Senin, 19 Mei 2014

PERMASALAHAN LINGKUNGAN PART 1 (Pilihlah Berjalan Kaki)


Ngomong-ngomong soal lingkungan, sekarang aku mulai concern lagi soal lingkungan (emang selama ini nggak?). 

Aku mulai jalan kaki lagi setelah beberapa waktu ini pergi jauh dikit aja pakai motor, padahal sebelumnya aku jalan kaki kuat-kuat aja kok (efek udah bisa nyetir motor...akhirnya) apalagi aku tinggal di kota besar dimana polusi sudah jadi hal biasa. Walaupun bukan warga sini, tapi aku berbicara tentang bumi secara umum. Toh efeknya secara langsung tidak langsung memengaruhiku juga. Aku prihatin dengan bumi.

Jadi mulai sekarang aku akan jalan kaki sepanjang masih memungkinkan. Lagipula, manusia, apalagi yang kedua kakinya normal, bisa dikatakan tidak bersyukur kalau kedua kakinya tidak dimanfaatkan, seakan-akan kita terlalu tergantung pada mesin. 

Beberapa keuntungan dari jalan kaki: 
1. Karena lagi bahas masalah lingkungan, maka keuntungan pertama adalah ikut menjaga lingkungan. Jangan jadi orang yang sedikit-sedikit pakai kendaraan bermotor kalau masih bisa jalan kaki, bersepeda, atau naik angkutan umum, apalagi kalau jaraknya dekat. Kasihan Bumi-nya, kan. Emang kalian tinggal dimana kalau bukan di Bumi? Istilahnya, kita disini numpang hidup sama Allah, karena Dia-lah yang memberikan kita kehidupan dan tempat tinggal. Ingat Ayat Allah yang berbunyi:
 

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِين

QS. Al-'A`raf [7] : 56
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. 

2. Alasan kedua, tampaknya disukai dari dalam lubuk hati semua orang, yaitu bikin sehat, apalagi buat orang yang ngerasa kelebihan lemak, hehe. Terutama buat cewek, yang dikit-dikit ngerasa ndut (kayak aku), jalan kaki salah satu pilihan tepat. Nggak usah gengsi, deh. Disuruh olahraga rutin aja banyak yang males, kan (termasuk saya)? Nah, jalan kaki bisa jadi alternatif. Nggak usah maksain diri jalan kaki jauh-jauh, cukup lakukan aja yang bisa dan biasa kita lakukan. Contoh: jalan kaki nyari angkot ke terminal, jalan kaki pulang-pergi kampus/sekolah, belanja sayur di pagi hari, jalan kaki cari makan di depan gang, dan masih banyak lagi. Kalau dicermati, yakin deh banyak kesempatan yang kita punya untuk berjalan kaki :)

Jadi nggak ada lagi alasan buat bilang “Ih, cewek cantik kok jalan kaki? Gengsi ah. Mendingan naik motor biar kelihatan berkelas dan anggun.”

Saya itu gusar ya, kalo ada cewek sok cantik (apalagi kalo ternyata emang ga cantik) yang ga sudi jalan dan lebih milih pake motor padahal jarak tempuhnya dekat (apalagi kalo dia naik motor cuma sendirian) -__- Ingat, jangan terlalu loyal menggunakan kendaraan bermotor. Ingat kalau kita di Bumi ini cuma dikasih tumpangan buat tinggal sama Allah, sebelum hidup di alam kubur, apalagi akhirat. Udah dikasih tumpangan, kok ya tega-teganya dirusak? Kita dikasih tumpangan di Bumi gratis, lho, masih bonus sumber daya alam, lagi.

3. Penghilang kepenatan. Kenapa? Dengan berjalan kaki kita jadi punya lebih banyak waktu untuk melihat apa saja yang ada di sekitar kita, bahkan jika yang kita lihat itu hanyalah kemacetan sepanjang mata memandang dan polusi yang bisa bikin kita tutup hidung. Sebagai contoh, Senin kemarin aku pulang dari Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya. Untuk sampai ke tempat angkot (terminal), aku harus jalan kaki dulu (nggak tahu berapa menit, yang jelas lebih lama dari waktu yang aku butuhkan untuk berangkat jalan kaki dari kos ke kampus). Untuk itu, aku harus nyebrang jalanan yang rame beberapa kali, karena lokasinya itu di tengah jalanan kota yang sibuk. Apa yang dapat aku cermati/alami selama aku jalan kaki ke terminal antara lain: 

-      Pedagang asongan. Melihat cara orang lain mencari nafkah, yang bahkan kita pun nggak  (maaf) sudi untuk menjalani. Aku juga sempat ditawari beli buku dagangannya. Walaupun mungkin  pendapatannya nggak seberapa, yang penting halal, Insya Allah barokah. Semoga dilancarkan rezekimu, Pak :) Aaamiin. 

-     Polisi yang mengatur lalu lintas. Jadi inget si Otong dan Pak Polisi... 

-   Susahnya menyeberang jalan kalau bukan di lampu merah. Aku jalan kaki lagi untuk mencapai zebra cross. Pikirku sih, supaya lebih aman. 

-  Aku lewat Kebun Binatang Surabaya, yang sudah disiapin trotoar khusus pejalan kaki yang nyaman. Kenapa? Karena memang benar-benar dirancang khusus untuk pejalan kaki, disemen, dan dingin, karena terlindungi pohon-pohon yang ada di dalam KBS. 

-    Kesibukan supir angkot yang ‘mencari mangsa’. 

-    Kesibukan sesama pejalan kaki. Cuma liat pejalan kaki aja udah bikin aku seneng. Kenapa? Karena (Insya Allah) mereka juga bertekad menjaga lingkungan dengan berjalan kaki. 

- Dengan mencermati segitu banyak kendaraan bermotor jadi semakin menyadarkanku tentang pentingnya usaha mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang menggentayangi jalanan, yang telah membuat diriku ini bingung setengah mati buat menyeberang. 

-    Akhirnya, nyampe juga di terminal.

Bahasan selanjutnya adalah, mengapa memilih kendaraan umum?
 

LINGKUNGAN GRESIK VS SURABAYA

Sudah hampir dua tahun aku ada di Surabaya, yang kalau dipikir-pikir, aku lebih banyak menghabiskan waktu disini daripada tempat kelahiranku. Waktu yang cukup lama dan cukup untuk bisa membandingkan lingkungan di Gresik dan Surabaya. Apa saja perbedaannya?

Kata orang Surabaya itu suka macet. Memang iya. Kemacetan bukan hal aneh disini, sementara di Gresik bisa dikatakan jarang macet, walaupun jumlah kendaraan bermotor disana bisa dikatakan banyak.

Apa yang tidak kusukai dari macet salah satunya yaitu menyulitkan pejalan kaki untuk menyeberang. Lihat saja pasti ada jembatan penyebarangan bagi pejalan kaki di Surabaya karena menyeberang sembarangan memang cukup berbahaya. Sementara di Gresik... aku belum pernah lihat jembatan penyeberangan karena memang masih memungkinkan untuk menyeberang jalan dengan cukup aman.

Pertama kali datang ke Surabaya dengan dihiasi jalan kaki di jalan raya waktu 2011 lalu (waktu itu masih SMA di Gresik). Ampun mau nyebrang aja nunggu lama banget, karena kendaraan yang lalu lalang banyak. Sekarang sih sudah agak terbiasa nunggu lama biar bisa nyebrang, plus jalan kaki dulu nyampe zebra cross biar agak lebih aman, walaupun bete juga kalau kelamaan nunggu biar bisa nyebrang. Arus kendaraannya itu lho, parah. Kalau sudah macet, sudah pasti polusinya bikin greget. Gresik saja yang jarang macet polusinya banyak, apalagi di Surabaya... sekarang, aku mau kalau keluar hidungnya ditutupin aja pakai slayer atau masker walaupun cuma naik angkot. Wajar saja kalau ada pemanasan global, karena lingkungannya juga makin parah...