Rabu, 01 Maret 2017

Latepost: Tentang Pengobatan Gigi Keroposku

Yang ini juga cerita lama, aku buat tanggal 6 Desember 2015.

*****

Sebulan lebih yang lalu aku sempat merasa agak aneh dengan gigiku. Aku yang biasanya lebih enak mengunyah pake gigi sebelah kiri, tiba-tiba aja jadi kurang enak. Tapi ya sudah lah.
            
Tapi setelah itu terjadi hal yang lebih tidak enak. Ada gigi sebelah kiri yang tiba-tiba jadi sensitif. Kalau kena yang dingin atau panas gitu langsung ngilu. Ya sudah, aku pikir mungkin kapan-kapan aku bisa ganti pasta gigi untuk gigi sensitif.
            
Tapi kemudian jadi lebih parah lagi. Walau lagi nggak makan minum pun, rasanya jadi ngilu. Aku jadi curiga jangan-jangan aku lagi sakit gigi. Tapi masa, sih? Perasaan aku rajin gosok gigi deh, minimal dua kali sehari, termasuk sebelum tidur. Tapi kemudian aku iseng-iseng melongok si gigi. Setelah kulihat di cermin, ini mananya ya yang sakit? Ternyata, setelah pakai senter dari hape, ketahuan kalau gigi geraham kiri yang paling belakang ternyata bolong. Oh, God! Pantesan sakit. Gigiku bolong... berarti keropos, dong! Aku kira itu cuma mitos dokter gigi (nggak akan terjadi padaku maksudnya), ternyata... hmm... aku pikir itu cuma buat anak kecil yang suka makan manis-manis saja.
            
Bingung juga ini. Selain bingung giginya bakal diapain aja sama dokter gigi, juga bingung mikirin biayanya. Tapi setelah curhat sama mbak kos, dia nyaranin ke puskesmas aja, biar lebih murah. Waduh, kenapa aku nggak kepikiran begitu, ya? Dulu waktu tangan gatal mikirnya langsung ke dokter kulit, sekarang waktu sakit gigi langsung mikir dokter gigi non puskesmas. Sebelum memutuskan untuk ke puskesmas (persiapan mental dulu), aku minum pana*** buat meringankan rasa sakit yang banget itu.


Kunjungan Pertama
            
Akhirnya saat ke puskesmas tiba. Tentu saja aku dirujuk ke poli gigi. Udah daftarnya langsung dilayanin, masuk poli giginya juga langsung, nggak pake antri.
            
Begitu masuk poli gigi... semwriwing. Baunya... sangat khas poli gigi, nggak berubah dari aku kecil sampai sekarang. Juga, menakutkan. Dengan kasur operasi (sebut saja begitu) sekalian dengan alat-alatnya yang memang mirip alat operasi. Menakutkan. Ada bor atau apa lagi itu (begitu di mataku).
            
Duluuuu banget sempet denger kalau gigi bolong itu giginya bakalan dibor. Entah kata siapa, aku juga nggak ingat. Nah, waktu itu tiba-tiba saja aku merasa dag dig dug ser. Masa gigi udah bolong mau dibor? Habis, dong?
            
Dokter yang menangani perempuan. Bagiku perempuan atau laki-laki sama saja, kesannya menakutkan walau dokternya ramah. Disuruh rebahan, kumur-kumur, lalu dokternya menanyakan keluhan.
            
“Giginya berlubang,” kataku.
            
Mulutku dibuka dan si dokter mulai memeriksa. “Giginya masih bisa dipertahankan.” 

Agak senang juga sih, sebab kalau sudah terlambat, pikirku mungkin akan dicabut paksa kayak aku dulu waktu kecil. Waktu itu ada gigi liar tumbuh dan harus dicabut paksa. Lebih sakit  dari cabut gigi yang sudah goyang.
            
Aku memilih diam saja, sebab aku nggak mau dianggap pasien yang cerewet. Kalau sakit ya resiko, siapa suruh giginya bolong?
            
Tapi aku nggak tahan juga untuk bilang, “Ini diapain ya, Dok?” waktu si dokter udah mulai bersiap beraksi dengan alat-alatnya yang menakutkan.
            
“Cuma dibersihkan.”
            
Bohong. Pasti nggak cuma dibersihkan aja. pasti akan terjadi sesuatu yang lain.
            
Si dokter mengambil salah satu alat yang mirip bor mini dengan ujung tumpul. Nah, mungkin ini yang katanya dulu disebut bor. Apa ‘bor’ ini untuk membersihkan gigiku?
            
Aku bersiap-siap merasa sakit ketika alat si dokter mau menyentuh gigiku. Ternyata begitu mendarat, aku nggak merasa sakit. Tapi merasakan rasa yang tidak enak di mulutku. Ya, semacam bau bor begitulah (padahal aku nggak tau persis bau bor itu bagaimana).
            
“Kumur,” begitu perintah si dokter setelah selesai ‘mengebor’ gigiku. Begitu kumur, rasanya agak pahit gimana gitu. Ternyata proses pembersihan gigi nggak cuma sekali aja, namun diulang-ulang.
            
Pada akhirnya, si dokter memasukkan sesuatu di gigiku yang berlubang. Semacam serabut halus berwarna cokelat begitu. Si dokter menekan-nekan serabut itu di lubang gigi, kemudian ditutup dengan serabut putih yang lebih halus teksturnya, namun lebih kasar dari kapas.
            
Seingatku prosesnya cuma segitu. Terus kata dokter, itu tadi berfungsi untuk mematikan saraf gigi. Kenapa begitu? Aku nggak tahu. Aku bahkan sempat berpikir kalau suatu saat gigi berlubangku itu akan dicabut paksa. Tapi pikirku, gigi yang dicabut dulu cuma gigi seri dan gigi taring, tidak pernah gigi geraham.

Dokternya bilang, mungkin selama seminggu itu gigiku akan sakit, namun ada juga orang yang tidak merasakan apa-apa. Aku harap aku orang yang tipe kedua. Dokternya juga bilang kalau aku harus kontrol tiap minggu.

Oh ya, para serabut itu, khususnya yang cokelat, rasanya kayak cengkeh dan cukup kuat. Yakin, deh, soalnya dulu waktu kecil sempat penasaran. Aku pikir cengkeh itu bisa dimakan kayak kue nastar. Ternyata...
            
Selesai prosesnya,tiba-tiba gigiku rasanya sakit banget, lebih sakit dari hari sebelumnya sebelum dibawa ke puskesmas. Kepalaku sampai terasa berat saking nahan sakitnya. Sama dokter disuruh bayar 15.000 kemudian diberi resep obat. Obatnya berupa pil enam butir, yang segera habis dalam dua hari.
            
Sakitnya masih bertahan sampai kos. Aku jadi bingung, ini aku nanti bisa makan nggak, ya? Gawatnya lagi, siang aku harus kuliah. mana harus ngomong, lagi.
            
Ternyata sakitnya nggak bertahan lama banget. Sebelum kuliah aku bahkan sudah bisa makan nasi.
            
Pengeluaran kunjungan pertama: administrasi 5.000 + dokter dan obat 15.000 + parkir 2.000 = 22.000


Kunjungan Kedua
            
Masih di hari Kamis pada minggu berikutnya. Poli gigi masih sama menakutkannya. Kali ini aku dibaringkan di kasur yang lain (di poli gigi itu kasurnya ada dua). Kali ini yang menangani dokter laki-laki.
            
Dokter yang satu ini terkesan lebih ‘kasar’ karena beberapa kali aku sempat kesakitan waktu gigiku dibersihkan. Bahkan aku sempat melihat gumpalan darah setelah aku berkumur. Hi, ngeri juga.
            
Yang kedua ini tambalan minggu sebelumnya diambil kemudian ditambal lagi dengan serabut putih yang entah sama atau tidak dengan yang kemarin. Setelah itu, ditambal lagi dengan cairan ketal putih mirip pep****nt. Rasa dan baunya pun mirip itu.
            
Seiring berjalannya waktu rasa dan baunya tidak hanya mirip odol itu, tapi juga mirip bau poli gigi. Parahnya, waktu makan terkadang rasa makanannya tercampur rasa odol dan poli gigi itu. Walaupun bukan rasa yang nggak enak banget, tapi kan gimana gitu. Belum lagi sensasi rasa 'crack' waktu pasta yang sudah mengeras itu tergigit. Geli gimana gitu
            
Untuk kali ini sudah tidak dikasih obat lagi, walau dikenakan biaya yang sama. Kata dokternya, aku masih harus kontrol lagi sekitar dua kali. Aku membatin, kalau gini lama-lama biayanya sama dengan biaya dokter gigi non puskesmas, dong?


Kunjungan Ketiga

Kali ini aku datang lebih pagi dari kunjungan sebelumnya. Sengaja aku nggak parkir motor di tempat parkir, tapi di dekat warung. Habis, males banget kalau harus bayar parkir dua ribu, soalnya aku sentimen sama yang namanya tukang parkir. Tahu atau tidak, mereka itu banyak yang seenaknya sendiri korupsi. Udah selangkah mirip sama para pejabat.
            
Namun ternyata keputusanku berangkat lebih pagi dari biasanya itu kurang tepat. Dua pertemuan sebelumnya sepi dan bisa langsung dilayani, tapi kali ini malah rame banget. Akhirnya, karena was-was, udah deh pasrah menyerahkan motor ke tangan tukang parkir.
            
Kasur operasinya balik lagi ke yang pertanya. Dokternya juga balik lagi perempuan, tapi dengan dokter yang berbeda. Seperti sebelumnya, tambalan minggu lalu diambil kemudian aku memberanikan melirik si dokter yang ‘meracik’ sesuatu seperti cairan odol. Mungkin sama dengan yang minggu lalu.
            
Setelah dibersihkan dengan ‘alat bor’ dengan rasa dan bau yang khas itu, disuruh kumur, kemudian menggigit gumpalan kasa atau apalah itu, yang biasanya dipake dokter gigi. Setelah itu, diberi sesuatu yang lebih padat dari serabut tapi bukan serabut, warnanya cokelat. Lalu ditutup dengan cairan mirip odol tapi lebih encer tadi.
            
Oh ya, untuk mengeringkan dan memadatkan tambalan itu dokter gigi memakai alat yang menyemprotkan udara, mungkin mirip dengan alat untuk ‘memadatkan’ makanan mahal itu (Kok ngomongnya begini, ya? Maklum, nggak tahu istilahnya).
            
Kata si dokter, ini sudah kunjungan terakhir dan nggak perlu kontrol lagi. Seneng dong. Katanya lagi, harus rutin memeriksakan gigi paling tidak setahun sekali. Bukan yang enam bulan sekali, dong? Tapi biarlah, yang penting aku nggak usah kontrol begini lagi.
            
Bayarnya kali ini lebih mahal, 25.000 + registrasi 5.000 + parkir 2.000.


Penyebab dan Pesan
            
Sebenarnya aku sempat bingung kenapa gigiku bisa berlubang, karena setiap hari rutin gosok gigi. Apa mungkin gosok giginya kurang bersih, ya?
            
Namun setelah dipikir-pikir, faktor nutrisi pasti berperan. Aku ingat-ingat kebiasaanku, kira-kira apa yang bisa bikin gigi keropos?
            
Asumsiku adalah sering minum kopi dan tidak  minum susu. Aku memang suka minum kopi, apalagi kalau pagi. Walau setelah itu gosok gigi, tapi sesering apapun minum kopi pasti tidak baik. Apalagi terakhir aku minum susu itu waktu SMA. Waktu itu memang rasanya aku jadi nggak gampang sakit. Pokoknya rasanya beda minum susu sama nggak minum susu. Mungkin budget anak kos jadi alasan, ya. Hehehe.
            
Yang bikin jadi teringat sama susu adalah ketika aku sakit beberapa hari sebelum aku tahu kalau gigiku berlubang. Rasa-rasanya aku sudah lama banget nggak sakit panas, terakhir sekitar setahun sebelumnya, itupun pagi sakit sore sudah sembuh. Memang sih aku sering pulang malam karena waktu itu ada kelas bahasa Mandarin dan ngasih les privat. Tambahan lagi, dengan pedenya aku nggak pakai jaket karena beralasan nggak dingin. Malam sebelum aku sakit juga pulang malam dan terpapar asap rokok selama kurang lebih tiga jam -____- Aku jadi kapok kalau ke kafe lagi.
            
Mulai saat itu aku jadi mengonsumsi susu dan madu bergantian. Berhubung susu lebih cepat habis dan mahal, akhirnya sekarang aku minum madu saja. Minum susu sudah habis tiga kotak dan aku sayang sama uangnya (tetep alesannya uang :D).
            
Dan mungkin berkat dua minuman ini, keluhan menahunku hilang. Aku ingat sejak lulus SMA, bibir gampang banget kering dan pecah-pecah. Aku sempat heran juga kok bisa begini dan nggak sembuh-sembuh. Sejak saat itu, aku bergantung pada lip balm, utamanya sebelum tidur.
            
Nah, sejak lip balmku hampir habis dan mulai minum susu dan madu, sekarang udah nggak pecah-pecah lagi. Walaupun kadang kering dikit-dikit, tapi kadang juga bisa halus banget, padahal nggak aku apa-apain. Dan yang paling penting, udah nggak pecah-pecah lagi.

            
Jadi kesimpulannya, keluhan-keluhan yang aku alami diatas adalah karena KURANGNYA NUTRISI. Sudah. Cukup sekian dan terima kasih.


******

UPDATE:
Seharusnya sudah setengah tahun yang lalu aku periksa gigi lagi, tapi belum terjadi sampai sekarang :D Dan ternyata, minum kopi dan teh sering-serng itu bukan penyebab gigi berlubang. Aku tanya dokter gigi kenalanku, katanya itu akibat makanan dan minuman manis berlebih yang dimakan dan diminum waktu kecil. Semuanya terakumulasi dan kelihatan dampaknya setelah dewasa. Waktu aku bilang kopi dan teh penyebabnya dan aku dapat info itu dari internet, dia bilang jangan suka percaya sama info di internet :D Memang benar sih, aku dulu waktu kecil memang suka manis. Baru berhenti suka waktu udah lebih gede.


Latepost: Kebaikan Kecil untuk Sesama

Sebenarnya ini sudah lama aku tulis sih. Iseng coba posting di blog lagi. Waktu lihat file di laptop, ada cerita ini yang belum sempat aku posting. Kejadian ini terjadi pada 7 Oktober 2015 (lama banget ya, aku aja heran).

*****

Baru saja aku selesai kelas Bahasa Mandarin di Rumah Bahasa, aku langsung meluncur ke bagian lain dari kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kebetulan sedang ada book fair disitu. Sebenarnya dua hari lalu sudah kesitu sih, tapi akhirnya kepingin kesitu lagi karena masih ada buku yang masih dibeli. Mumpung murah, hehe. Buku-buku yang kubeli rata-rata harganya 15.000, ada yang 12.000, malah ada yang 10.000. Kalau begitu yang ada rasanya kalap pengen ngeborong seluruh isi pameran.

Biasanya kalau sudah kalap belanja, rasanya rada khilaf begitu. Akupun demikian. Yah, namanya juga cewek. Kalau belanja kan seneng, tapi kalau sudah kebanyakan belanja jadinya khilaf deh. Tapi berusaha biasa saja dan menghibur diri. Buku kan bisa jadi investasi sampai nanti tua.

Nah, inti ceritanya dimulai ketika aku keluar dari pintu exit ke tempat parkiran. Begitu turun meniti tangga, ada laki-laki yang menawarkan koran. Kelihatannya sih masih bisa dibilang mas-mas gitu lah ya. Yah, kalau baca koran sih mendingan pinjem aja daripada beli. Lagian, sudah lewat maghrib juga. Pastinya itu koran sisa pagi tadi. Aku menolak mas-mas itu dengan halus.

Ketika sudah duduk di atas motor, aku inget kalau belum menukarkan struk belanja dengan kupon undian. Aku balik lagi ke pintu masuk book fair. Setelah mengurus ini itu, aku balik lagi ke parkiran, duduk di atas motor sambil main hape. Setelah cukup, aku pasang masker, siap untuk pulang.

Nah, waktu itu si mas-mas datang lagi, nawarin koran. Sama seperti sebelumnya, aku menolak halus, namun aku masih disitu, belum bersiap untuk menegakkan motor. Mas-mas itu, tanpa berusaha untuk kelihatan pantas untuk dikasihani, berkata kalau koran yang dibawanya masih banyak. Benar juga, ya, padahal sudah semalam itu. Beberapa jam lagi sudah ganti hari dan pastinya korannya tidak laku.

Dibilang begitu, sontak hatiku terusik (heah, bahasanya bahasa novel amat). Aku bertanya, “Jawa Pos berapa Mas?”

“Empat ribu Mbak.”

Harga normalnya sih lima ribu, tapi karena sudah malam ya jadi dimurahin. Refleks aku ngulurin uang lima ribu sekalian.

“Sekalian lima ribu aja ya, Mas.”

“Alhamdulillah, barakallah, semoga berkah, Mbak.” Si Mas menerima uang dengan perasaan syukur yang kentara sekali.

Nyessss.... rasanya hati ini campur aduk, antara terharu, tersanjung, bahagia, dan entah apalagi. Dari tadi memang si mas perkataannya baik dan sopan. Kurang bisa merinci, namun diantaranya yaitu si Mas masih sempet-sempetnya ngingetin aku yang mungkin sedikit teledor di matanya. Mulai dari meletakkan hape sembarangan di pangkuan sampai dompet juga.

“Hapenya dibenerin dulu, Mbak, jangan ditaruh begitu, nanti jatuh.”

Sekitar dua kali beliau mengingatkan begitu. Aku yang sudah biasa begitu hanya cengengesan. Yah, mungkin menurutnya aku agak serampangan, menaruh hape dengan posisi yang rentan membuat hapenya jatuh.

Yang membuatku teringat pada beliau yaitu ekspresi bersyukurnya ketika menerima uang dariku. Aku nggak bisa lupa itu. Aku bisa merasakan kalau beliau orang yang tulus dari perkataannya yang sopan, tidak memaksa, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Aku yang belum tentu membeli korannya, dengan baik hatinya diperingatkan agar hati-hati memerlakukan hapeku, yang mungkin di matanya merupakan suatu benda yang mewah. Padahal hapeku itu, walaupun android, termasuk agak jadul jika dibandingkan dengan punya teman-temanku. Yang lain punya hape keluaran terbaru, contoh saja samsul sampai apel, sementara hapeku sudah berumur dua tahun dan mulai penyakitan. Untuk dipakai selfie pun ga bagus, karena kamera depannya kurang bagus, tidak seperti punya teman-teman.

Sepeninggal si mas koran, refleks aku langsung nangis. Perasaanku campur aduk, sampai aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk ditulis disini. Beneran. Sampai di jalan raya pun aku masih nangis. Aku baru berpikir kenapa aku nggak kasih beliau uang sepuluh ribu saja, namun aku punya pertimbangan. Aku takut kalau beliau merasa tersinggung atau apa, namun setelah kupikir, tampaknya beliau bukan orang seperti itu. Uang seribu rupiah saja sangat disyukuri, apalagi enam ribu rupiah. Rasanya ingin ngajak ngomong si Mas sebenarnya, tapi takut mengganggu pekerjaannya. Beliau dikejar waktu untuk menghabiskan dagangannya yang terancam tak laku.

Aku masih ingat ketika aku bertanya, “Jualan dari pagi?”

“Iya, Mbak. Ya begini ini, kalau jualan kadang laku kadang nggak.”

“Jualan dimana aja, Mas?”

“Dimana-mana Mbak, ini dari tadi muter-muter.”

Ya Allah, speechless...
           
Aku mau sharing ini bukan karena berniat riya’ atau bagaimana, namun hanya ingin sharing pengalaman dan pelajaran hidup. Silahkan disimpulkan sendiri pelajaran dari peristiwa ini, karena aku terlalu speechless untuk merangkai kata inspirasi yang datang dari si mas penjual koran.
            
Right now, I am sitting here with the newspaper I bought from him. May Allah always light his way and give much of His blessings every day.
           
Uang yang kukeluarkan hanya lima ribu rupiah, namun pelajaran yang didapatkan tak bisa diukur dengan uang. Kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, pernyataan itu tidak sebenuhnya benar. Buktinya, dengan mengeluarkan uang segitu, aku bisa bahagia, lebih dari bahagia karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Jadi dengan kata lain, aku telah membeli kebahagiaan itu, dengan uang pastinya.

Review: Mie Nelongso (Mojokerto)

Minggu, 19 Februari 2017, aku coba makan di Mie Nelongso yang ada di Kota Mojokerto. Awalnya kurang yakin sih, tapi karena adek 'maksa', jadinya mau-mau aja.

Tempatnya strategis, di daerah tengah kota. Banyak yang datang... yah serupa dengan kedai-kedai mie sejenis yang laris manis. Tempatnya juga luas, interiornya bagus, cuma.... tempatnya nggak no smoking

Memang sih, yang makan disitu nggak ada yang merokok, Cuma aku sempet nangkap satu orang yang merokok dekat pintu keluar. Bukan pintu keluar juga sih, karena sebenarnya tempatnya nggak punya pintu. Itu seperti toko di ruko biasa. Pintunya pakai rolling, jadi langsung terekspos ke udara luar tanpa ada pintu yang melindungi dari dunia luar.

Aku dari awal sudah merasa kurang yakin bukan tanpa sebab. Sebelum makan Mie Nelongso ini, aku sudah pernah nyobain dua merk mi pedas lain yang berbeda... dan rasanya seragam. Hal yang sama terulang lagi.
Seperti biasa, mi-mi jenis ini pedasnya punya level. Rasanya sih... ya begitulah. Rasanya sama dengan mi-mi pedas lain merk. Kalau saja nggak ada pedesnya, entah bagaimana rasa aslinya...

Maafkan nggak kefoto semuanya. Seharusnya ada dua buah pangsit yang nggak kefoto.

Sama kaya mie lainnya sih. Ada daun bawang, bawang goreng, ayam bubuk...



Dan yang bikin saya agak kecewa adalah makanan pendampingnya (atau lauk kali ya?). Kalau mie lain dikasih telur, daging ala-ala ham atau lauk lainnya, yang ini cuma dikasih empat buah pangsit yang terdiri dari dua macam bentuk. Pikir saya, ini mie kan sudah berminyak, ya... coba kalau dikasih lauk yang lain, jadi nggak berasa banget keringnya. Untung saja (untung!) ternyata dua diantara pangsit itu bukan benar-benar pangsit. Ternyata mereka itu semacam nugget ayam yang bentuknya kaya pangsit. Coba kalau bentuknya benar-benar seperti nugget ya, biar visualnya berasa lebih rame gitu...



Dari semua elemen, jujur hanya nugget ini yang kusuka
Untuk info, level empat itu udah puedes loh. Aku aja yang pecinta pedas lama banget habisnya. Anggep aja tiga puluh menit (hanya perkiraan) baru habis. Aku level empat ikut adekku aja, dia kan sudah pernah kesitu. Waktu aku tanya sebelumnya dia makan level berapa, katanya no level alias nggak pedes. Dzieng! Aku merasa surprised. Ternyata... Tadinya aku mau level dua aja. Aku kira waktu itu dia pesen level empat juga.

Untuk minumannya, saya sengaja nggak beli karena sudah bawa minum sendiri. Sudah kebiasaan dan untuk menghemat juga :P

Satu hal yang pasti disukai orang adalah adanya wi-fi. Memang sekarang hampir di tiap tempat makan ada wi-finya. Warung kopi saja ada kok...




Jumat, 23 September 2016

Jual Kaos 3D Wilayah Gresik, Jawa Timur

Ready

Lebar dada 52, tinggi 71, tidak melar, bahan lentur tidak berbulu, wangi buah, kemasan unik
Beli min. 3 kaos diskon @Rp 5000, boleh campur model dan ukuran

Ukuran XL

#kaos #kaos3d #tshirt #kaosmurah

Jual Kaos 3D Wilayah Gresik, Jawa Timur

Boleh ya blog pribadi dibuat lapak jualan.... :D

Dijamin nggak nipu soalnya saya pakai blog pribadi, bukan blog abal-abal

Ready

Lebar dada 44, tinggi 65, panjang lengan 18, lebar lengan 15, lebar kerah 13, tidak melar, bahan lentur tidak berbulu, wangi buah, kemasan unik

Beli min. 3 kaos diskon @Rp 5000, boleh campur model dan ukuran

Ukuran ML (all size), ukuran di antara M dan L

Untuk koleksi lebih lengkap bisa lihat di ig @kaos3d.murah :)

Info sms/wa 081553842790 atau komen di bawah


Happy shopping! 😉

Jumat, 03 Juni 2016

Ketika "Insya Allah / In Shaa Allah" Diragukan Manusia

Sumber

Kalau di Indonesia sih biasanya disebut Insya Allah, sedangkan Inggrisnya In Shaa Allah.

Tadi siang dapet telepon dari seseorang minta dikirim suatu barang. Aku bilang kalau barangnya bisa diterima mulai Senin besok. Orangnya meyakinkan lagi, "Senin, ya?"

"Iya... Insya Allah."

Aku nggak pernah dapat 'masalah' gara-gara bilang Insya Allah. Tapi tadi lain lagi.

"Lho, kok Insya Allah? Yang pasti dong..."

Gubrakk! Nih orang kenapa ya? Dia ngomong gitu sambil ketawa kecil agak ngeremehin gitu. Mungkin nggak habis pikir sama aku yang dikiranya tidak meyakinkan. Padahal...

Sumber

Insya Allah artinya "If Allah wills" atau bahasa Indonesianya "Jika Allah berkehendak."

Jika dikira-kira oleh pemikiranku (perhitungan manusia), Senin adalah waktu yang pasti untuk orang tersebut menerima barangnya. Tentu saja aku yakin, karena memang biasanya baru bisa diterima sekitar dua hari kerja setelah pendaftaran (Minggu tidak dihitung). Kalau daftarnya Jumat ya, diterimanya Senin.

Tapiiii.... yang namanya manusia kan pasti ada human error, tapi untuk Allah tidak. Allah sudah punya rencana. Entah Ia setuju dengan pendapatku atau tidak, wallahualam. Bisa aja ternyata besok ada masalah, hingga barangnya baru bisa diterima Selasa, dan banyak alasan yang mungkin saja tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Aku sih berusaha untuk positive thinking ya. Mungkin orang itu non muslim, jadi nggak tahu sebenarnya Insya Allah itu artinya apa, walau ada rasa 'tersinggung' juga sih. Tersinggung karena sudah jelas aku bawa nama Tuhan, tapi orangnya kok terkesan 'meremehkan' gitu. Yang namanya bawa-bawa nama Tuhan ya suci dan tinggi.

Dan lebih parah lagi kalau ternyata beliau muslim. Tapi dari namanya sih, sepertinya muslim (sepertinyaaa). Kalau gitu jelas lebih tidak bisa ditolerir. Harusnya seorang muslim tahu Insya Allah itu artinya apa. 

Secara garis besar, Insya Allah diucapkan ketika akan 'berjanji', istilahnya begitu. Pernah dengar kan kalimat "Manusia bisa merencanakan namun Tuhanlah yang berkehendak"? Ini diucapkan untuk jaga-jaga, barangkali apa yang kita rencanakan tidak bisa dilaksanakan di waktu yang sudah kita tentukan. "Insya Allah" juga berarti 99,9999 % akurat, anggap saja begitu (menurut perhitungan manusia lho ya, bukan rencana Tuhan).

Contoh sederhana:
A: Nanti jadi kan kerja kelompok di rumahku?
B: Insya Allah jadi.
Eh, nggak tahunya waktu B otw ke rumah A, B mengalami kecelakaan hingga masuk rumah sakit. Itulah, manusia memang hanya bisa merencanakan.

Memang sih aku dulu (sebelum tobat, wkwkw), kurang suka jika ada yang bilang "Insya Allah". Kesannya mengentengkan rencana yang kita buat gitu. Bisa jadi kan dia bilang begitu untuk alasan mangkir? Kalau alasannya seperti ini sih nggak terpuji ya, jangan dicontoh. Namun, karena sudah perintah agama, mau bagaimana lagi. Sekarang sih sudah terbiasa. Di Alquran pun sudah tertulis pemakaian "Insya Allah".

Aku menulis bukan untuk menjelek-jelekkan pihak tertentu... bisa jadi memang kurang tahu fungsi dan keutamaan "Insya Allah", jadi aku menulis justru untuk mengingatkan sesama. Bila ada yang tersinggung saya mohon maaf yang sebesar-besarnya :)

Berbagi itu indah, mengingatkan juga indah.

Senin, 23 Mei 2016

Salatnya Perempuan adalah di Rumah

Baru tergelitik untuk mengangkat tema ini. Dari kecil sudah dikasih tahu bahwa salat berjamaah/di masjid lebih utama dari salat sendirian karena pahalanya lebih banyak dua puluh tujuh derajat.

Nah, mumpung beberapa bulan lalu dapat kesempatan untuk sering berjamaah di masjid, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jadi ceritanya, karena suatu kegiatan, aku tinggal di luar kota selama sebulan. Ini kota yang masih dalam satu provinsi, tapi aku belum pernah kesana dan jaraknya jauh dari tempat aku tinggal. Ini pertama kalinya aku tinggal di kota yang sejauh itu.

Sebenarnya memang sengaja ngincar kos yang dekat masjid, dan alhamdulillah dapat. Masjidnya deket banget, istilahnya tinggal meloncat dari pegar kos udah sampai masjid. Tambah lagi, itu gang sempit yang memang suasana ketetanggaan (ada nggak ya kosakata ini?) memang terasa sekali.

Gara-gara ini, aku bangun pagi banget karena nggak mau ketinggalan salat subuh berjamaah. Sebisa mungkin kalau udah di kos aku selalu jamaah ke masjid.

Hingga, suatu hari, aku dengar berita tak mengenakkan tentang diriku. Tentang diriku.

Kontan saja aku merasa difitnah. Nggak usah lah ya diceritakan detailnya. Aku tidak merasa melakukan tapi dibilang begitu. Atau memang aku melakukan tapi orang menafsirkannya lain. Yang jelas aku tidak bermaksud melakukan apapun yang tidak menyenangkan orang lain. Atau mereka saja yang lebay dan kurang kerjaan, secara mereka ibu-ibu? Namun mereka ibu-ibu yang sudah setengah baya, kok ya sempet-sempetnya ngurusin hidup orang dan bikin kesimpulan yang nggak-nggak tentang orang lain?

Difitnah begitu jelas aku nangis. Aku dapat berita itu dari temanku yang kebetulan tau, jadi bukan dari orang-orang itu langsung. Sempet nggak pingin ke masjid lagi. Udah punya masalah, ditambahi masalah begini pula.

Tapi aku emosional cuma di waktu itu aja. Setelahnya, aku sudah merasa tidak pernah terjadi apa-apa. Tetap ke masjid. Hanya, lebih berhati-hati saja dalam bertindak. Orang-orang disitu juga kelihatan biasa-biasa saja. Pinter banget ya nutupin hati busuk?

Hingga beberapa bulan setelah itu, aku baru tahu kalau perempuan lebih baik salat di rumah saja. Itu karena perempuan rawan fitnah, jadi untuk menghindari fitnah. Aku sempat berpikir, fitnah disini adalah ketika laki-laki punya pikiran tertentu terhadap perempuan, jadi perempuan kalau ke masjid usahakan jangan mencolok seperti pakai parfum. Ternyata tidak hanya sekedar itu. Menilik ke belakang, fitnah yang dimaksud mungkin juga termasuk pengalamanku sendiri. Fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan ke perempuan lain. Mulai saat ini hati-hati saja. Sesekali boleh ke masjid, namun jika teratur seperti diriku dulu harus diwasapadai. Apalagi masjidnya ada di tengah-tengah pemukiman seperti yang sering aku singgahi dulu.