Senin, 24 November 2014

Menulis, Buku Diskon, Gol A Gong, sampai Buku Cerita Anak-Anak

Sebenarnya aku suka nulis, tapi masih belum bisa memperjuangkan ‘bakatku’ itu karena terhalang oleh beberapa masalah. Karena males lah, karena sibuk sok sibuk lah, sampai kebingungan mau nulis apa. Lihat aja blog ini, aku jarang isi karena... ya itu tadi.

Sampai akhirnya liburan semester kemarin aku bisa benar-benar ‘kembali’ pada minat nulisku setelah beberapa tahu lamanya (iya, beberapa tahun). Berawal dari kebingungan mau diisi apa liburan yang super lama itu, akhirnya aku ada ide memanfaatkan paketan internet. Daripada cuma dipakai ngga jelas, mending aku cari lomba nulis biar agak berguna.

Jangankan cari di Google, cari di Facebook aja banyak. Disitu nggak terhitung berapa grup-grup nulis yang mengadakan event menulis. Karena saking banyaknya (waktu itu sampai lima puluh event!), aku nggak bisa ikut semuanya.

Kalau sudah nulis kembali begitu, jangan kira prosesnya gampang. Walaupun sudah biasa nulis esai untuk tugas kuliah, tapi rasanya susah sekali untuk nulis bahan non tugas kuliah. Cerpen pertamaku aja selesai seminggu lebih. Tapi untunglah, menorehkan prestasi yang cukup membanggakan...


ini piagamnya...

karya-karya terpilih dibukukan, lho

Pertama tahu kabar kalau masuk empat puluh besar rasanya nggak percaya... aneh gitu. Udah bertahun-tahun nggak nulis fiksi, tapi sekali buat (cerpen pertama lagi), diikutkan kompetisi langsung begitu.

Karena sudah senang dan surprise, maka aku nggak usah berharap bisa jadi juara, segini aja sudah cukup. Dan memang enggak jadi juara, hehe...

Oh ya, buku “Mayat Dalam Lumbung” sudah terbit, pemesanan bisa melalui tautan ini. *promosi dikit*

Sebenarnya aku lebih minat nulis fiksi daripada nulis non fiksi kaya beginian (semua yang pernah aku cantumkan di blog ini termasuk tulisan non fiksi), tapi nggak tau ya, aku belum bisa mengembangkan minat itu menjadi benar-benar sebuah hobi. Aku masih terjangkiti virus malas menulis walaupun sudah ratusan kali menyaksikan motivasi, baik dari tulisan, perkataan, sampai penglihatan.

Ngomong-ngomong motivasi, tanggal 4 November kemarin aku berkesempatan bertemu dengan salah satu penulis Indonesia, Gol A Gong. Aku sudah pernah tahu namanya karena pernah baca bukunya, judulnya “Lewat Tengah Malam” yang ditulis bersama Ibnu Adi Avicenna.

Yang nggak aku tahu, ternyata beliau nggak punya lengan kiri karena kecelakaan waktu kecil dulu (kalau nggak salah). Aku merasa tersindir. Beliau saja mampu produktif menulis, kenapa aku tidak?
Dan yang bikin aku surprise lagi, beliau itu potongannya sama sekali nggak seperti orang penting atau orang terkenal. Cuma pakai kaos, dan pakai sandal jepit (kalau nggak salah lagi). Pokoknya, seperti orang biasa deh. Tiba-tiba aku merasa kagum, karena sebelumnya aku membayangkan orangnya tidak seperti itu.

aku keliatan gendut sekali x(


Oh ya, acara ini diselenggarakan oleh FAM cabang Surabaya dengan Bina Qalam. Untuk kesana, aku cuma bondo nekat (modal nekat) alias bonek. Aku cuma dikasih tahu kalau lokasinya dekat Taman Bungkul, tapi aku nggak tahu persisnya. Yah, namanya juga jalanan Surabaya, memang ribet. Salah lokasi aja kalau mau putar balik susah, harus jalan agak jauh. Tapi akhirnya, setelah setengah jam mencari akhirnya ketemu juga :P

Sebenarnya aku agak malu datang terlambat. Ya, aku mulai terpengaruh dengan kebiasaan masyarakat bule dan masyarakat Jepang yang terkenal on time. Sempat berpikir mau pulang aja, tapi dalam hati sayang. udah bela-belain pinjem motor kakakku, muter-muter ga jelas mencari alamat, kok tiba-tiba dibatalin. Mana sebelumnya udah daftar, lagi. Akhirnya dengan agak sungkan aku masuk lokasinya.

Ternyata yang telat bukan cuma aku seorang. Waktu masuk ke ruangan, ternyata ada beberapa orang yang baru datang juga, bahkan setelahku masih banyak orang yang baru datang. Ealah -___-

Balik lagi ke Gol A Gong. Beliau ini orangnya ramah, bahkan mintanya dipanggil Mas Gong aja. di akhir acara ada sesi tanda tangan. Peserta dipersilahkan membeli bukunya dulu untuk kemudian minta tanda tangan. Aku sih, awalnya nggak pengen beli bukunya. Aku udah siap-siap bawa binder untuk langsung ditandatangani. Tapi karena yang lain pada beli bukunya, aku jadi sungkan sendiri. jadi deh, uang enam puluh ribu melayang. Tapi nggak percuma juga, seenggaknya bisa buat nambah buku koleksiku. Selama kuliah ini aku beli buku (diluar buku pelajaran lho ya) bisa dihitung dengan jari, padahal udah semester lima. Ternyata selain kebiasaan nulisku yang lama hilang, ternyata kebiasaan membacaku juga sudah lama hilang. Bukan tanpa alasan sih, sebab harga buku itu mahal, apalagi di toko buku besar yang terkenal itu *merek tidak disebutkan*. Aku baru beli buku kalau harganya murah aja, biasanya dapat dari Jl. Semarang dan sub toko Gramedia di depan toko Gramedia itu sendiri, di Royal Plaza.

Yang di Jl. Semarang itu memang sudah terkenal murahnya. Di sepanjang jalan, berderet toko-toko yang menjual buku murah-murah, apalagi yang buku bekas. Kalau kesana rasanya pingin aku borong semua, walaupun saat itu aku masih sayang sama uangku :P

Di Jl. Semarang juga ada Kampung Ilmu, tempat jualan buku juga, tapi bentuknya kompleks tersendiri, bukan di pinggir jalan seperti toko-toko yang pertama aku sebutkan tadi.

Yang kedua, sub toko Gramedia di Royal Plaza. Letaknya persis di depan toko buku Gramedia utama itu sendiri. Bentuknya seperti ‘emperan’ gitu.


Walaupun murah, tapi dengan beli disitu seakan-akan udah belanja di Gramedia yang ‘asli’, karena memang dikasih kresek Gramedia :P

ini harganya cuma lima belas ribu!

kalau yang ini dua puluh ribu

Tuh kan, melenceng lagi. Balik lagi ke Mas Gong..

Setelah beli bukunya, aku minta tanda tangannya di buku itu. Aku juga minta difotoin...


Habis itu aku pingin pulang, tapi kepikiran binderku lagi. Rasanya lebih enah minta tanda tangan di binder karena space-nya labih banyak. Lagi pula, tiap kuliah aku selalu bawa binder itu, jadi maksudnya biar aku bisa liat tanda tangan itu setiap saat (buat penyemangat gitu). Akhirnya, mengalahkan rasa sungkan, aku memberanikan diri untuk meminta tanda tangan di binder. Ternyata orangnya mau kok. Oh Ya Allah, syukurlah...

binder yang biasa aku pakai kuliah

Kalau ngomong soal karyaku, masih belum banyak yang bisa dikatakan membanggakan. Aku sudah punya beberapa buku antologi bersama, ada dua belas buku. Buku antologi bersama disini maksudnya, karya-karya dari beberapa penulis dibukukan dalam satu buku. Sebagian besar dari karya-karya itu kukerjalan waktu liburan kemarin. Salah satu buku yang kayaknya aku bakalan suka banget, yaitu buku berjudul “Kelingking Persahabatan” yang diterbitkan FAM Publishing, hasil event yang diadakan FAM cabang Surabaya.



Buku ini belum terbit, rencana selesai dibuat akhir tahun. Buku ini isinya dua puluhan cerpen anak-anak. Seperti yang kita tahu, anak-anak sekarang ikut-ikutan modern seperti orang dewasa, tidak seperti dulu. Untuk kembali ‘meramaikan’ dunia literasi anak, FAM Surabaya mengadakan event menulis cerpen anak-anak.

Jangan dikira menulis fiksi anak itu gampang, lho. Aku bahkan browsing dulu buat baca cerita anak-anak di internet, hanya untuk sekedar mendalami seperti apa sih gaya bercerita yang dapat dipahami anak-anak.

Setelah naskahku dinyatakan lolos seleksi, rasanya senang sekali. Bagiku dunia literasi anak ada sensasi khusus tersendiri. Selain menulis fiksi remaja dan dewasa, aku juga ingin bisa menulis fiksi anak.

Semua itu tidak terlepas dari masa kecilku yang memang suka membaca apa saja, tertular dari sang ibu yang memang apa saja suka dibaca, tak terkecuali koran bekas yang dipakai membungkus makanan sekalipun.

Waktu kecil aku suka baca Majalah Bobo, juga beberapa buku kumpulan cerpen yang diterbitkan Bobo. Sekarang aku nggak tahu bagaimana nasib buku-buku itu, ditaruh dimana, atau malah sudah ikut kerombeng?

salah satu buku yang dulu kupuya *miss*
Generasi muda bahkan generasi tua bisa saja tidak punya kebiasaan membaca yang baik, tapi anak-anak harus sudah dibiasakan membaca, tak terkecuali bacaan cerita fiksi yang sesuai untuk mereka. Pengalaman diriku sendiri, membaca cerita anak-anak bisa membuat hatiku terhibur dan bisa menjadi motivasi untuk jadi penulis ketika besar nanti. Aku bahkan masih hapal beberapa cerpen dari buku-buku cerpen anak-anak tersebut.

Dengan membaca bacaan anak-anak, memang dapat membentuk imajinasi yang hebat dalam pikiran seorang anak. Aku sudah membuktikan itu, dan masih terasa sensasinya sampai sekarang...

Minggu, 23 November 2014

ABOUT READING CLASS (JUGA TENTANG ANNOTATED BIBLIOGRAPHY DAN ENDNOTE YANG REMPONG)

Aku sekarang sudah semester lima di salah satu PTN jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Sesuai namanya, kegiatan kuliah pasti nggak jauh-jauh dari bahasa Inggris.

Nah, ada satu mata kuliah yang menurutku paling bikin repot sepanjang sejarah perkuliahanku. Pelajaran ini pelajaran Reading.

Reading selalu ada di tiap semester. Semester pertama reading-nya ‘implisit’ (seperti anak sekolahan), dan semester-semester selanjutnya ‘eksplisit’. Kenapa eksplisit? Karena Reading jadi pelajaran tersendiri, tidak seperti semester pertama yang dicampur tiga English skills lainnya (writing, speaking, and listening).

Semester kedua ada Literal Reading. Semester ketiga ada Interpretive Reading. Semester keempat ada Scientific and Critical Reading. Semester kelima ada Extensive Reading.

Mengaku saja, siapa sih yang pernah belajar pelajaran Reading atau Membaca (Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia)? Kalaupun ada, pasti sedikit, karena bingung juga apa yang bisa dipelajari. Tidak seperti Matematika atau IPS yang memang harus belajar karena ada sudah ada teori pastinya.

Namun walaupun tidak perlu teori yang njelimet, ternyata Reading itu diam-diam menghanyutkan, apalagi kalau bacaannya sudah masuk level tinggi. Level tinggi yang dimaksud yaitu isi bacaan dan bahasanya yang pakai bahasa baku nan kosakata yang masih asing. Jangankan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesiapun aku nggak ngerti. Contoh, waktu semester tiga aku dapat mata kuliah Filsafat Bahasa. Sesuai judul matkulnya, materinya dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Buku yang dipakai adalah buku Filsafat Bahasa karangan... siapa, ya?

Lupa, deh. Tapi walaupun berbahasa Indonesia, jangan ditanya. Aku aja nggak ngerti bukunya ngomong apa! Halaman demi halaman makin nggak ngerti si buku itu lagi ngebahas apa. Eits, bukan bermaksud menghina bukunya lho, ya. Mungkin akunya aja yang nggak terlalu nyastra :D

Nah, hal yang sama berlaku bagi kelas Reading-ku. Kesulitan mulai tampak di pelajaran Interpretive Reading, tapi masih bisa dengan mudah kuatasi. Nah, masalah baru benar-benar muncul di matkul Scentific and Critical Reading.

Dari judulnya saja sudah nampak kalau bacaan yang digunakan itu bacaan ilmiah. Sudah bacaan ilmiah, disuruh bersikap critical, pula!

Mulai semester inilah aku merasa aku agak sedikit ‘salah program studi’ :D . Aku ngambil prodi Pendidikan Bahasa Inggris, jadi selain belajar Bahasa Inggris, aku juga belajar tentang pendidikan, mulai dari pendidikan secara umum (matkulnya pakai Bahasa Indonesia), sampai pendidikan secara khusus (tentang Pendidikan Bahasa Inggris).

Nah, masalahnya, mulai semester empat inilah bacaan Reading-ku dikhususkan HANYA dalam bidang pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa Inggris. Sebenarnya aku bukan pengajar yang ideal (dalam artian, guru) karena, salah satunya, aku orangnya nggak sabaran. Alasan kenapa aku dulu milih prodi pendidikan, hanya aku dan Allah yang benar-benar tahu :P

Sudah bacaannya itu-itu aja (tentang pendidikan), isinya ‘berbobot’ pula. Seringnya sih baca jurnal ilmiah. Jelas bahasanya agak tingkat tinggi, apalagi yang menyangkut tentang serba-serbi educational research.

Tau apa yang tidak kusuka dari hal-hal yang berbau ilmiah?

Selain karena ‘berbau’ IPA (walaupun penelitian dan sejenisnya tidak selalu berkaitan dengan IPA), karena hal-hal ilmiah bagiku merepotkan dan penuh dengan aturan dan keterikatan. Jujur saja, aku tidak suka merasa terikat (walau aku tahu nggak ada yang mengikatku, cuma merasa demikian saja) dan aku bisa cepat bosan kalau bergelut dengan satu hal terus. Aku tidak punya jiwa peneliti seperti itu :P Aku masih ingat perjuanganku dulu waktu sekolah menaklukkan Matematika dan IPA yang bagiku membosankan dan penuh dengan aturan-aturan. Aku baru bisa bernapas lega kala kelas sebelas karena aku masuk jurusan IPS yang menurutku lebih mudah, menyenangkan, dan ‘dinamis’.

Kembali lagi ke matkul Reading paling rempong itu. Matkul ini 4 SKS, yang menjadikannya terasa sangat penting di mata para mahasiswa! Di matkul ini aku belajar hal-hal baru yang menurutku ‘wow’.  Hal-hal baru itu, salah duanya adalah Annotated Bibliography dan EndNote.

Annotated Bibliography itu, secara garis besar, berisi tentang pendapat kita tentang suatu bacaan. Hampir serupa dengan review, tapi berbeda. Perbedaannya... apa, ya? Hehe... aku nggak bisa menjelaskan. Untuk perbandingan, lihat di bawah.

A review made by me:

“An Intercultural Approach to English Language Teaching” Book Review 

An Intercultural Approach to English Language Teaching is a book written by John Corbett. He is a researcher that has been travelled all around the world in order to did research related to education.
Judging from its title, this book’s topic is about intercultural approach in classroom teaching, especially English language teaching. Again, judging from the word “teaching”, this book was made especially for English teachers.
The writer wants the readers, especially teachers, to be able to equip learners with cultural knowledge in the way of exploring cultural difference so they can explore their own culture as well as the target culture. It is hoped that learners are able to negotiate the distance between their own and another culture; thus, they can be said as cultural diplomats.
This book contains ten chapters, but the most related chapter to the book title is the second chapter, Implementing an Intercultural Approach. It reflects on the sub chapter Designing Tasks for the Intercultural Classroom. In this sub chapter, the writer mentions the task as consisting of six components which have to be specified for any communicative activity: goal, input, activities, learner’s role, teacher’s role, and settings. (Nunan, 1989: 10–11). These components can be modified if the aim of the task is to raise cultural awareness as well as to develop communicative skills. The following is the example of the goal that has been specified: to research, describe and explain patterns of behaviour in a certain community, such as youth subcultures, professional business people or scientists, or Scottish country dancers.
I do agree with a statement from the first chapter, An Intercultural Approach to Second Language Education. He gives a statement that the ultimate goal of an intercultural approach to language education is not so much ‘native speaker competence’ but rather an ‘intercultural communicative competence’ (e.g. Byram, 1997b; Guilherme, 2002). Intercultural communicative competence includes the ability to understand the language and behaviour of the target community, and explain it to members of the ‘home’ community – and vice versa. Learning a language is impossible to be succeeding if learners do not employ this.
This book is helpful for English teachers, yet it is not helpful enough on the other way. In every chapter, the writer gives a short sight about what are the chapter going talked about. He marks some important points of a chapter. Unfortunately, that some important points do not stated clearly on the sub chapters. For example, in the first chapter the writer marks one important point in the opening of the chapter: A review of the role of ‘culture’ in ELT. There is no sub chapter that explicitly stated about it, or in other words, readers must search it harder in order to find “the role of ‘culture’ in ELT”.
After all, this book is a proper book in teaching English related to culture. There are books that reviewed about language teaching/learning and culture, but I think this book is the most relevant one, since from the title I could judge it. The most important is, this book is ‘teaching a teacher how to use intercultural approach in teaching a class”, not just explain the theory alone.

Aku rasa sudah banyak orang yang paham tentang review, tapi kalau annotated bibliography?
Menurut panduan yang dikeluarkan The Learning Centre of the University of New South Wales (2006):


Contents of an Annotated Bibliography

An annotation may contain all or part of the following elements depending on the word limit and the content of the sources you are examining.
• Provide the full bibliographic citation
• Indicate the background of the author(s)
• Indicate the content or scope of the text
• Outline the main argument
• Indicate the intended audience
• Identify the research methods (if applicable)
• Identify any conclusions made by the author/s
• Discuss the reliability of the text
• Highlight any special features of the text that were unique or helpful (charts, graphs etc.)
• Discuss the relevance or usefulness of the text for your research
• Point out in what way the text relates to themes or concepts in your course
• State the strengths and limitations of the text
• Present your view or reaction to the text


Ini adalah salah dua contoh annotated bibliography yang pernah kubuat:


Contoh 1:

Research dilemmas: Paradigms, methods and methodology


Mackenzie, Noella, & Knipe, Sally. (2006). Research dilemmas: Paradigms, methods and methodology. IIER, 16(2), 193-205.


Annotated bibliography:
            Research dilemmas: Paradigms, methods and methodology is an article which is written by Noella Mackenzie and Sally Knipe from Charles Sturt University. This article is written for the new researchers who face the dilemma in using the appropriate approaches for their researches. The discussion of research paradigms, including definition and discussing the rule of paradigms is concluded here. The following contents of this article are about how the research paradigm and methodology are combined together. Quantitative and qualitative methodologies are also discussed for the decisions the researchers have to make.
The authors give this article strength with presenting tables to show the kinds of paradigms, the methods that are used in various kinds of those paradigms, and a diagram about the research process. There is no research method used because the authors did not do any research as this article already has real and reliable data to support the topic. It is said that the research books are not usually helpful because many of those books make the new researchers confused. The authors strongly suggest combining the qualitative and quantitative methods for their research articles. We think that the authors give a good suggestion; the beginner researchers can use both quantitative and qualitative methods. The beginner researchers can also look for another source besides the research books they reference and discuss with their advisers or colleagues about what should they choose among quantitative, qualitative, and mixed methods.

*


Contoh 2:

Annotated Bibliography:

The beliefs of two expert EFL learners
The article examines the belief systems of two expert learners and how they affect the learning process of those learners. The author interviewed two expert learners who have different backgrounds. The first participant is Kati. She was not interested in English at first, but after knowing that she has relatives living in UK, she changed her mind. She went to the UK to learn English in the ‘real’ context, not just learn it in a formal way in school or university. She feels difficult in learning English in a formal way. She thinks that if someone wants to learn foreign language, he must learn it in where it is spoken. In addition, it is more important to be more focused on domains where she good at, such as vocabulary and grammar instead of pronunciation where she is not good at.
In contrast to Kati, another participant, Petra, has passion in English since she was in school because she was good at it. She thinks that studying foreign language abroad is a good idea; however, it is not so important for her to go abroad for she can’t live far away from home more than two weeks. She also adds that it is important to focus on all domains of a language because if you want to good at something, you must work hard for it.
Petra’s beliefs appear to be more stable and have changed little, however, Kati’s beliefs appear to be much more domain-specific, dynamic and less stable.
Rather than describe one set of learner beliefs as positive or negative, it will be more useful to think that the learners’ belief systems are different, according to particular individual background. In other words, there are many different possible pathways to language learning success. From the case of Kati and Petra, we know that we can success in the same thing with different backgrounds.
I can conclude that this article proves every person has the same chance with other people in the same thing, just the process he does different with others. When we learn something because we really like it, the process of learning will be easier, whatever the process we do to reach our goals.



Yang menjadi ciri khas dari annotated bibliography yaitu adanya citation di awal tulisan. Kalau di teks pertama itu citation-nya:

Mackenzie, Noella, & Knipe, Sally. (2006). Research dilemmas: Paradigms, methods and methodology. IIER, 16(2), 193-205.


Sementara yang kedua:

Mercer, Sarah. (2011). The beliefs of two expert EFL learners. The Language Learning Journal, 39(1), 57-74.

Dalam membuat citation itu maka kami diperkenalkan dengan software yang berjuluk “EndNote”. Dosenku memang canggih, maklum lulusan Monash University, Australia. ‘Hidup’ kami dipermudah dengan diperkenalkannya kami kepada software ini. Software ini, katanya, mempermudah kami terutama dalam membuat tulisan yang membutuhkan kutipan dari orang yang berkompeten, seperti skripsi.

Tugas utama software ini adalah mempermudah pengguna untuk mengutip pendapat para ahli dalam tulisan pengguna, juga mempermudah pengguna dalam menyantumkan daftar referensi di akhir tulisan.

Awal-awal aku nggak nyambung sama software ini. Maklum, aku nggak interest sama matkulnya, juga suka ngantuk di kelas (kebiasaan buruk!). Saking sebel, ngantuk, dan malasnya waktu itu, ketika sang dosen menerangkan cara memakai EndNote untuk tugas annotated bibliography kami yang pertama, aku nggak memerhatikan. Padahal hari itu juga beliau menerangkan apa itu annotated bibliography! Alhasil, ketika jam berakhir dan sadar aku dalam kesulitan karena nggak tau apa-apa, besok malamnya aku pergi ke kos temanku untuk minta diajari!

Dalam hati aku menggerutu: ini matkul udah susah banget, 4 SKS, tiap Selasa dan Kamis, pula! Jadi PR hari Selasa harus dikumpulkan paling tidak Rabu malam untuk dibahas keesokan harinya di kelas. Ampun, pelajaran rempong seperti itu...

Jadilah Rabu malam itu, beberapa jam sebelum deadline pengumpulan tugas by e-mail, aku bekerja keras menyelesaikan tugas itu dibantu temanku. Aku merasa panik sendiri soalnya aku nggak tahu apa-apa. Dan sebelnya, tulisan yang sudah susah-susah kubuat hilang begitu saja karena aku belum mahir pakai EndNote!

Langsung saja aku mencak-mencak menyalahkan EndNote. Sejak saat itu aku mencap EndNote sebagai software yang rempong dan menyusahkan walaupun katanya sangat membantu. Siapa sih yang suka kalau tulisan yang sudah susah-susah dibuat bisa hilang begitu saja? Karena kesal akhirnya aku mengambing hitamkan EndNote. Ada benarnya juga sih, karena EndNote yang ketika sudah diinstall langsung terintegrasi ke Microsoft Word itu memang cara memakainya harus hati-hati, terutama bagi pemakai pemula. Jadi, pelajaran bagiku sejak saat itu: jangan lupa selalu CTRL+S kalau mengetik, kalau perlu buat cadangan karena kalau-kalau salah prosedur memakai EndNote, tulisan yang hilang bisa diambil lagi di dokumen cadangan. Tapi sekarang aku sudah nggak begitu, sih, sebab aku sudah lebih bisa pakai EndNote.

Setelah satu semester yang penuh perjuangan, akhirnya semester empat sudah terlewati. Mulai semester itu pula aku nggak mau sering-sering ngecek web siakad (sistem informasi akademik), takut kalau ternyata nilaiku ‘jelek’ seperti semester tiga.

Aku belum mengecek nilai Scientific and Critical Reading waktu nggak sengaja lihat status BBM seorang teman sekelas. Nggak cuma dia sih, tapi teman-teman yang lain juga. Mereka pada senang karena si bapak dosen matkul rempong itu berbaik hati memberi nilai yang bagus-bagus buat kami. Karena ingin membuktikan, akhirnya aku buka siakad di bagian pengumuman nilai. Aku lihat memang benar, ternyata sekelas dapat bagus-bagus semua! Hampir semuanya A atau A-, hanya satu orang yang dapat B+!

Langsung saja, aku yang mendapat nilai A bersorak senang, nggak nyangka bisa begini. Tadinya kusangka aku bakal dapat nilai B atau paling mentok B+, ternyata Allah dan si bapak menghargai kerja kerasku (juga kami). Aku sempat berpikir, ini akunya yang memang pintar atau si bapak dosen yang melihat proses bekerjanya, bukan hasilnya? Aku tahu beliau pasti tahu perjuangan kami menyelesaikan matkul ini bagaimana, karena konten matkul ini bisa dikatakan baru untuk kami, dan juga... sangat sulit.

Sebenarnya aku tahu dari dulu kalau peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” itu benar. Aku juga tahu kalau sesuatu yang tidak menyenangkan yang terpaksa dijalani pasti membawa dampak positif di kemudian hari. Karena pelajaran rempong itulah, otakku jadi lebih terbiasa dengan bacaan agak berat. Aku juga tahu apa itu EndNote. Dulu aku suka cemburu sama teman lain kelas yang pelajaran Scientific and Critical Reading-nya diajar oleh dosen yang berbeda. Pelajarannya terkesan tidak seberat kelasku, namun pada akhirnya, justru semester ini mereka yang kebingungan menghadapi mata kuliah lain, terutama Quantitative and Qualitative Analyses dan Educational Research Method yang seluruh kelas (kelas A, B, C, D) diajar oleh dosen yang sama, yaitu dosen Scientific and Critical Reading-ku! Kami sekelas yang sudah terbiasa dengan cara mengajar beliau tidak merasa sekaget dulu.

Memang, there is always rainbow after the rain, walaupun matkul Quantitative and Qualitative Analyses dan Educational Research Method juga bikin repot!






PERMASALAHAN LINGKUNGAN PART 3 (Sampah)

Yang jadi permasalahan paling berat jika ngomong masalah sampah itu ada dua:
a. Buang sampah sembarangan
b. Meminimalisir sampah

Yang pertama, buang sampah sembarangan. Untuk bisa buang sampah pada tempatnya merupakan hal yang sangat amat super duper sulit sekali, padahal aslinya mudah, lho. Tinggal nyemplungin sampah ke tempatnya apa susahnya, sih?
Setelah dicermati, ada beberapa hal yang menyebabkan orang buang sampah sembarangan:
1. Tempat sampah kurang banyak.
2.  Malas jalan kaki (lagi) untuk mencapai tempat sampah.
3. Buang sampah sembarangan jauh lebih praktis. Tinggal gerakin tangan dikit, sumber masalah hilang. Iya, hilang dari tanganmu, tapi nggak hilang dari lingkungan, sampai ada saatnya ada orang yang mengambilkan sampahmu itu lalu dibuang di tempat sampah.
Mentang-mentang ada tukang bersih-bersih jalan, lalu seenaknya aja buang sampah sembarangan.

“Lho, mereka kan memang dibayar untuk bersihin jalan?”

Ya nggak gitu juga kaliiii... bantu-membantu sesama adalah perbuatan berpahala. Kita membantu meringankan pekerjaan mereka, yakin deh, pasti diganjar pahala. Sama halnya dengan ikut menjaga kebersihan, pasti ada ganjaran pahalanya sendiri. Kita emang nggak bisa menakar seberapa banyak pahala yang kita dapatkan, tapi yakin saja kalau setiap perbuatan baik yang kita lakukan, baik kepada sesama makhluk Allah ataupun lingkungan, pasti ada pahalanya tersendiri. Firman Allah:

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarrah, niscaya ia akan menerima balasannya" (Q.S. Az-Zalzalah ayat 7-8)

Kalau alasan nggak buang sampah di tempatnya karena nggak nemu tempat sampah, bisa tuh sampahnya dibawa dulu, atau kalo gengsi dimasukin tas aja. Baru dibuang kalo udah nemu tempat sampah.

“Eh, nanti tasnya kotor lagi kena sampah?”

Emang tas situ steril apa? Emang kapan sih terakhir kali tasnya dicuci?
Kalau alasan nggak buang sampah di tempatnya karena tempat sampahnya nggak dekat kita berada, ya jalan dong untuk mencapainya. Ingat, pasti ada kesempatan kok untuk kita jalan kaki. Olahraga, deh J

Permasalahan lingkungan yang kedua, yaitu meminimalisir sampah. Untuk hal ini, aku sebenarnya masih merasa kesulitan. Contoh meminimalisir sampah yaitu belanja pake bawa tas sendiri. Aku masih belum bisa, jadi untuk tahap awal aku memaksimalkan penggunaan kantong plastik. Contohnya aku belanja beberapa barang sekaligus untuk memaksimalkan penggunaan kapasitas kantong plastik, atau solusi yang kedua yaitu menolak pemberian kantong plastik. Kalau hal ini, disisi lain mudah disisi lain sulit. Contoh yang mudah, misalnya habis nge-print di tempat print nggak usah ngambil plastik khusus kertas yang biasanya udah disediakan (bisa dibawa biasa atau kalau takut kusut bisa bawa map sendiri). Contoh yang sulit, yaitu, orang Jawa cenderung suka banget untuk memberikan kantong plastik kepada pembeli, khususnya yang ibu-ibu. Alasannya: satu, nanti kalau nggak kasih kantong plastik dikira nggak sopan; dua, nggak baik untuk nggak memberi kantong plastik ke pembeli, khususnya ke pembeli cewek. Kenapa? Karena katanya kalo cewek nggak dikasih kantong plastik nanti waktu dia dilamar cowok seserahannya cuma sedikit -___- apa hubungannya coba?

Dulu aku pernah menolak kantong plastik waktu beli baju dengan alasan aku habis beli barang di toko lain dan masih sisa tempat banyak di kantong plastikku. Daripada menambah jumlah sampah plastik, aku menolak aja diberi kantong plastik. Aku bilang kalau bajunya bisa dimasukkan jadi satu di kantong lain, tapi si ibunya ngotot ngasih kantong plastik dengan alasan ‘nggak pantas’. Waktu itu aku bingung, nggak pantas gimana? Tapi si ibu tetap ngotot, dengan muka campuran antara maksa dan agak sebel, jadinya yaudah ngalah deh. Repot urusan sama yang namanya ibu-ibu.

Akhirnya aku coba tanya sama sepupuku, katanya ya itu tadi. Kalau nggak diberi kantong plastik katanya kalau dilamar cowok ntar seserahannya cuma sedikit. Boleh percaya atau tidak, tapi aku sih nggak percaya. Yang penting kan akad nikahnya, bukan jumlah seserahan waktu lamaran.

Kesimpulannya, orang Indonesia itu, termasuk orang Jawa, terlalu sopan bahkan ‘memasukkan nilai-nilai budaya’ yang tidak perlu. Bukannya aku nggak cinta budaya, tapi kalau budayanya begini masa harus diterima? Nggak masuk di akal. Pemikirannya itu yang beyond the culture dong, yang juga harus memerhatikan lingkungan nyata.

PERMASALAHAN LINGKUNGAN PART 2 (Mengapa Memilih Kendaraan Umum?)

Sudah enam bulan berlalu... Haha nggak berasa aku sudah segitu lama meninggalkan blog ini. Sesuai postingan sebelumnya, kali ini aku mau posting tentang memilih menggunakan kendaraan umum.

Waktu Hari Bumi kemarin, kebetulan aku buka Twitter, nggak sengaja baca tweet salah satu organisasi lingkungan, dan nemu adanya gerakan yang kalau nggak salah namanya “Ayo Naik Angkutan Umum”. Selain untuk mengurangi polusi, memang naik kendaraan umum itu ada sensasi dan kenangan tersendiri. Biasanya sensasi dan kenangan itu timbul pada orang yang terbiasa naik kendaraan umum. Kalau kamu nggak tau sensasi dan kenangan macam apa, mungkin karena kamu memang jarang naik kendaraan umum. Kira-kira apa ya sensasi dan kenangannya? Kalau ini menurutku, disesuaikan dengan kondisi dimana aku tinggal:

a.  Melihat pemandangan, walaupun sekali lagi, mungkin yang bisa dilihat memang cuma kemacetan, bukannya pemandangan ala gunung dan sawah di kanan kiri jalan.

b. Merasakan berdempetan dengan sesama penumpang itu menimbulkan kenyaman tersendiri, karena yang sadar dengan gerakan positif ini kelihatannya bukan cuma kita aja, walaupun juga harus hati-hati karena kejahatan tidak hanya ada karena niat pelakunya, tetapi juga ada karena ada kesempatan. Jadi, wasapadalah..
"Wah, takut ah naik kendaraan umum kalau gitu. Rawan bencana!”
Ingat, bencana bisa terjadi kapan saja, bahkan kematian pun bisa mengintai disaat kita tertidur. Jadi,    jangan jadikan rawan kejahatan sebagai alasan untuk malas naik kendaraan umum. Yang terpenting    adalah kewaspadaan. Itu aja.

c. Beberapa kesan yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Contohnya, rasanya ada sensasi tersendiri kalau setelah jalan akhirnya bisa nyampe angkot, mulai duduk di angkot, sampai bayar dan terima kembalian dari sopir pun rasanya ada sensasi tersendiri :P
   
Menurutku kelemahan terbesar kendaraan umum itu HARGANYA :P

Menurutku tarif untuk naik kendaraan umum itu cukup mahal. Angkot aja sekali jalan empat ribu,
bus kota lima ribu, bus antar kota enam ribu kalo ga salah (baru sekali naik bus antar kota, bus kota
baru dua kali). Nggak tau lagi sekarang setelah BBM naik. Iya kalau naik kendaraan umum cuma
sesekali. Nah, kalau hampir tiap hari, pulang pergi lagi? Itu yang masalah. Biasanya yang kaya gini itu orang kerja yang tiap pulang pergi naik angkutan umum. Apa nggak gempor ya dompetnya? Saranku sih, kalau bisa diturunin jadi dua ribu lima ratus kaya dulu aja (untuk tarif angkot), biar nggak keberatan buat sering-sering naik angkot :P mungkin aja kalau harganya lebih murah bisa bikin orang tambah semangat naik angkutan umum...