Senin, 02 Februari 2009

Mendidik Generasi Melek Baca

SEKITAR sepuluh tahun yang lalu, setelah International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) mempublikasi hasil studinya secara luas tentang tingkat melek baca siswa usia 9-14 tahun di 41 negara, kita sempat dikejutkan oleh kemampuan anak bangsa kita yang menduduki posisi kedua dari urutan paling bawah। Untungnya pada siklus riset kedua (1998-2001) yang melibatkan 35 negara, Indonesia tidak dilibatkan sehingga keterkejutan itu sempat reda sekitar beberapa tahun terakhir.
Mencermati minat baca anak bangsa sebenarnya tidak sederhana. Seperti dinyatakan Susan Burns (1998) dalam bukunya Starting Out Right, minat membaca merupakan suatu yang kompleks yang melibatkan keterampilan membaca sekaligus lingkungan yang melingkupi­ nya. Keduanya saling bertalian satu sama lain. Keterampilan dibentuk karena proses pembelajaran, sementara lingkungan membaca merupakan efek latar kondisi masyarakat se­kitar yang berpengaruh pada pem­biasaan membaca.

Pada masyarakat maju, membaca merupakan fenomena sosial yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas lainnya. Saat di rumah, mereka membaca, ketika bepergian mereka membaca, pergi ke perpusakaan mereka membaca, di sekolah atau kampus mereka membaca, bahkan ketika makan pun mereka masih menyempatkan membaca. Andaikata dalam sehari mereka membaca 1.000 kata atau sekurang-kurang­nya sama dengan membaca satu artikel penuh di koran Pikiran Rakyat, da­lam satu tahun syaraf mata mereka telah mengirimkan sinyal ke otak un tuk menangkap makna dari sekitar 360।000 kata, atau setara dengan membaca enam buku setebal 200 halaman setiap tahunnya.


Perhitungan di atas boleh jadi merupakan jumlah minimal dari suatu kebiasaan membaca di negara yang sudah maju. Sebab hampir rata-rata mereka menenteng buku ke mana pun mereka pergi dan membacanya saat memungkinkan. Satu hal yang menarik pada masyarakat Amerika Serikat misalnya, mereka banyak yang menyukai buku-buku fiksi seperti novel. Bahkan di perpustakaan lokal, buku referensi yang terlampau akademis menjadi buku yang jarang dipinjam para pengunjung perpustakaan. Karena itu, buku yang banyak tersedia di perpustakaan lokal adalah buku-buku berka­te­gori fiksi.

Fenomena ini sebenarnya me­nan­dakan bahwa mereka sudah menjadi life-time readers, yakni pembaca sepanjang hayat. Membaca bagi mereka merupakan kebiasaan yang menyenangkan dan telah menjadi hiburan yang bermanfaat. De­ngan membaca, mereka juga dapat bercerita pada temannya tentang apa yang telah mereka peroleh dari sejumlah buku. Dalam konteks ma­syarakat maju seperti ini, benar apa yang dinyatakan Mark Twain bahwa orang yang membaca buku da­pat memberikan manfaat bagi orang yang tidak dapat membacanya.

Pada dunia akademik seperti di perguruan tinggi, kelengkapan buku memang luar biasa. Perpustakaan kampus di Columbia University misalnya dapat meminjamkan buku untuk jangka waktu selama satu semester। Jumlah buku yang dipinjamkan boleh lebih dari 50 eksemplar. Sementara pada perpustakaan lokal, anggota perpustakaan dapat me­minjam sekitar 20 buku. Jadi untuk seorang mahasiswa yang mengakses dua perpustakaan saja dapat tersedia 70 buku di kamar kosnya, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun un­tuk pengadaan buku. Belum lagi buku-buku tersebut rata-rata buku baru.

Secara jujur kita tak dapat me­nafikkan bahwa budaya baca ma­sya­rakat kita masih rendah. Meski rendahnya minat baca tidak pernah dapat diukur secara persis, indikator jumlah eksemplar buku yang diterbitkan setiap tahun barangkali masih relevan untuk memperkirakan kecenderung tersebut. Ditambah lagi, hasil penilaian IAEEA se­perti yang telah diungkapkan di mu­ka merupakan suatu yang tak dapat dibantah, bahwa pada kenyataannya mayoritas masyarakat kita belum melek baca. Mungkin membaca hanya sekadar kebutuhan untuk memenuhi pelajaran di sekolah atau untuk pekerjaan tertentu boleh jadi cukup bagus. Tetapi membaca sebagai kegemaran tampaknya belum melekat kuat pada sebagian besar ma­syarakat kita.

Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah bagaimana membuat masyarakat agar mereka memiliki kebiasaan membaca sebagai kegemaran dan kebutuhan sehari-hari. Ini tentu harus ada upaya untuk menggeser tradisi membaca pada masyarakat yang hanya membaca untuk kepentingan akademik atau pekerjaan ke arah tradisi membaca sepanjang hayat. Karena itu, dibutuhkan upaya-upaya untuk membuka ruang, akses informasi, dan partisipasi secara luas agar masyarakat terbiasa membaca. Kalau dipilah, strategi membangun budaya baca pada masyarakat kita ada beberapa cara yang dapat ditempuh.

Pertama, sudah saatnya peme­rintah khususnya pemerintah dae­rah menyediakan fasilitas perpustakaan lokal। Perpustakaan ini bukan yang dimaksud dengan perpustakaan daerah seperti yang ada saat ini. Perpustakaan lokal harus tersebar pada beberapa titik kota dengan pertimbangan jarak pada radius tertentu antarperpustakaan, satu dan lainnya. Atau paling tidak, pada setiap kecamatan ada perpustakaan lokal yang menjadi tempat bagi masyarakat untuk membaca koran, majalah, novel, cerpen, buku pelajaran sekolah, buku referensi, CD, kaset, dll.

Kedua, diperlukan event-event yang menantang untuk membaca buku. Kegiatan seperti bedah buku, pameran, jumpa pengarang, dan lainnya perlu semakin digiatkan. Sementara ini, kegiatan semacam itu masih lebih populer dilakukan perguruan tinggi, daripada di sejumlah sekolah/madrasah. Buku yang da­pat didiskusikan dapat bervariasi. Bu­ku-buku pelajaran yang baru terbit, buku untuk anak-anak, atau novel dapat menjadi bahan kaya untuk dibedah di tingkat sekolah.

Ketiga, diperlukan peran yang lebih besar dari orang tua dalam mengarahkan minat baca anak. Pera­nan orang tua ini ternyata sangat penting dan signifikan terhadap kemampuan baca anak dan perkemba­ngan intelektualnya. Seperti dinyatakan Bernice Cullinan & Brod Bagert (1996) dalam bukunya Helping Your Child to Read, anak yang membaca bersama orang tuanya ternyata cen derung memiliki intelegensi, kemampuan membaca, penguasaan bahasa, dan keterampilan berkomunikasi dibandingkan mereka yang kurang memperoleh bimbingan orang­tuanya. Alih-alih, memba­ngun masyarakat melek baca harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Keempat, perlu peran yang lebih besar dari sejumlah penerbit buku dalam memasyarakatkan minat ba­ca. Pemasyarakatan minat baca tidak cukup dengan pameran buku dengan diskon harga, tetapi perlu adanya pendermaan yang lebih besar dari usaha mereka untuk peng­adaan buku di sejumlah institusi pendidikan. Buku-buku yang kurang laku dijual ada baiknya dihibahkan ke sejumlah lembaga pendidikan untuk melengkapi perpustakaan.

Kelima, lembaga pendidikan se­perti sekolah perlu lebih cerdas da­lam memilih buku yang berkualitas untuk bahan pembelajaran. Buku-buku yang menggunakan visualisasi gambar dan memiliki alur skema berpikir yang sistematis dapat menjadi pilihan bahan pembelajaran anak didik. Selain itu pembiasaan anak untuk membaca teks narasi seperti novel, cerpen, cerita rakyat, atau buku cerita lainnya akan membantu pembentukan konstruksi memori anak yang lebih beralur ketimbang hanya membaca buku-buku teks pelajaran yang sifatnya definitif. Kesenangan membaca buku kategori naratif inilah sesungguhnya yang membedakan minat baca di negara maju dengan negara berkembang.

Lima strategi itu diharapkan mam­pu meningkatkan budaya me lek baca pada masyarakat kita. Jika budaya baca menyebar bagaikan virus endemik pada masyarakat kita tentu penghargaan terhadap ilmu pun menjadi meningkat.

Membaca adalah jabatan ilmu dan urat nadi kehidupan yang da­pat menjadikan bangsa kita lebih terhormat. Kegemaran membaca juga diharapkan melahirkan kreati­vitas menulis yang sementara ini masih belum menjadi tradisi luas bangsa kita.

Perokok Pasif Mempunyai Risiko Lebih Besar Dibandingkan Perokok Aktif

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Padahal perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kanker paru-paru dan penyakit jantung ishkemia. Sedangkan pada janin, bayi dan anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asthma.Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan tema "Kemiskinan dan Merokok Sebuah Lingkaran Setan" sekaligus meluncurkan buku Fakta Tembakau Indonesia Data Emperis Untuk Strategi Nasional Penanggulangan Masalah Tembakau tanggal 31 Mei 2004 di Kantor Depkes Jakarta.

Mengingat besarnya masalah rokok, Menkes mengajak seluruh masyarakat bersama pemerintah untuk menjalankan cara-cara penanggulangan rokok secara sistematis dan terus menerus yaitu meningkatkan penyuluhan dan pemberian informasi kepada masyarakat, memperluas dan mengefektifkan kawasan bebas rokok, secara bertahap mengurangi iklan dan promosi rokok, mengefektifkan fungsi label, menggunakan mekanisme harga dan cukai untuk menurunkan demand merokok dan memperbaiki hukum dan perundang-undangan tentang penanggulangan masalah rokok.

Menurut Menkes, kemiskinan dan merokok terutama bagi penduduk miskin merupakan dua hal yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang membakar rokok tiap hari berarti telah kehilangan kesempatan untuk membelikan susu atau makanan lain yang bergizi bagi anak dan keluarganya. Akibat dari itu anaknya tidak dapat tumbuh dengan baik dan kecerdasanya juga tidak cukup berkembang, sehingga kapasitasnya untuk hidup lebih baik di usia dewasa menjadi sangat terbatas. Selain itu, kemungkinan besar sang ayah juga meninggal oleh karena penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok. Demikian seterusnya, sehingga merokok dan kemiskinan merupakan sebuah lingkaran setan

Menkes menambahkan, kebiasaan merokok di Indonesia cenderung meningkat. Berdasarkan data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) penduduk Indonesia usia dewasa yang mempunyai kebiasaan merokok sebanyak 31,6%. Dengan besarnya jumlah dan tingginya presentase penduduk yang mempunyai kebiasaan merokok, Indonesia merupakan konsumen rokok tertinggi kelima di dunia dengan jumlah rokok yang dikonsumsi (dibakar) pada tahun 2002 sebanyak 182 milyar batang rokok setiap tahunnya setelah Republik Rakyat China (1.697.291milyar), Amerika Serikat (463,504 milyar), Rusia (375.000 milyar) dan Jepang (299.085 milyar).

Menurut Menkes, diantara penduduk laki-laki dewasa, persentase yang mempunyai kebiasaan merokok jumlahnya melebihi 60%. Walaupun peningkatan prevalensi merokok ini merupakan fenomena umum di negara berkembang, namun prevalensi merokok di kalangan laki-laki dewasa di Indonesia termasuk yang sangat tinggi.

Sedangkan di negara maju yang terjadi justru sebaliknya, persentase perokok terus menerus cenderung menurun dan saat ini kira-kira hanya 30% laki-laki dewasa di negara maju yang mempunyai kebiasaan merokok. Hal ini disebabkan tingkat kesadaran masyarakat di negara maju akan bahaya merokok sudah tinggi. Masyarakat sudah sadar merokok merupakan faktor risiko penyebab kematian, faktor risiko berbagai penyakit dan disabilitas.

Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dr. Frits Reijsenbach de Haan menyatakan, masyarakat miskin adalah kelompok masyarakat yang paling menjadi korban dari industri tembakau karena menggunakan penghasilannya untuk membeli sesuatu (rokok) yang justru membahayakan kesehatan mereka.

Dalam laporan yang baru saja dikeluarkan WHO berjudul "Tobacco and Poverty : A Vicious Cycle atau Tembakau dan Kemiskinan : Sebuah Lingkaran Setan" dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tanggal 31 Mei 2004, membuktikan bahwa perokok yang paling banyak adalah kelompok masyarakat miskin. Bahkan di negara-negara maju sekalipun, jumlah perokok terbanyak berasal dari kelompok masyarakat bawah. Mereka pula yang memiliki beban ekonomi dan kesehatan yang terberat akibat kecanduan rokok. Dari sekitar 1,3 milyar perokok di seluruh dunia, 84% diantaranya di negara-negara berkembang.

Hasil penelitian itu juga menemukan bahwa jumlah perokok terbanyak di Madras India justru berasal dari kelompok masyarakat buta huruf. Kemudian riset lain membuktikan bahwa kelompok masyarakat termiskin di Bangladesh menghabiskan hampir 10 kali lipat penghasilannya untuk tembakau dibandingkan untuk kebutuhan pendidikan. Lalu penelitian di 3 provinsi Vietnam menemukan, perokok menghabiskan 3,6 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk pendidikan, 2,5 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan dengan pakaian dan 1,9 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk biaya kesehatan.

Menurut WHO, merokok akan menciptakan beban ganda, karena merokok akan menganggu kesehatan sehingga lebih banyak biaya harus dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Disamping itu meropok juga menghabiskan uang yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan yang bergizi.

Untuk mengurangi/menghilangkan kemiskinan, pemerintah perlu segera mengatasi masalah konsumsi tembakau. Karena itu Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia mendorong pemerintah Indonesia untuk lebih serius lagi mempertimbangkan untuk menandatangani global Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) akhir masa penandatangan akhir Juni 2004. Dengan demikian Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam gerakan pengawasan tembakau.

Selain meluncurkan buku, Menkes menyerahkan penghargaan "Manggala Karya Bakti Husada Arutala" kepada Pondok Pesantren Langitan karena jasanya dalam menciptakan Kawasan Tanpa Rokok serta penyerahan hadiah kepada 4 pemenang Quit and Win (Lomba Berhenti Merokok) yang diselenggarakan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3).

Kebiasaan minum susu rakyat Indonesia terendah di Asia Tenggara

Kebiasaan Minum Susu Masyarakat Indonesia terendah di Asia Tenggara
Kalau kurang minum susu, maka kualitas Sumber Daya Manusia pun akan menjadi rendah, kata Guru Besar Pagan dan Gizi IPB Prof Ali Khomsan, kepada rileks.com, usai peluncuran Kampanye Minum Susu di tahun 2007, di Hotel Nikko, Rabu (20/6/2007).

Menurut data tahun 2006, konsumsi susu penduduk Indonesia hanya mencapai hanya 7,7 liter per orang per tahun. Kalah jauh dengan konsumsi susu penduduk India yang mencapai 44,9 liter per orang per tahun.

"Untuk mengejar konsumsi susu di India membutuhkan waktu 120 tahun. Jumlahnya sendiri juga masih kalah jauh dengan Malaysia yang mencapai 25 liter per kapita per tahun. Angka ini juga masih lebih rendah dari Vietnam yang mencapai 8,5 liter per kapita per tahun. Tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia ditengarai menjadi penyebabnya," ujar Ali

Faktor lain yang menjadi pendukung rendahnya minat minum susu masyarakat Indonesia adalah kebiasaan berhenti minum susu saat anak telah berusia 5 tahun.

"Saat anak berusia 5 tahun, biasanya orangtua langsung mengalihkan kebiasaan minum susu si anak kepada adiknya yang berusia lebih muda. Sang kakak berhenti minum susu, lalu kebiasaan minum susu dilanjutkan adiknya. Padahal, idealnya kebiasaan minum susu tidak boleh berhenti sampai kapan pun," kata Ali.

Di negara maju seperti di Amerika Serikat, susu sudah disejajarkan dengan lauk pauk dalam tingkat primida makanan. Sedangkan di Indonesia susu hanya dijadikan sebagai `pelengkap`.

Fakta ironis yang diketemukan baru-baru ini, lanjut Ali, banyak para ayah tetap berkepentingan membeli rokok, dimana harga 1 bungkus rokok sama dengan harga 1 liter susu atau 3,5 butir telur.

Yang penting harus disadari oleh orang tua, susu kaya akan vitamin dan nutrisi penting, untuk itu, susu sangat baik dikonsumsi oleh siapa saja, tidak terbatas pada usia. Susu memiliki berbagai manfaat, antara lain menunjang pertumbuhan, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah osteoporosis, dan juga bisa memberikan efek yang menenangkan, sehingga susu baik dikonsumsi sebelum tidur, tegas Ali.

Tetra Pak Indonesia, sebagai perusahaan pemrosesan dan pengemasan pangan, dan produsen susu cair seperti Ultrajaya Milk Industry (Susu Ultra), Indomilk (Susu Indomilk), Greenfields Indonesia (Real Good), PKIS Sekartanjung (Susu Juara) dan Fonterra Brands Indonesia (Anlene), serta Persatuan Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI), beramai-ramai mengadakan kegiatan Kampanye Minum Susu, dengan tema “Susuku Perisaiku”.

“Kami menyadari bahwa Kampanye Minum Susu ini merupakan sebuah upaya jangka panjang yang memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Tahun ini kini kami memfokuskan kegiatan kami di tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Kami melihat bahwa konsumsi susu yang tadinya 6,8 liter per orang perkapita pada tahun 2005, perlahan-lahan meningkat menjadi 7,7 liter per orang perkapita di tahun 2006. Peningkatan tersebut memacu semangat kami untuk terus berusaha menanamkan kebiasaan minum susu sebagai bagian penting dari pola makan yang sehat dan seimbang,” kata Mignonne N.B. Maramis, Communications Director Tetra Pak Indonesia.

Kampanye Minum Susu ini merupakan kelanjutan dari program edukasi yang dilakukan oleh Tetra Pak Indonesia sejak tahun 2004. Kampanye untuk menanamkan kebiasaan meminum susu ini didukung oleh Ricky Soebagdja sebagai Duta Kampanye Minum Susu. Untuk pertama kalinya tahun ini, beberapa selebritis seperti Farhan, Dian Nitami, Tasya, dan Marshanda rencananya akan mendukung Kampanye Minum Susu, bersama anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Para selebritis dan anak-anak sekolah tersebut akan memeriahkan peluncuran Kampanye Minum Susu di tahun 2007 dengan membagikan susu di Bunderan Hotel Indonesia, Rabu, 20/6-2007.. Tapi kegiatan ini urung dilaksanakan karena hujan mengguyur kota Jakarta sepanjang siang.

Hari Susu Sedunia dirayakan setiap tanggal 1 Juni di seluruh dunia untuk mengingatkan masyarakat luas akan manfaat dari susu. Pencetus ide Hari Susu Sedunia adalah Badan Pangan dan Pertanian PBB (UN Food and Agriculture Organisation).