nyoba, dan aku baru bisa jalur angka delapan doang (FYI, jalur yang paling susah buatku itu cuma jalur delapan dan jalur zig-zag).

Memang jalur zig-zag itu jadi momok abadi bagi para pelamar SIM. Temanku bahkan mendedikasikan malam-malamnya setiap hari selama bulan puasa kemarin cuma buat nyiapin tes praktik.

Kalau dipikir-pikir, rasanya nggak masuk akal sekali tes praktik ini, utamanya jalur zig-zag ini. Logikanya, orang mana yang sudi berzig-zag ria di jalan raya kecuali dia itu ababil dan orang hilang kesadaran (baca: peminum alkohol dan pecandu narkoba)?? Pantas saja sulit sekali untuk peserta ujian bisa lolos tes praktik ini.

Kata polisinya sih, biar untuk keterampilan tambahan aja. Hellow.... Pak Polisi, keterampilan itu sifatnya optional, dan kami para peserta saya jamin nggak mau repot-repot punya keterampilan seekstrim itu untuk diaplikasikan di jalan raya, kecuali kami ini aktivis sirkus?? Ada-ada aja alasannya. Saranku, kalau tetap mau ngotot mengadakan jalur zig-zag sesempit itu, gimana kalau patok pembatasnya dihilangkan semua? Pernah karena penasaran, waktu latihan di sore hari patoknya aku jatuhin semua, terus aku lewat jalur itu. Hasilnya? Aku berani jamin aku berhasil tanpa sedikitpun keluar garis kuning.

Walaupun saat ini aku lagi libur kuliah dan jadi penganggur, tapi bukan berarti aku nggak masuk kuliah lagi selamanya, kan? Sama saja dengan peserta ujian lain, apa mereka semua itu penganggur yang nggak masalah bolak-balok polres dan latihan setiap hari??

Sore ini, yang biasanya aku latihan setiap hari, aku jadi absen latihan karena puncak kekesalanku akan tes praktik ini. Aku mulai bosan, karena progresku cuma sampai gitu-gitu aja. Bukannya aku malas atau kurang latihan, tapi karena itu tadi, BUAT APA SIH JALUR ZIG-ZAG SEMPIT SEPERTI ITU? KAMI MAU DAPAT SIM APA LATIHAN BUAT JADI PEMAIN SIRKUS? Nggak masalah jalur zig-zag seperti itu, asal patoknya dihilangkan semua, atau jalurnya tetap pakai patok tapi lebih dilebarkan.

Melihat fenomena ini, nggak heran rasanya kalau banyak yang nembak buat dapat SIM. Memang, di polresku katanya sudah nggak ada calo lagi, tapi kalau tes praktik yang nggak masuk akal ini tetap dipertahankan, membunuh perasaan orang pelan-pelan namanya! Harusnya, kalau ingin orang lewat jalur halal, tes SIM tidak perlu sesusah ini. Kalau begini caranya, siapapun juga ada keinginan buat nembak, walaupun sedikit. Kalau nanti ditanya Tuhan, kan bisa pakai alasan ini: "Kan ujiannya susah sekali, diluar standar kemampuan orang kebanyakan." Hayo, kalau begitu, apa pantas pelamar SIM yang dipersalahkan polisi? Mereka yang mendorong untuk berbuat jujur, tapi mereka sendiri yang menyulitkan? Percaya deh, kalau ujian praktiknya tingkat kesulitannya masuk akal, orang-orang bakalan puas sama pelayanan polisi yang rentan 'becek' itu. Mengurangi jalur gelap memang tidak cukup dengan memberantas calo, tapi juga dengan meninjau ulang standar kelulusan ujian SIM, terutama ujian praktik itu.

Aku sih nggak bisa selalu menyalahkan orang-orang yang nembak itu, karena sebagian dari mereka memang punya pertimbangan masuk akal. Yang kerja lah, yang sekolah lah, yang tinggal di luar kota lah...

Jujur saja, kalau sudah begini ini yang bikin aku malas tinggal di Indo. Tanah air sendiri tapi tidak bisa memberikan pelayanan yang memadai bagi warganya, mau bikin SIM, mau jadi pengguna jalan yang taat aja masih dipersulit. Makanya, nggak heran kalau banyak yang nggak suka polisi, bahkan saudaraku terang-terangan sinis pada polisi, bahkan tidak sudi kalau punya suami polisi, hehehe. Katanya, polisi yang pernah menilangnya itu sok keren bisa nilang orang, sok ganteng.

Percakapan mereka waktu itu:

P: Dibuka dong helm dan maskernya, nggak sopan amat sih sama polisi.
S: (sambil buka helm dan masker) Bapak juga nggak sopan sama saya!

Hehehe... Udah digituin, si polisi masih aja sok tebar pesona, berlagak ganteng dan berkuasa. Cuih... situ kira situ keren apa? Ditawari calon suami polisi seganteng dan sesoleh apapun saya aja harus mikir sejuta kali dulu!