Sabtu, 10 Oktober 2015

Oh, Tukang Koran...

            Baru saja aku selesai kelas Bahasa Mandarin di Rumah Bahasa, aku langsung meluncur ke bagian lain dari komplek Balai Pemuda Surabaya. Kebetulan sedang ada book fair disitu. Sebenarnya dua hari lalu sudah kesitu sih, tapi akhirnya kepingin kesitu lagi karena masih ada buku yang masih dibeli. Mumpung murah, hehe. Buku-buku yang kubeli rata-rata harganya 15.000, ada yang 12.000, malah ada yang 10.000. Kalau begitu yang ada rasanya kalap pengen ngeborong seluruh isi pameran.
            Biasanya kalau sudah kalap belanja, rasanya rada khilaf begitu. Akupun demikian. Yah, namanya juga cewek. Kalau belanja kan seneng, tapi kalau sudah kebanyakan belanja jadinya khilaf deh.
            Nah, inti ceritanya dimulai ketika aku keluar dari pintu exit ke tempat parkiran. Begitu turun meniti tangga, ada laki-laki yang menawarkan koran. Kelihatannya sih masih bisa dibilang mas-mas gitu lah ya. Yah, kalau baca koran sih mendingan pinjem aja daripada beli. Lagian, sudah lewat maghrib juga. Pastinya itu koran sisa pagi tadi. Aku menolak mas-mas itu dengan halus.
            Ketika sudah duduk di atas motor, aku inget kalau belum menukarkan struk belanja dengan kupon undian. Aku balik lagi ke pintu masuk book fair. Setelah mengurus ini itu, aku balik lagi ke parkiran, duduk di atas motor sambil main hape. Setelah cukup, aku pasang masker, siap untuk pulang.
            Nah, waktu itu si mas-mas datang lagi, nawarin koran. Sama seperti sebelumnya, aku menolak halus, namun aku masih disitu, belum bersiap untuk menegakkan motor. Mas-mas itu, tanpa berusaha untuk kelihatan pantas untuk dikasihani, berkata kalau koran yang dibawanya masih banyak. Benar juga, ya, padahal sudah semalam itu. Beberapa jam lagi sudah ganti hari dan pastinya korannya tidak laku.
            Dibilang begitu, sontak hatiku terusik (heah, bahasanya bahasa novel amat). Aku bertanya, “Jawa Pos berapa Mas?”
            “Empat ribu Mbak.”
            Harga normalnya sih lima ribu, tapi karena sudah malam ya jadi dimurahin. Refleks aku ngulurin uang lima ribu sekalian.
            “Sekalian lima ribu aja ya, Mas.”
            “Alhamdulillah, barakallah, semoga berkah, Mbak.” Si Mas menerima uang dengan perasaan syukur yang kentara sekali.
            Nyessss.... rasanya hati ini campur aduk, antara terharu, tersanjung, bahagia, dan entah apalagi. Dari tadi memang si mas perkataannya baik dan sopan. Kurang bisa merinci, namun diantaranya yaitu si Mas masih sempet-sempetnya ngingetin aku yang mungkin sedikit teledor di matanya. Mulai dari meletakkan hape sembarangan di pangkuan sampai dompet juga.
            “Hapenya dibenerin dulu, Mbak, jangan ditaruh begitu, nanti jatuh.”
            Sekitar dua kali beliau mengingatkan begitu. Aku yang sudah biasa begitu hanya cengengesan. Yah, mungkin menurutnya aku agak serampangan, menaruh hape dengan posisi yang rentan membuat hapenya jatuh.
            Yang membuatku teringat pada beliau yaitu ekspresi bersyukurnya ketika menerima uang dariku. Aku nggak bisa lupa itu. Aku bisa merasakan kalau beliau orang yang tulus dari perkataannya yang sopan, tidak memaksa, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Aku yang belum tentu membeli korannya, dengan baik hatinya diperingatkan agar hati-hati memerlakukan hapeku, yang mungkin di matanya merupakan suatu benda yang mewah. Padahal hapeku itu, walaupun android, termasuk agak jadul jika dibandingkan dengan punya teman-temanku. Yang lain punya hape keluaran terbaru, contoh saja samsul sampai apel growak, sementara hapeku sudah berumur dua tahun dan mulai penyakitan. Untuk dipakai selfie pun malu, karena kamera depannya kurang bagus, tidak seperti punya teman-teman.
            Sepeninggal si mas koran, refleks aku langsung nangis. Perasaanku campur aduk, sampai aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk ditulis disini. Beneran. Sampai di jalan raya pun aku masih nangis. Aku baru berpikir kenapa aku nggak kasih beliau uang sepuluh ribu saja, namun aku punya pertimbangan. Aku takut kalau beliau merasa tersinggung atau apa, namun setelah kupikir, tampaknya beliau bukan orang seperti itu. Uang seribu rupiah saja sangat disyukuri, apalagi enam ribu rupiah. Rasanya ingin ngajak ngomong si Mas sebenarnya, tapi takut mengganggu pekerjaannya. Beliau dikejar waktu untuk menghabiskan dagangannya yang terancam tak laku.
            Aku masih ingat ketika aku bertanya, “Jualan dari pagi?”
            “Iya, Mbak. Ya begini ini, kalau jualan kadang laku kadang nggak.”
            “Jualan dimana aja, Mas?”
            “Dimana-mana Mbak, ini dari tadi muter-muter.”
            Ya Allah, speechless...
            Aku mau sharing ini bukan karena berniat riya’ atau bagaimana, namun hanya ingin sharing pengalaman dan pelajaran hidup. Silahkan disimpulkan sendiri pelajaran dari peristiwa ini, karena aku terlalu speechless untuk merangkai kata inspirasi yang datang dari si mas penjual koran.
            Right now, I am sitting here with the newspaper I bought from him. May Allah always light his way and give much of His blessings every day.
            Koran kenangan, yang dibeli ba’da Maghrib, 7 Oktober 2015 di hari Rabu di parkiran Balai Pemuda Surabaya. Uang yang kukeluarkan hanya lima ribu rupiah, namun pelajaran yang didapatkan tak bisa diukur dengan uang. Kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, pernyataan itu tidak sebenuhnya benar. Buktinya, dengan mengeluarkan uang segitu, aku bisa bahagia, lebih dari bahagia karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Jadi dengan kata lain, aku telah membeli kebahagiaan itu, dengan uang pastinya.


Finished: around 8.04 p.m.

Rabu, 10 Juni 2015

Jauhi Udang Agar tak Sengsara

            Tadi itu malam kedua aku nggak bisa tidur nyenyak gara-gara udang, bahkan tadi itu lebih parah dari yang kemarin. Tidur sekitar jam setengah sebelas malam dan bangun jam setengah dua pagi, tanpa tidur lagi.

            Aku punya alergi makanan. Sebelumnya aku nggak punya alergi, dan aku pikir alergi makanan kaya gitu biasanya kan sejak dari kecil. Nah, sejak kecil aku nggak pernah rewel alergi kalau makan makanan tertentu.

            Kejadiannya bermula sudah setahun lalu, waktu aku gatal-gatal nggak sembuh di tangan (telapak tangan, jari, dan sela-sela jari). Gatel banget. Apalagi kalau kumat gatelnya, walah rasanya pengen nangis aja. Habis gitu, kulitnya mblenduk kecil-kecil, kaya ada isi cairannya. Aku yang dasarnya gampang ngeri (termasuk sama gangguan kulit) rasanya takut ngeliat begituan.

            Bodohnya, aku ngira kalau aku mungkin alergi nasi. Langsung deh aku ganti makan roti dimodel sandwich begitu. Enak sih, dan syukurnya nggak bosenan. Isinya aku kasih telur dan sebangsa goreng-gorengan macam nugget (tapi KW, maklum anak kos).

            Rasanya dunia agak hancur (kalau boleh hiperbola) kalau beneran aku alergi nasi. Terus, kalau aku nggak di kos, aku mau makan apa? Masa ya aku bilang kalau alergi nasi? Rasanya bakalan dianggap aneh sama orang-orang.

            Dan memang aku aneh, agak bodoh juga. Aku pikir karena aku nggak punya banyak uang untuk periksa ke dokter, aku membiarkan diriku berada pada masa trial and error. Aku jadi tukang hipotesa.

            “Jangan-jangan aku begini...”
            “Mungkin aku begitu...”
            “Aku bakalan coba buat begini ah....”

            Beberapa bulan aku begitu, sambil tetep menahan kesabaran dihadapkan pada gatal yang tak kunjung sembuh. Setiap hari aku harus bolak-balik pake bedak H****yn buat mengurangi gatal. Mengurangi ya, bukan menyembuhkan. Kalau efeknya udah habis, ya siap-siap gatal lagi.

            Ketika nyambangi adek, ternyata dia juga punya gatal-gatal yang selama ini aku kurang tahu. Dibilangnya aku mungkin kena scabies kaya dia, jadi aku disuruh pake krim scabicid.

            Manjur sih, tapi di awal-awal doang. Lama kelamaan aku mulai curiga jangan-jangan aku nggak kena scabies, karena diolesi sampe habis satu tube pun masih gatel-gatel.

            Dan ini yang buat aku nggak habis pikir karena aku bisa segitu bodohnya. Aku baru ingat, di dekat tempat kosku ada puskesmas yang of course ONGKOSNYA MURAH. Rasanya bener-bener jadi orang bodoh, membiarkan diriku beberapa bulan ada dalam masa penderitaan yang tidak perlu, seakan-akan bertanya, “Kemana aja kamuuuu??? Puskesmas sedekat ini kok malah nggak kepikiran?”

            Namun ini setidaknya membuktikan bahwa aku:
1) Berorientasi masa depan. Saking futuristisnya, puskesmas sedekat itu malah nggak mampir sedikitpun di pikiranku;
2) Imajinatif, karena aku berpikir “Jangan-jangan aku kena...”, “Jangan-jangan aku alergi....”;
3) atau malah LEMOT. Kalau aku pikir yang terakhir ini memang iya, walaupun mungkin orang-orang kurang bisa lihat karena sehari-hari aku nggak kelihatan segitu dungunya. Tapi kalau sudah ngobrolin sesuatu yang aku kurang suka (apalagi kalau sama orang yang lebih ‘ahli’), aku bisa kelihatan kayak orang kudet yang nggak tahu apa-apa. Contohnya saja ngomongin RPP. Aku yang sebenarnya salah prodi ini (pengakuan, hehe) merasa lemot dan bodoh kalau ngomongin RPP, terutama sama teman yang lebih bisa.

            Balik lagi ke puskesmas. Ternyata, penyakitku ini butuh tindakan yang teramat simple: ke puskesmas, registrasi, diperiksa, ambil obat. UDAH ITU AJA. Ketika tahu kebenarannya, disitu saya merasa sedih. Ternyata masalah sebenarnya bisa diselesaikan hanya dalam satu hari. Dari puskesmas aku diberi dua pil, satu kapsul, dan satu tube salep, yang dipakai 2-3 kali sehari. Besoknya sudah berkurang banyak rasa gatal dan kuantitas mblendukan-nya. Rasanya super bersyukur, akhirnya penderitaan selama beberapa bulan sudah berakhir. Dan tahu apa kata dokternya waktu di puskesmas?

“Ini alergi. Jangan makan telur, ayam, makanan laut.”

            Aku merasa bodoh dan lega secara bersamaan. Ternyata, owalah.... :getok kepala sendiri:

            Tapi dilarang dari yang enak-enak itu emang nggak enak. Aku jarang makan makanan laut, jadi gampang buat menghindari. Kalau telur, ya memang enak sih, tapi aku bisa menghindari makan telur. Nah, ayam ini yang nggak bisa. Sedikit-sedikit aku masih makan ayam, sampai akhirnya aku keseringan makan ayam dan nggak ada efek apa-apa padaku. Yuhuuu... berarti ada dua kemungkinan: diagnosis dokternya salah; atau, kebanyakan makan ayam jadi obat tersendiri bagiku :hipotesa ngarang sendiri:

            Balik lagi ke present time. Aku ngetik tulisan ini sambil garuk-garuk tangan ini (gatel bo’). Tadi malam sebelum tidur aku ke apotik (karena puskesmas nggak mungkin buka), beli krim yang dulu aku pake dari puskesmas, namanya Hydrocortisone. Disitu tertulis kalau harus dengan resep dokter. Aku sih masa bodoh aja, karena aku mikir itu nggak pengaruh dan yang penting aku nantinya bisa tidur nyenyak.

            Ternyata itu ada benarnya. Memang harus dengan resep dokter. Aku udah habis bagaimana banyaknya memang nggak sembuh. Mungkin memang harus ke puskesmas biar dikasih sekalian sama pil-pilnya. Waduh, harus nunggu esok hari nih, mana harus ke kampus lagi, sempat nggak ya?

             Gara-gara gatal ini, kedua tanganku (utamanya yang kanan—dari dulu selalu kanan yang paling parah) jadi bengkak dan kelihatan jelek banget.

          
Padahal aslinya nggak segendut ini

 
            Bahkan kaki juga gatal, walau nggak seberapa mengganggu.

            Di lengan bawah kedua tangan (bagian antara pergelangan tangan dan lengan atas) malah kena bercak-bercak, jadi merah-merah gitu, walaupun ga gatal sama sekali sih...

            Pesanku sih, kalau memang sudah didiagnosis sesuatu dan terbukti, baiknya dituruti saja nasihat dokter. Pengecualian tentang ayam, ternyata udang memang berbahaya buatku. Kerang juga. Yah, padahal aku suka sama makanan itu. Dulu aku nggak habis pikir, kok ada ya yang alergi udang? Padahal enak banget lho...

            Udahlah, aku kapok makan itu lagi, walapun enaknya gimana. Daripada aku harus menderita lagi, lebih baik aku menghindari makan telur dan makanan laut. Mmmm... mungkin boleh ya masih makan, tapi dengan dosis yang minim sekali :peraturan bikin sendiri:

             

Sabtu, 23 Mei 2015

Diet

Terakhir kali bener-bener diet (yang bener-bener ya) waktu SMP kalau nggak salah. Setahuku bisa turun sampai 5 kg. Bagaimana rahasianya?

Simpel. Kurangi porsi makan.

Itu aja?

Seingatku sih, iya. Ya mungkin dibarengi dengan banyak minum air putih (sejak saat itu sampai sekarang minumku banyak, sampai kemana-mana bawa minum sendiri), makan buah, makan sayuran. Tapi yang normal-normal aja kok. Nggak sampai ngoyo segitunya. Yang pokok ya itu tadi: kurangi porsi makan. Makan masih normal, tiga kali sehari. Hanya saja porsinya dikurangi. Kalau takaran normalnya satu piring, maka waktu diet jadi setengah atau paling banyak tiga per empatnya.

Aku juga sudah lupa berapa lama waktu yang aku butuhkan tepatnya buat turun sampai 5 kg, tapi seingatku nggak lama-lama amat. Ya dibuat enjoy saja, nggak usah dirasain, toh aku tetep makannya tiga kali sehari.

Kuliah ini aku pengen diet lagi, walaupun bisa dibilang berat badanku ideal. Tapi ada yang bilang kalau cewek itu rempong soal berat badan. Dikit-dikit bilang gendut lah. Tapi anehnya, dibilang gendut rada tersinggung, tapi dibilang nggak gendut juga menolak. "Ah, pokoknya aku ini gendut!" Titik.

Diet kali ini, yaitu dengan konsumsi oatmeal, tepatnya pake Quaker. Itu lho, yang biasanya ada di tv. Temanku bilang, adiknya yang gendut bisa turun 5 kg dalam tiga hari dengan makan Quaker. Tapi ya cuma makan itu doang, nggak boleh ngemil macam batagor, apalagi makanan berat kayak nasi. Dia sendiri bilang kalau ia ngerasa agak enteng setelah konsumsi Quaker. Yah pikirku, orang gendut aja bisa tahan cuma dengan makan Quaker doang, kenapa aku nggak?

Berbekal duit yang menipis, aku pergi ke salah satu convenient store buat beli itu Quaker. Pikirku, ini juga bisa sebagai langkah penghematan karena cuma makan Quaker tanpa ngemil apalagi makan nasi. Tiba disana, aku bingung pilih yang kemasan warna biru atau merah. Harga yang merah lebih mahal seratus rupiah ketimbang yang baru. Aku nggak tau bedanya mereka apa. Aku pikir yang merah itu rasa strawberry dan yang biru nggak ada rasanya, tapi ternyata di kemasan si merah nggak ada keterangan kalau rasanya strawberry.

Akhirnya aku pilih yang biru aja, toh sama-sama nggak ada rasanya dan bisa berhemat seratus rupiah pula, hehehe. Tapi ketika aku ambil si biru dari rak, di belakangnya ternyata ada si biru yang lain yang ada bonus tempat makanan kecilnya. Naluri manusia ya, apalagi perempuan, apalagi mahasiswa dengan budget pas-pasan, pasti seneng sama yang namanya gratisan. Si biru pertama aku letakkan, lalu aku ambil si biru kedua yang ada bonusannya.

Saking khawatirnya ketipu, aku sampai make sure ke salah satu pegawai, "Mas, ini beneran gratis, ya?". Untungnya itu benar-benar gratis, karena setelah dibayar di kasir harganya sama dengan si biru yang nggak ada bonusannya. Oh ya, aku juga beli susu kental manis coklat karena temanku sudah kasih warning kalau Quaker itu rasanya kaya kertas, alias nggak ada rasanya, hambar.

Awalnya aku bingung gimana cara makannya. Di kemasannya tertulis kalau nggak perlu dimasak. Di bagian instruksipun nggak disuruh tuang pake air panas seperti kalo mau masak super bubur. Yah, mungkin Quaker ini agak ajaib, jadi pakai air biasa pun bisa jadi kaya bubur (pikirku Quaker itu jadinya kaya bubur). Tapi ternyata tidak saudara, malahan jadinya *maaf* agak menjijikkan. Seperti produk sereal gagal.

Ternyata kalau mau sedikit lebih enak dan lunak memang harus pakai air panas (panas, bukan hangat). Walaupun sudah begitu, ditambah susu lagi, tetep aja rasanya gimanaaa gitu. Coba pakai buah ternyata mendingan lah, walau masih tetep agak gimanaaa gitu.

Katanya sih kalau kandungan serat tinggi bisa mencegah gampang lapar. Tapi aku nggak gitu booo.... Dikit-dikit lapar, sampai akhirnya aku nggak kuat, akhirnya aku makan nasi satu porsi, atau juga ngemil segala macem malam-malam. Rasanya hampa gitu kalau cuma makan itu-itu doang, apalagi yang rasanya nggak familiar gitu.

Makanan sehat, apalagi yang buat diet, emang biasanya kurang mengesankan :'D

Rabu, 28 Januari 2015

'Disuruh' Jadi Pemain Sirkus (Sama Pak Polisi)!

Aku baru bisa nyetir motor belum lama, baru sekitar satu setengah tahun. Tapi, lihat umurku yang sudah segini menurutku agak terlambat buat dapat SIM. Selama ini aku motoran di jalan modal nekat aja, berharap nggak ketemu pak polisi, apalagi dirazia. Namun, sebagai warga negara yang baik, tentunya aku pasti kepikiran buat bikin SIM, tentunya dengan jalan yang halal.

Singkatnya, karena sekarang ini lagi liburan semester (walaupun nggak begitu lama), aku berniat bikin SIM C di polres kota asal. Aku pikir tesnya nggak segitu sulit (termasuk tes praktik), tapi nyatanya???

Aku masih terima waktu aku nggak lulus tes teori, toh bukan masalah yang begitu besar. Untungnya, hari Selasa kemarin aku tes teori lagi dan lulus.

Mulai saat itu, aku benar-benar mikirin yang namanya tes praktik. Seumur-umur, baru pertama kalinya aku datang ke polres sebelum daftar SIM, aku coba latihan di lintasan tes praktik dan alamak... susah abis! Berkali-kali nyoba, dan aku baru bisa jalur angka delapan doang (FYI, jalur yang paling susah buatku itu cuma jalur delapan dan jalur zig-zag).

Memang jalur zig-zag itu jadi momok abadi bagi para pelamar SIM. Temanku bahkan mendedikasikan malam-malamnya setiap hari selama bulan puasa kemarin cuma buat nyiapin tes praktik.

Kalau dipikir-pikir, rasanya nggak masuk akal sekali tes praktik ini, utamanya jalur zig-zag ini. Logikanya, orang mana yang sudi berzig-zag ria di jalan raya kecuali dia itu ababil dan orang hilang kesadaran (baca: peminum alkohol dan pecandu narkoba)?? Pantas saja sulit sekali untuk peserta ujian bisa lolos tes praktik ini.

Kata polisinya sih, biar untuk keterampilan tambahan aja. Hellow.... Pak Polisi, keterampilan itu sifatnya optional, dan kami para peserta saya jamin nggak mau repot-repot punya keterampilan seekstrim itu untuk diaplikasikan di jalan raya, kecuali kami ini aktivis sirkus?? Ada-ada aja alasannya. Saranku, kalau tetap mau ngotot mengadakan jalur zig-zag sesempit itu, gimana kalau patok pembatasnya dihilangkan semua? Pernah karena penasaran, waktu latihan di sore hari patoknya aku jatuhin semua, terus aku lewat jalur itu. Hasilnya? Aku berani jamin aku berhasil tanpa sedikitpun keluar garis kuning.

Walaupun saat ini aku lagi libur kuliah dan jadi penganggur, tapi bukan berarti aku nggak masuk kuliah lagi selamanya, kan? Sama saja dengan peserta ujian lain, apa mereka semua itu penganggur yang nggak masalah bolak-balok polres dan latihan setiap hari??

Sore ini, yang biasanya aku latihan setiap hari, aku jadi absen latihan karena puncak kekesalanku akan tes praktik ini. Aku mulai bosan, karena progresku cuma sampai gitu-gitu aja. Bukannya aku malas atau kurang latihan, tapi karena itu tadi, BUAT APA SIH JALUR ZIG-ZAG SEMPIT SEPERTI ITU? KAMI MAU DAPAT SIM APA LATIHAN BUAT JADI PEMAIN SIRKUS? Nggak masalah jalur zig-zag seperti itu, asal patoknya dihilangkan semua, atau jalurnya tetap pakai patok tapi lebih dilebarkan.

Melihat fenomena ini, nggak heran rasanya kalau banyak yang nembak buat dapat SIM. Memang, di polresku katanya sudah nggak ada calo lagi, tapi kalau tes praktik yang nggak masuk akal ini tetap dipertahankan, membunuh perasaan orang pelan-pelan namanya! Harusnya, kalau ingin orang lewat jalur halal, tes SIM tidak perlu sesusah ini. Kalau begini caranya, siapapun juga ada keinginan buat nembak, walaupun sedikit. Kalau nanti ditanya Tuhan, kan bisa pakai alasan ini: "Kan ujiannya susah sekali, diluar standar kemampuan orang kebanyakan." Hayo, kalau begitu, apa pantas pelamar SIM yang dipersalahkan polisi? Mereka yang mendorong untuk berbuat jujur, tapi mereka sendiri yang menyulitkan? Percaya deh, kalau ujian praktiknya tingkat kesulitannya masuk akal, orang-orang bakalan puas sama pelayanan polisi yang rentan 'becek' itu. Mengurangi jalur gelap memang tidak cukup dengan memberantas calo, tapi juga dengan meninjau ulang standar kelulusan ujian SIM, terutama ujian praktik itu.

Aku sih nggak bisa selalu menyalahkan orang-orang yang nembak itu, karena sebagian dari mereka memang punya pertimbangan masuk akal. Yang kerja lah, yang sekolah lah, yang tinggal di luar kota lah...

Jujur saja, kalau sudah begini ini yang bikin aku malas tinggal di Indo. Tanah air sendiri tapi tidak bisa memberikan pelayanan yang memadai bagi warganya, mau bikin SIM, mau jadi pengguna jalan yang taat aja masih dipersulit. Makanya, nggak heran kalau banyak yang nggak suka polisi, bahkan saudaraku terang-terangan sinis pada polisi, bahkan tidak sudi kalau punya suami polisi, hehehe. Katanya, polisi yang pernah menilangnya itu sok keren bisa nilang orang, sok ganteng.

Percakapan mereka waktu itu:

P: Dibuka dong helm dan maskernya, nggak sopan amat sih sama polisi.
S: (sambil buka helm dan masker) Bapak juga nggak sopan sama saya!

Hehehe... Udah digituin, si polisi masih aja sok tebar pesona, berlagak ganteng dan berkuasa. Cuih... situ kira situ keren apa? Ditawari calon suami polisi seganteng dan sesoleh apapun saya aja harus mikir sejuta kali dulu!